Setiap sore, adegan yang sama berulang di banyak rumah.
Seorang ayah memarahi anaknya karena dianggap terlalu banyak bertanya. Seorang ibu kesal karena anak tidak langsung menuruti perintah. Guru mengeluhkan murid yang sulit diatur. Di sisi lain, anak merasa tidak didengar, bahkan menganggap orang dewasa tidak memahami dirinya.
Yang bertabrakan sebenarnya bukan hanya watak. Yang bertabrakan adalah dua “kurikulum kehidupan.”
Orang tua dan sebagian guru hari ini dibesarkan oleh sistem pendidikan yang berbeda dengan anak-anak yang mereka didik.
Generasi yang kini menjadi orang tua tumbuh pada masa ketika sekolah menekankan kepatuhan, disiplin, hafalan, dan penghormatan kepada otoritas. Guru adalah sumber utama ilmu. Orang tua hampir tidak pernah ditanya pendapatnya. Kalimat “pokoknya ikut saja” dianggap cukup untuk mengakhiri perdebatan.
Sementara itu, anak-anak sekarang belajar dalam paradigma yang semakin menekankan diskusi, eksplorasi, berpikir kritis, kolaborasi, dan keberanian mengemukakan pendapat. Perjalanan kurikulum Indonesia sendiri menunjukkan pergeseran dari pembelajaran yang berpusat pada guru menuju pembelajaran yang semakin berpusat pada peserta didik, dengan penekanan pada kompetensi, fleksibilitas, dan peran guru sebagai fasilitator.
Masalah muncul ketika dua cara pandang ini bertemu di ruang keluarga.
Di sekolah, anak diminta bertanya.
Di rumah, ia diminta diam.
Di kelas, ia diajak mengemukakan pendapat.
Di meja makan, ia dianggap membantah.
Di sekolah, guru mendorong kreativitas.
Di rumah, kreativitas kadang dianggap melawan kebiasaan.
Akibatnya, anak menerima dua pesan yang saling bertentangan.
Tidak sedikit orang tua kemudian menyimpulkan bahwa anak zaman sekarang semakin tidak sopan. Sebaliknya, anak merasa orang tuanya terlalu keras dan tidak mau mendengar.
Padahal keduanya sama-sama menjadi produk zamannya.
Banyak orang tua tidak pernah diajarkan bagaimana mendengarkan anak. Mereka hanya diajarkan bagaimana membuat anak patuh. Itu bukan kesalahan pribadi mereka, melainkan warisan pola pendidikan yang berlaku saat mereka tumbuh.
Sebaliknya, anak-anak hari ini juga menghadapi tantangan baru. Mereka hidup di era informasi tanpa batas. Mereka lebih cepat memperoleh pengetahuan, tetapi belum tentu memiliki kematangan emosional yang sebanding. Karena itu, kebebasan tanpa bimbingan juga dapat berubah menjadi kebingungan.
Di sinilah letak persoalannya.
Sebagian orang tua mencoba mendidik anak abad ke-21 dengan cara abad ke-20.
Sebagian anak ingin diperlakukan sebagai individu dewasa, padahal tanggung jawabnya belum dewasa.
Keduanya sama-sama perlu belajar.
Orang tua tidak harus meninggalkan seluruh cara lama. Disiplin, tanggung jawab, adab, kerja keras, dan rasa hormat tetap merupakan nilai yang tidak lekang oleh zaman. Namun cara menyampaikannya mungkin perlu berubah.
Memerintah bisa diganti dengan berdialog.
Menghakimi bisa diganti dengan mendengar.
Mengancam bisa diganti dengan menjelaskan konsekuensi.
Sebaliknya, anak juga perlu memahami bahwa berpikir kritis bukan berarti bebas dari adab. Mengemukakan pendapat bukan berarti merendahkan orang tua. Kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab.
Dalam perspektif Islam, pendidikan sejatinya tidak pernah memilih antara otoritas atau kebebasan. Al-Qur’an menggambarkan bagaimana Luqman mendidik anaknya dengan nasihat, argumentasi, kasih sayang, sekaligus ketegasan. Ada dialog, tetapi juga ada nilai yang tidak bisa ditawar. Ada kelembutan, tetapi juga ada batasan.
Mungkin inilah yang paling dibutuhkan keluarga Indonesia hari ini.
Bukan memilih kurikulum lama atau kurikulum baru.
Melainkan menggabungkan keduanya.
Mengambil keteguhan karakter dari generasi terdahulu, lalu memadukannya dengan kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan beradaptasi yang dibutuhkan generasi masa depan.
Sebab pendidikan bukan sekadar memindahkan ilmu dari kepala guru ke kepala murid.
Pendidikan adalah menjembatani dua generasi agar dapat saling memahami, bukan saling menyalahkan.
Ketika jembatan itu terbangun, rumah tidak lagi menjadi tempat benturan antara dua kurikulum, melainkan ruang bertumbuh bagi semua anggotanya.
