PALU, MAL – Jam digital yang menjadi ikon Masjid Raya Baitul Khairaat Palu mendadak mati dan memicu pertanyaan dari masyarakat. Kondisi ini dikonfirmasi oleh Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Sulawesi Tengah sebagai dampak dari gempa bumi yang melanda Palu beberapa waktu lalu, dengan perbaikan dijadwalkan pada 7 Agustus.
Sorotan masyarakat terhadap jam berukuran besar di bagian depan Masjid Raya Baitul Khairaat Palu ini ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak pengguna jalan mengaku setiap melintas selalu memperhatikan jam yang kini tidak bergerak, padahal masih tergolong baru dan mudah terlihat dari jalan raya sebagai salah satu penanda waktu.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Sulawesi Tengah, yang juga bertanggung jawab atas pembangunan Masjid Raya Baitul Khairaat Palu, menjelaskan bahwa kerusakan jam terjadi akibat gempa bumi. Proses perbaikan harus menunggu teknisi khusus dari Jakarta karena sistem jam tersebut memerlukan penanganan oleh tenaga ahli dari pihak penyedia.
“Iya, jam ini rusak sejak gempa kemarin. Alatnya sedang dipesan dan teknisinya akan datang pada 7 Agustus,” kata Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Sulawesi Tengah.
Ia menambahkan, teknisi untuk perbaikan semuanya berasal dari Jakarta. Penjadwalan kedatangan mereka memerlukan kesabaran karena harus disesuaikan.
“Teknisinya semua dari Jakarta dan ada permintaan penjadwalan, sehingga kita harus bersabar menunggu jadwal mereka,” tambahnya.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berharap proses perbaikan dapat segera dilakukan setelah teknisi tiba, sehingga jam yang menjadi salah satu penanda waktu sekaligus daya tarik Masjid Raya Baitul Khairaat dapat kembali berfungsi normal.
