JAKARTA, MAL – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (10/8/2026) dengan penguatan ke level 6.440,60 atau naik 30,95 poin (0,48 persen) dibanding penutupan pekan sebelumnya. Penguatan terjadi di tengah tren penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tercatat turun dari 120,9 pada Mei 2026 menjadi 117,8 pada Juni 2026, sementara sejumlah proyeksi pasar memperkirakan IKK Juli berada di kisaran 116.
IHSG sebelumnya ditutup di level 6.409,65 pada Jumat (7/8/2026), setelah menguat 2,78 persen sepanjang pekan pertama Agustus. Level tersebut menjadi posisi tertinggi indeks dalam sekitar tiga bulan terakhir.
Penguatan pasar saham didorong oleh meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve Amerika Serikat akan mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar setelah data ketenagakerjaan AS dinilai lebih lemah dari perkiraan. Sentimen tersebut meningkatkan minat terhadap aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang.
Di dalam negeri, pasar juga memperoleh dukungan dari pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 yang mencapai 5,29 persen secara tahunan, lebih tinggi dibanding perkiraan konsensus sekitar 5,10 persen. Inflasi Juli 2026 juga tercatat sebesar 2,88 persen.
Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, mengatakan capaian ekonomi tersebut memberikan sinyal positif bagi pasar.
“Data tersebut memperkuat keyakinan bahwa ekonomi domestik masih cukup resilien di tengah perlambatan global,” kata Nafan Aji.
Sementara itu, Bank Indonesia mencatat IKK Juni 2026 berada di level 117,8. Meski menurun dibanding bulan sebelumnya, angka tersebut masih berada di atas ambang optimistis 100.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan keyakinan konsumen masih terjaga.
“Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juni 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga,” ujar Ramdan.
Pada Juni 2026, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat sebesar 109,2, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) berada pada level 126,4. Kedua indikator tersebut masih menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Meski demikian, pasar mencermati kemungkinan penurunan lanjutan IKK pada Juli. Angka sekitar 116 yang beredar saat ini masih berupa proyeksi dan belum menjadi data resmi Bank Indonesia.
Di sisi lain, investor asing mulai kembali mencatat pembelian bersih di pasar saham Indonesia. Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), investor asing membukukan net foreign buy sekitar Rp917 miliar. Sebelumnya, sepanjang pekan terakhir Juli 2026, investor asing mencatat pembelian bersih sekitar Rp7,1 triliun.
Arus dana asing tersebut dipandang sebagai sinyal awal membaiknya sentimen terhadap aset Indonesia, meskipun belum cukup untuk memastikan terjadinya pemulihan jangka panjang.
Sejumlah saham yang masuk dalam rekomendasi berbagai sekuritas pada awal pekan ini antara lain PSAB, ARCI, BRMS, EMAS, RAJA, MLPL, TLKM, EXCL, BBRI, TPIA, ITMG, MDKA, BREN, DSNG, ELSA, AADI, HMSP, BULL, BUMI, SRTG, BMTR, dan DSSA.
Nafan juga menilai penguatan sektor komoditas turut menopang pergerakan indeks.
“Kenaikan sektor ini turut mengangkat indeks,” katanya saat menjelaskan dampak kenaikan harga komoditas terhadap pasar saham.
Pelaku pasar kini mencermati kemampuan IHSG bertahan di atas level psikologis 6.400. Sejumlah riset sekuritas menempatkan area tersebut sebagai level penopang penting setelah berhasil ditembus pada perdagangan pekan lalu.
Meski sentimen pasar cenderung positif, investor masih menghadapi sejumlah risiko, antara lain potensi aksi ambil untung setelah reli IHSG, perkembangan kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah, serta kemungkinan perubahan arus modal asing.
Selain itu, proyeksi penurunan IKK juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi konsumsi rumah tangga dan prospek emiten yang bergantung pada daya beli masyarakat.
