SETIAP Agustus kita merayakan kemerdekaan dengan bendera, upacara, lagu kebangsaan, dan berbagai perayaan. Kita mengingat bahwa bangsa ini pernah keluar dari penjajahan dan memperoleh hak untuk menentukan nasib sendiri.
Namun, ada pertanyaan yang mungkin lebih mengganggu: apakah manusia Indonesia hari ini benar-benar merdeka dalam menentukan dirinya sendiri?
Kita hidup pada zaman ketika pilihan tampak semakin banyak. Kita bebas memilih tontonan, berita, tokoh, produk, bahkan pendapat. Hanya dengan menggeser layar, ribuan informasi tersedia di hadapan mata. Tetapi di balik kebebasan itu bekerja sistem yang jauh lebih halus daripada paksaan.
Algoritma mempelajari apa yang kita lihat, sukai, cari, komentari, bahkan berapa lama kita berhenti pada sebuah video. Dari sana, sistem memprediksi apa yang kemungkinan besar akan membuat kita bertahan lebih lama di depan layar. Kita merasa sedang memilih, padahal pilihan berikutnya telah dipengaruhi oleh apa yang disodorkan kepada kita.
Di sinilah makna kemerdekaan perlu dibicarakan kembali. Bebas memilih tidak selalu berarti bebas dalam memilih.
Seseorang mungkin merasa bebas menentukan apa yang ingin ditonton. Tetapi jika selama berjam-jam ia terus menerima konten yang memperkuat kemarahannya, ketakutannya, kesukaannya, atau prasangkanya, lama-kelamaan cara pandangnya dapat dibentuk oleh lingkungan digital yang tidak pernah ia pilih secara sadar.
Fenomena filter bubble dan echo chamber memperlihatkan bagaimana pengguna dapat semakin sering berhadapan dengan informasi yang sejalan dengan preferensi sebelumnya. Dalam konteks keagamaan, perkembangan platform digital juga ikut mengubah cara masyarakat menemukan pengetahuan dan mengenali otoritas. Popularitas seorang pembuat konten dapat membuatnya lebih terlihat daripada orang yang memiliki proses keilmuan panjang tetapi tidak memiliki kemampuan produksi konten yang sama.
Masalahnya bukan teknologi. Masalah yang lebih mendasar adalah siapa yang menguasai perhatian manusia.
Sebab perhatian adalah salah satu sumber daya paling berharga pada zaman ini. Ketika perhatian manusia dapat dipertahankan selama mungkin, ia dapat diubah menjadi data, iklan, transaksi, popularitas, dan keuntungan. Karena itu, pertarungan terbesar manusia modern mungkin bukan lagi sekadar perebutan tanah atau wilayah, melainkan perebutan perhatian.
Dalam perspektif Islam, persoalan ini memiliki kedalaman spiritual. Al-Qur’an mengingatkan tentang manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Dalam QS Al-Jatsiyah ayat 23, Allah menggambarkan manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesuatu yang mengendalikan dirinya.
Ayat tersebut tentu tidak berbicara secara langsung tentang algoritma. Tetapi prinsipnya dapat menjadi pintu untuk membaca persoalan modern: ketika keputusan manusia terus-menerus dikendalikan oleh dorongan yang tidak ia kendalikan, di mana letak kemerdekaannya?
Dahulu orang berbicara tentang manusia yang menjadi budak harta. Nabi Muhammad SAW bahkan memperingatkan tentang “hamba dinar dan dirham”—orang yang orientasi hidupnya begitu tunduk kepada harta sehingga kebahagiaan dan kekecewaannya bergantung pada apa yang diperolehnya.
Hari ini bentuknya dapat berubah.
Seseorang mungkin tidak menjadi budak dinar dan dirham secara harfiah, tetapi menjadi budak likes, views, jumlah pengikut, popularitas, engagement, bahkan citra kesalehan di ruang digital.
Ia mengunggah sesuatu bukan karena itu benar-benar penting, melainkan karena berpotensi viral. Ia memilih kata bukan berdasarkan kebenaran, tetapi berdasarkan kemungkinan disukai. Ia mengukur keberhasilan bukan dari manfaat, melainkan dari angka yang muncul di layar.
Pada titik itu, popularitas dapat berubah menjadi tuhan kecil yang menentukan perilaku manusia.
Karena itu, tauhid memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas daripada sekadar pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan. Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah. Manusia tidak seharusnya menyerahkan pusat orientasi hidupnya kepada uang, kekuasaan, tokoh, pasar, popularitas, tren, maupun teknologi.
Di sinilah konsep ubudiyyah menjadi menarik. Dalam Islam, manusia memang disebut sebagai hamba Allah. Sekilas, menjadi “hamba” mungkin tampak berlawanan dengan gagasan kemerdekaan. Padahal justru di situlah paradoksnya.
Menjadi hamba Allah membebaskan manusia dari menjadi hamba selain-Nya.
Ketundukan kepada Allah seharusnya membuat manusia tidak mudah tunduk kepada tekanan sosial, hawa nafsu, popularitas, atau penilaian manusia. Ia dapat menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi. Ia dapat menggunakan media sosial tanpa menjadikan media sosial sebagai penentu harga dirinya.
