MAL – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini menjadi salah satu fitur utama yang menentukan kemampuan smartphone premium. Pada 2026, persaingan semakin menarik dengan hadirnya Galaxy AI generasi ketiga dari Samsung dan HyperAI milik Xiaomi.
Keduanya menawarkan fitur serupa, mulai dari asisten penulisan, terjemahan real-time, pencarian cerdas, hingga pengeditan foto berbasis AI. Namun, masing-masing mengusung pendekatan yang berbeda dalam menghadirkan pengalaman AI kepada pengguna.
Samsung menitikberatkan pengembangan pada konsep “Agentic AI” atau AI yang mampu bertindak secara proaktif membantu pengguna. Sementara Xiaomi fokus pada efisiensi, kustomisasi, dan integrasi AI ke berbagai aspek sistem operasi melalui HyperOS 3.
Bagaimana Galaxy AI Generasi Ketiga Bekerja?
Samsung memperkenalkan Galaxy AI generasi ketiga bersamaan dengan peluncuran Galaxy S26 Series pada 25 Februari 2026. Platform ini berjalan dengan dukungan Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang memiliki peningkatan kemampuan Neural Processing Unit (NPU) sebesar 39 persen.
Samsung menyatakan, “Samsung membawa Galaxy AI generasi ketiga ke Galaxy S26 Series. AI kini dirancang bekerja lebih banyak di background, menangani tugas kompleks tanpa perlu banyak interaksi manual dari pengguna.”
Pendekatan tersebut terlihat pada fitur-fitur seperti Now Nudge dan Now Brief. Now Nudge mampu memberikan rekomendasi berdasarkan konteks yang sedang berlangsung, sementara Now Brief menyusun ringkasan aktivitas harian dan informasi yang dianggap relevan bagi pengguna.
Samsung juga mengembangkan Bixby agar lebih natural dalam memahami percakapan sehari-hari. Selain itu, pengguna dapat mengakses Gemini dan Perplexity dari satu titik masuk untuk menjalankan tugas lintas aplikasi.
“Selain Bixby yang kini lebih natural dalam memahami bahasa sehari-hari, tersedia integrasi dengan Gemini dan Perplexity untuk menjalankan tugas lintas aplikasi, termasuk perintah multi langkah seperti memesan transportasi,” kata Samsung Electronics.
Fitur lain yang menjadi andalan Galaxy AI antara lain Circle to Search with Google, Live Translate, Call Screening, Transcript Assist, Note Assist, Writing Assist, Creative Studio, hingga Privacy Display.
Samsung Electronics Indonesia menyebut, “Mulai Maret 2026, Photo Assist, Creative Studio, dan Writing Assist Galaxy AI mendukung 41 bahasa.”
Apa yang Ditawarkan Xiaomi HyperAI?
Xiaomi menghadirkan HyperAI sebagai bagian dari HyperOS 3 yang mulai diperkenalkan pada September 2025 dan diluncurkan secara global pada Januari 2026.
Berbeda dengan Samsung yang menonjolkan AI proaktif, Xiaomi lebih fokus menghadirkan alat bantu yang terintegrasi langsung ke sistem operasi dan aplikasi sehari-hari.
Salah satu fitur yang paling menonjol adalah DeepThink Mode. Fitur ini dirancang untuk membantu pengguna mengembangkan ide dan membuat catatan yang lebih lengkap.
Xiaomi menjelaskan, “DeepThink mode: Generates thoughtful insights and high-quality content in Notes.”
Selain itu, HyperAI menghadirkan AI Writing yang mampu melakukan parafrase teks, membuat caption gambar, hingga mengenali konten yang sedang tampil di layar.
Kemampuan lain yang tersedia meliputi AI Search, AI Speech Recognition, AI Translate, Gallery AI Search, AI Interpreter, AI Noise Reduction, Erase Pro, dan AI Creativity.
