MAL – Kehadiran Starlink, layanan internet satelit orbit rendah bumi (LEO) milik SpaceX yang didirikan Elon Musk, memunculkan pertanyaan besar di industri telekomunikasi Indonesia. Apakah layanan berbasis satelit ini akan menjadi ancaman serius bagi operator seluler seperti Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata, atau justru menjadi mitra untuk memperluas akses internet di wilayah yang selama ini sulit dijangkau?

Sejak resmi beroperasi di Indonesia pada 2024, Starlink menawarkan model konektivitas yang berbeda dari operator seluler konvensional. Jika operator mengandalkan BTS, spektrum frekuensi, menara telekomunikasi, serta jaringan fiber optik, Starlink menghubungkan pelanggan langsung ke satelit melalui terminal khusus yang dipasang di lokasi pengguna.

Perbedaan inilah yang membuat dampaknya terhadap industri telekomunikasi tidak sesederhana menggantikan kartu SIM atau jaringan 4G dan 5G yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Starlink Masuk Indonesia dengan Izin Resmi

Starlink Services Indonesia memperoleh izin penyelenggaraan layanan jaringan tetap tertutup melalui media VSAT pada 6 April 2024. Selanjutnya, pada 21 April 2024, perusahaan juga memperoleh izin sebagai penyelenggara layanan akses internet atau Internet Service Provider (ISP).

Dengan perizinan tersebut, Starlink tidak hanya hadir sebagai layanan global dari luar negeri, tetapi telah memiliki entitas dan izin operasional resmi di Indonesia.

Pada Mei 2024, layanan internet ritel Starlink mulai dipasarkan kepada masyarakat Indonesia setelah memperoleh izin yang diperlukan.

Hingga 7 Agustus 2026, situs resmi Starlink Indonesia mencantumkan beberapa pilihan layanan, antara lain:

  • Perangkat keras mulai Rp4.750.000 di area tertentu.

  • Paket Residensial Lite mulai Rp510.000 per bulan.

  • Paket Residensial mulai Rp800.000 per bulan.

  • Paket Jelajah 100 GB mulai Rp900.000 per bulan.

  • Paket Jelajah Tanpa Batas mulai Rp1.750.000 per bulan.

Starlink juga mencantumkan kecepatan hingga 200 Mbps untuk paket Residensial Lite dan hingga 350 Mbps atau lebih untuk paket Residensial, meski perusahaan menegaskan kecepatan tersebut tidak dijamin dan dapat menurun ketika jaringan padat.

Mengapa Starlink Tidak Langsung Menggantikan Operator Seluler?

Meski menawarkan internet berkecepatan tinggi, Starlink memiliki karakteristik berbeda dengan layanan seluler.

Pengguna harus membeli perangkat terminal khusus, menyediakan sumber listrik, dan memasang perangkat di lokasi yang memiliki pandangan terbuka ke langit.

Sementara itu, pelanggan operator seluler cukup menggunakan ponsel yang sudah dimiliki dan langsung terhubung ke jaringan.

Karena itu, dampak langsung terhadap pelanggan seluler ritel diperkirakan masih terbatas.

Pengamat telekomunikasi sekaligus dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Agung Harsoyo, menilai biaya perangkat dan langganan Starlink masih menjadi faktor pembatas.

“Dari informasi harga perangkat dan biaya bulanan, Starlink belum menjadi pesaing industri selular maupun FTTH. Sebagian besar pelanggan selular/FTTH belum akan beralih ke Starlink,” katanya.

Hingga kini juga belum terdapat data publik yang menunjukkan perpindahan massal pelanggan Telkomsel, Indosat, XL Axiata, maupun operator lainnya ke Starlink.

Segmen yang Paling Rentan Tertekan

Jika ada sektor yang paling merasakan tekanan dari kehadiran Starlink, maka segmen tersebut adalah internet tetap atau fixed broadband.

Layanan satelit memungkinkan rumah tangga, kantor, sekolah, fasilitas kesehatan, hotel, hingga perusahaan yang berada di wilayah tanpa fiber optik memperoleh akses internet tanpa perlu menunggu pembangunan jaringan terestrial.

Wilayah kepulauan, daerah pegunungan, kawasan pertambangan, perkebunan, perikanan, hingga proyek konstruksi terpencil menjadi pasar yang paling potensial.

Di daerah-daerah seperti itu, biaya pembangunan menara dan jaringan fiber optik sering kali jauh lebih mahal dibandingkan penggunaan koneksi satelit.

Akibatnya, operator telekomunikasi berpotensi menghadapi tekanan pada pendapatan layanan broadband tertentu, terutama di lokasi yang selama ini memiliki pilihan layanan internet yang terbatas.