Maka persoalan sebenarnya bukan apakah kita menggunakan media sosial atau tidak. Bukan pula apakah kita boleh menggunakan AI atau teknologi digital.
Pertanyaannya adalah: siapa yang memegang kendali?
Apakah manusia menggunakan teknologi sebagai alat, atau teknologi perlahan menentukan bagaimana manusia berpikir, merasa, menghabiskan waktu, dan mengambil keputusan?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting di era kecerdasan buatan. AI dapat membantu manusia mencari informasi, menulis, menerjemahkan, menganalisis, bahkan menghasilkan gagasan. Tetapi jika manusia mulai menyerahkan seluruh proses berpikirnya kepada mesin, kemudahan dapat berubah menjadi ketergantungan.
Manusia yang tidak lagi terbiasa berpikir mungkin memiliki akses terhadap informasi yang luar biasa banyak, tetapi kehilangan kemampuan untuk menilai mana yang benar, penting, dan bermakna.
Karena itu, kemerdekaan intelektual menjadi bagian penting dari kemerdekaan manusia. Al-Qur’an berkali-kali mendorong manusia untuk berpikir, memperhatikan, merenungkan, dan menggunakan akalnya. Tradisi Islam tidak membangun manusia yang sekadar menerima segala sesuatu tanpa proses penilaian.
Di era banjir informasi, tabayyun menjadi semakin penting. Sebab persoalan kita bukan lagi kekurangan informasi, tetapi kelebihan informasi yang tidak semuanya benar.
Satu berita palsu dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasinya. Satu potongan video dapat membentuk persepsi sebelum konteksnya diketahui. Satu konten emosional dapat membuat seseorang membenci orang lain yang bahkan tidak dikenalnya.
Karena itu, manusia yang merdeka bukan manusia yang percaya kepada semua yang dilihatnya, melainkan manusia yang mampu berhenti sejenak dan bertanya: Benarkah ini? Dari mana sumbernya? Mengapa saya mempercayainya? Siapa yang diuntungkan jika saya mempercayainya?
Kemerdekaan juga berarti kemampuan untuk berkata tidak kepada dorongan yang terus meminta perhatian.
Tidak semua notifikasi harus dibuka. Tidak semua perdebatan harus diikuti. Tidak semua video harus ditonton sampai selesai. Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua opini harus dijawab.
Kemampuan untuk berhenti adalah bentuk kemerdekaan.
Di sinilah konsep tazkiyah menjadi relevan. Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk mengatur lingkungan luar, tetapi juga membersihkan dan mendidik jiwa. Persoalan manusia bukan sekadar berapa jam ia menggunakan telepon, tetapi mengapa ia terus kembali kepadanya.
Apakah karena kebutuhan? Kebiasaan? Kesepian? Kecemasan? Keinginan mendapat pengakuan? Atau karena ia tidak lagi mampu merasa cukup tanpa rangsangan dari luar?
Maka literasi digital dalam perspektif Islam semestinya tidak berhenti pada kemampuan membedakan berita benar dan palsu. Ia harus berkembang menjadi literasi terhadap diri sendiri: memahami hawa nafsu, mengenali kelemahan, menjaga perhatian, mengendalikan impuls, dan mengetahui kapan harus berhenti.
Sebab bisa jadi tantangan terbesar kemerdekaan generasi sekarang bukan penjajahan dalam bentuk lama, melainkan kehidupan yang secara perlahan diprogram oleh sistem yang bahkan tidak kita sadari.
Kita memilih apa yang muncul di layar. Kita memilih apa yang dibeli. Kita memilih siapa yang diikuti. Kita memilih siapa yang disukai. Tetapi pilihan-pilihan itu tidak lahir di ruang kosong. Ada sistem yang mempelajari kita, memprediksi kita, dan kemudian menawarkan sesuatu yang kemungkinan besar membuat kita tetap berada di dalam sistem tersebut.
Karena itu, pada peringatan kemerdekaan ke-81 Indonesia, mungkin kita perlu memperluas pertanyaan tentang kemerdekaan.
Bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang bebas dari penjajahan asing. Manusia yang merdeka juga bukan hanya manusia yang bebas melakukan apa saja.
Kemerdekaan yang lebih dalam adalah kemampuan untuk tetap menjadi manusia yang menentukan arah hidupnya dengan kesadaran, akal, iman, dan tanggung jawab.
Sebab manusia dapat tinggal di negara yang merdeka tetapi diperbudak hawa nafsunya. Dapat bebas berbicara tetapi takut terhadap penilaian orang. Dapat memiliki jutaan informasi tetapi tidak mampu berpikir. Dapat memiliki ribuan pengikut tetapi kehilangan dirinya sendiri.
Dan yang paling ironis, kita bisa merasa sangat bebas justru ketika sedang diprogram.
Maka mungkin pertanyaan paling penting pada hari kemerdekaan bukan sekadar, “Sudah berapa lama Indonesia merdeka?”
Melainkan:
“Masihkah saya berdaulat atas pikiran, perhatian, waktu, dan diri saya sendiri?”
Jika jawabannya tidak, maka perjuangan kemerdekaan belum selesai. Ia hanya berpindah medan: dari medan perang menuju medan kesadaran manusia.
