DI SEBUAH masjid, seorang anak berlari kecil di serambi. Sesekali ia tertawa, lalu mendekati ayahnya yang sedang bersiap menunaikan salat. Belum sempat sang ayah mengajaknya duduk, terdengar teguran dari salah seorang jamaah, “Jangan ribut! Ini masjid.” Anak itu pun terdiam. Wajahnya berubah murung. Beberapa menit kemudian, ia memilih keluar dari masjid dan bermain di halaman.

Peristiwa seperti ini bukan sesuatu yang asing. Banyak orang tua akhirnya enggan membawa anak-anak ke masjid karena khawatir mereka dimarahi ketika berisik atau belum mampu menjaga ketenangan. Padahal, belajar mencintai masjid adalah proses yang tidak mungkin terjadi jika anak-anak tidak pernah diberi kesempatan hadir di dalamnya.

Masjid memang tempat ibadah yang harus dijaga kesuciannya. Namun, menjaga kekhusyukan tidak selalu berarti menjadikan masjid sunyi dari kehidupan. Ada perbedaan antara kegaduhan yang mengganggu dengan keceriaan anak-anak yang sedang belajar mengenal rumah Allah. Jika setiap suara kecil dianggap sebagai gangguan, maka masjid perlahan kehilangan generasi yang akan memakmurkannya di masa depan.

Rasulullah SAW justru memberikan teladan yang sangat indah. Beliau pernah memanjangkan sujud ketika cucunya menaiki punggung beliau saat salat. Dalam kesempatan lain, beliau tetap melanjutkan salat sambil menggendong cucunya. Bahkan, ketika mendengar tangisan bayi, Rasulullah mempercepat salat agar ibunya tidak merasa cemas. Semua itu menunjukkan bahwa keberadaan anak-anak di masjid bukanlah sesuatu yang harus disingkirkan, melainkan bagian dari kehidupan umat.

Sayangnya, di sebagian tempat, ukuran ketertiban terkadang lebih diutamakan daripada proses pendidikan. Anak-anak dituntut bersikap seperti orang dewasa, padahal mereka masih berada pada fase belajar. Mereka belum memahami sepenuhnya adab di masjid. Menegur tentu boleh, tetapi dengan kelembutan, bukan dengan bentakan yang meninggalkan luka dan rasa takut.

Tidak sedikit orang dewasa hari ini yang memiliki kenangan kurang menyenangkan tentang masjid. Ada yang pernah dimarahi karena berlari, diminta keluar karena tertawa, atau dipermalukan di depan jamaah. Luka-luka kecil itu mungkin tampak sepele bagi orang dewasa, tetapi bisa menjadi alasan mengapa seseorang merasa jauh dari masjid ketika beranjak dewasa.

Tentu, ini bukan berarti anak-anak dibiarkan bebas berlarian tanpa aturan. Orang tua tetap memikul tanggung jawab untuk mendampingi, mengajarkan adab, dan memastikan anak tidak mengganggu jamaah lain. Pengurus masjid juga dapat membantu dengan menyediakan ruang yang ramah keluarga, menyelenggarakan kegiatan untuk anak-anak, atau sesekali melibatkan mereka dalam aktivitas sederhana di masjid. Pendidikan selalu lebih efektif daripada larangan.

Masjid yang hidup bukan hanya diukur dari lurusnya saf salat atau indahnya bangunan. Masjid yang hidup adalah masjid yang dipenuhi berbagai generasi: para lansia yang tekun beribadah, orang tua yang mendampingi anaknya, remaja yang belajar mengabdi, dan anak-anak yang mulai mengenal Tuhannya. Di sanalah estafet kecintaan kepada masjid berlangsung secara alami.

Suara tawa anak-anak hari ini mungkin sesekali memecah kesunyian. Namun, dari suara-suara itulah kelak akan lahir imam, khatib, guru mengaji, pengurus masjid, dan pemimpin umat. Masjid yang hanya nyaman bagi orang dewasa mungkin terasa tenang untuk sementara, tetapi berisiko sepi di masa depan.

Karena itu, jika suatu hari terdengar suara langkah kecil, tawa yang sesekali pecah, atau pertanyaan polos dari seorang anak di dalam masjid, jangan buru-buru menganggapnya sebagai gangguan. Bisa jadi, itulah tanda bahwa masjid sedang hidup. Sebab rumah Allah bukan hanya tempat orang dewasa bersujud, tetapi juga tempat anak-anak belajar mencintai agama sejak langkah pertama mereka.