Dari Pesaing Menjadi Mitra Infrastruktur

Menariknya, hubungan Starlink dengan operator telekomunikasi nasional tidak sepenuhnya bersifat kompetitif.

Telkomsat telah menjalin kerja sama dengan Starlink sejak 2021 dan mulai menggelar layanan backhaul pada 2022.

Backhaul merupakan koneksi yang menghubungkan BTS ke jaringan inti atau internet.

Dengan model ini, Starlink tidak menggantikan BTS milik operator, melainkan menjadi jalur penghubung data dari BTS menuju jaringan utama.

Pada 15 Mei 2024, Telkomsat dan Starlink menandatangani kerja sama layanan segmen enterprise untuk berbagai wilayah Indonesia.

Direktur Utama Telkomsat, Lukman Hakim Abd. Rauf, mengatakan kerja sama tersebut memperkuat posisi perusahaan dalam penyediaan layanan satelit.

“Momentum kerja sama ini semakin mengukuhkan posisi Telkomsat sebagai mitra strategis pertama dan utama Starlink di Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menyatakan bahwa infrastruktur backhaul yang digunakan mampu mendukung konektivitas satelit dengan tetap menjaga aspek keamanan data nasional.

Senada dengan itu, Senior Vice President Corporate dan Communication Telkom, Ahmad Reza, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat pemerataan konektivitas, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

“Bersama Starlink, semakin menunjukkan komitmennya untuk terus berupaya mendukung program pemerintah untuk percepatan pemerataan konektivitas di seluruh wilayah Indonesia, khususnya untuk wilayah 3T,” katanya.

Kekhawatiran Industri Telekomunikasi Nasional

Meski peluang kolaborasi terbuka, sejumlah pelaku industri tetap melihat Starlink sebagai tambahan risiko kompetitif.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Marwan O. Baasir, menyebut bertambahnya pemain di pasar akan meningkatkan persaingan.

“Starlink itu sekarang menjadi risiko, karena kompetisinya bertambah,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa juga muncul di DPR RI yang menyoroti potensi dampak terhadap perusahaan telekomunikasi nasional yang telah menginvestasikan dana besar untuk pembangunan BTS, menara telekomunikasi, dan jaringan fiber optik.

Operator lokal selama ini menanggung berbagai biaya investasi dan kewajiban regulasi yang tidak kecil. Karena itu, muncul dorongan agar pemerintah memastikan terciptanya kesetaraan kompetisi antara penyedia layanan satelit dan operator telekomunikasi nasional.

Ancaman Masa Depan Bernama Direct-to-Device

Perdebatan mengenai Starlink tidak hanya berkaitan dengan layanan yang tersedia saat ini, tetapi juga perkembangan teknologi satelit di masa depan.

Salah satu yang paling sering dibahas adalah direct-to-device atau direct-to-cell, yaitu teknologi yang memungkinkan satelit terhubung langsung ke ponsel tanpa perangkat terminal khusus.

Jika teknologi tersebut mencapai skala komersial yang luas, dampaknya terhadap operator seluler berpotensi jauh lebih besar dibandingkan model layanan Starlink yang saat ini digunakan.

Namun hingga 7 Agustus 2026, layanan yang dipasarkan Starlink di Indonesia masih berbasis terminal satelit khusus dan belum dapat disamakan dengan layanan seluler konvensional.

Pengamat telekomunikasi dari Indotelko Forum, Doni Ismanto Darwin, mengingatkan pentingnya regulasi yang seimbang.

“Namun perlu diingat, jika Starlink dibiarkan saja tanpa diberikan regulasi dari pemerintah, maka ia bisa menjadi pemain besar mengalahkan operator seluler dan fiber optic di Indonesia saat ini,” katanya.

Belum Ada Bukti Perpindahan Massal Pelanggan

Meski diskusi mengenai ancaman Starlink terus berkembang, data yang tersedia hingga saat ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa layanan satelit tersebut telah menyebabkan perpindahan massal pelanggan operator seluler Indonesia.

Belum ada angka resmi yang menunjukkan dampak langsung terhadap jumlah pelanggan, pendapatan, tingkat perpindahan pelanggan (churn), maupun pendapatan rata-rata per pelanggan (ARPU) Telkomsel, Indosat, XL Axiata, dan operator lainnya.

Fakta yang tersedia justru menunjukkan bahwa Starlink saat ini lebih banyak berperan sebagai penyedia konektivitas alternatif untuk wilayah terpencil, pelanggan korporasi, fasilitas publik, serta kebutuhan backhaul jaringan.

Karena itu, ancaman Starlink terhadap operator seluler nasional masih lebih tepat dipahami sebagai potensi kompetisi jangka menengah dan panjang dibandingkan gangguan langsung terhadap bisnis seluler yang sudah berjalan saat ini. ***