Xiaomi juga menghadirkan fitur yang belum ditemukan pada Galaxy AI, seperti AI Dynamic Wallpaper dan AI Cinematic Lock Screen.
“Gallery AI Search – assisting users in locating photos based on content or objects,” kata Xiaomi Corporation.
Fitur lain yang menjadi pembeda adalah AI-Driven Resource Management yang diklaim mampu meningkatkan efisiensi daya hingga 12 persen serta integrasi Post-Quantum Cryptography (PQC) untuk keamanan data antarperangkat.
Fitur AI Mana yang Lebih Lengkap?
Jika dibandingkan secara langsung, kedua platform memiliki kemampuan yang relatif seimbang pada fungsi-fungsi utama.
| Fitur | Samsung Galaxy AI | Xiaomi HyperAI |
|---|---|---|
| Edit foto generatif | Ya | Ya |
| Pencarian berbasis gambar | Ya | Ya |
| Asisten penulisan | Ya | Ya |
| Terjemahan panggilan | Ya | Ya |
| Ringkasan dokumen dan web | Ya | Ya |
| Transkripsi real-time | Ya | Ya |
| Pencarian foto di galeri | Ya | Ya |
| AI on-device | Ya | Ya |
Perbedaan terbesar justru muncul pada fitur unik yang ditawarkan masing-masing perusahaan.
Samsung memiliki Now Nudge, Now Brief, Call Screening, dan Privacy Display yang berfokus pada produktivitas dan otomatisasi tugas.
Di sisi lain, Xiaomi menghadirkan DeepThink Mode, AI Dynamic Wallpaper, AI Cinematic Lock Screen, AI-Driven Resource Management, serta teknologi enkripsi Post-Quantum Cryptography.
Mana yang Lebih Pintar untuk Penggunaan Sehari-hari?
Dalam penggunaan harian, perbedaan kemampuan AI keduanya tidak terlalu jauh.
Analisis independen terhadap kedua platform menyebutkan bahwa sebagian besar fitur inti menawarkan pengalaman yang serupa, terutama pada pencarian cerdas, terjemahan, ringkasan dokumen, dan pengeditan foto.
Namun terdapat beberapa keunggulan spesifik pada masing-masing platform.
“Generative editing (adding/moving objects in photos) is more polished on Samsung.”
“Call Live Translate is more mature and supports more languages on Samsung.”
Samsung juga memiliki jangkauan perangkat yang lebih luas karena Galaxy AI tersedia tidak hanya pada lini flagship, tetapi juga sejumlah perangkat kelas menengah.
Di sisi lain, Xiaomi unggul dalam pengolahan kamera berbasis AI.
“Xiaomi’s camera AI (Leica tuning) is the clearest differentiation — it consistently produces better photo output than Galaxy AI camera processing at the same price point.”
Selain itu, HyperAI menawarkan efisiensi baterai yang lebih baik melalui pengelolaan sumber daya berbasis AI serta fitur keamanan PQC yang telah terintegrasi ke dalam sistem.
Arah AI Smartphone pada 2026
Baik Samsung maupun Xiaomi sama-sama mengembangkan AI on-device untuk meningkatkan privasi dan kecepatan pemrosesan data. Keduanya juga mengintegrasikan layanan AI eksternal seperti Google Gemini untuk memperluas kemampuan perangkat.
Samsung memilih jalur Agentic AI yang mampu bertindak lebih proaktif dalam membantu pengguna menyelesaikan tugas. Sementara Xiaomi mengedepankan fleksibilitas, personalisasi, dan efisiensi sistem.
Bagi pengguna yang mengutamakan produktivitas, otomatisasi tugas, dan dukungan bahasa yang lebih luas, Galaxy AI menawarkan ekosistem yang lebih matang. Sebaliknya, pengguna yang mencari fitur kreatif, efisiensi daya, keamanan tambahan, serta pengalaman fotografi berbasis Leica kemungkinan akan menemukan lebih banyak keunggulan pada HyperAI. ***
