TEHERAN, MAL – Militer Iran membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim bahwa Teheran meminta Washington membatalkan rencana serangan sebagai bagian dari kesepakatan yang sedang dibahas.

Menurut laporan kantor berita Mehr News, Ahad (2/8), sumber di lingkungan militer Iran menyebut pernyataan Trump sebagai “kebohongan baru” yang dinilai tidak mencerminkan fakta di lapangan.

Sumber tersebut juga menuding pernyataan Trump merupakan upaya untuk memberikan tekanan politik kepada negara-negara di kawasan Teluk Persia. Militer Iran menegaskan bahwa angkatan bersenjatanya tetap berada pada tingkat kesiagaan tertinggi dan siap memberikan respons apabila terjadi serangan terhadap wilayahnya.

Sebelumnya, Trump melalui akun Truth Social menyatakan dirinya memutuskan membatalkan serangan terhadap Iran setelah, menurut klaimnya, Teheran bersama sejumlah negara di Timur Tengah meminta agar aksi militer tersebut dihentikan.

“Kami telah diminta oleh Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya untuk membatalkan setiap serangan karena sebuah kesepakatan telah dicapai,” tulis Trump.

Di sisi lain, pejabat Iran justru menyampaikan peringatan keras kepada Washington. Anggota Parlemen Iran sekaligus anggota Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional, Ebrahim Rezaei, menyatakan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi Iran akan dibalas dengan tindakan yang berdampak luas di kawasan Timur Tengah.

Ia memperingatkan bahwa konsekuensi dari serangan tersebut akan sangat besar dan mendesak Amerika Serikat agar tidak mengambil langkah yang dinilainya gegabah.

Rezaei juga menilai pemerintahan AS berada dalam keyakinan keliru bahwa serangan singkat dapat memaksa Iran menyerah. Menurutnya, anggapan tersebut hanyalah ilusi yang dipengaruhi oleh pandangan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Pernyataan yang saling bertolak belakang dari Washington dan Teheran kembali memperlihatkan tingginya tensi hubungan kedua negara, di tengah kekhawatiran komunitas internasional terhadap kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.