Di banyak rumah kaum Muslim, pohon bidara tumbuh bukan sekadar sebagai tanaman pekarangan. Daunnya dipetik untuk campuran air mandi jenazah, buahnya dikonsumsi, sementara sebagian orang menyimpannya karena diyakini memiliki nilai spiritual. Tidak sedikit pula yang mengenalnya sebagai “pohon yang disebut dalam Al-Qur’an.”

Di sinilah bidara menjadi menarik. Ia adalah contoh bagaimana sebuah tumbuhan mampu melintasi batas antara agama, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Berbeda dengan kurma atau zaitun yang lebih dikenal luas, bidara mungkin tidak banyak disebut dalam percakapan sehari-hari. Namun, jejaknya dalam sejarah Islam justru sangat kuat. Al-Qur’an menyebutnya dengan nama sidr. Salah satu penyebutan yang paling agung terdapat pada peristiwa Isra Mikraj melalui istilah Sidratul Muntaha, pohon yang menjadi penanda batas tertinggi dalam perjalanan Nabi Muhammad SAW menerima sebagian tanda-tanda kebesaran Allah.

Al-Qur’an juga menggambarkan pohon bidara sebagai bagian dari kenikmatan surga, tempat yang teduh dan menenangkan. Sebaliknya, dalam kisah kaum Saba’, bidara disebut sebagai bagian dari perubahan kondisi setelah mereka berpaling dari nikmat Allah. Menariknya, pohon yang sama dapat hadir dalam dua narasi yang berbeda: sebagai simbol kenikmatan sekaligus sebagai penanda perubahan keadaan. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak sekadar menyebut nama tumbuhan, tetapi menggunakannya sebagai bagian dari bahasa simbolik yang dekat dengan kehidupan manusia.

Kedekatan bidara dengan Islam juga diperkuat oleh sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam beberapa hadis, daun bidara digunakan sebagai campuran air untuk memandikan jenazah. Pada masa ketika sabun modern belum dikenal, daun bidara memiliki kemampuan menghasilkan busa ringan sehingga berfungsi sebagai pembersih alami. Penggunaannya bukan karena unsur mistis, melainkan karena manfaat praktis yang telah dikenal masyarakat Arab sejak lama.

Seiring perjalanan waktu, makna bidara berkembang di tengah masyarakat Muslim. Di berbagai daerah, terutama di Asia Tenggara, bidara mulai dikaitkan dengan praktik ruqyah, pengobatan tradisional, hingga perlindungan dari gangguan makhluk halus. Sebagian keyakinan tersebut lahir dari tradisi masyarakat, bukan dari ajaran Islam yang bersifat normatif.

Di sinilah diperlukan sikap yang proporsional. Islam memang mengenal bidara sebagai tumbuhan yang bermanfaat dan memiliki tempat dalam sejarah wahyu. Namun, Islam tidak mengajarkan bahwa setiap daun bidara memiliki kekuatan gaib atau mampu mengusir gangguan secara otomatis. Sebagaimana obat lainnya, manfaatnya tetap berada dalam kehendak Allah dan harus dipahami secara rasional.

Menariknya, perkembangan ilmu pengetahuan justru menemukan berbagai manfaat biologis dari tanaman ini. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa daun, buah, maupun kulit batang bidara mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin, dan antioksidan yang berpotensi memiliki aktivitas antimikroba serta antiinflamasi. Di sejumlah negara, ekstrak bidara bahkan mulai dimanfaatkan dalam produk perawatan kulit, sampo herbal, hingga bahan pangan.

Temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan tradisional tidak selalu bertentangan dengan sains. Apa yang dahulu digunakan sebagai pembersih alami, kini dapat dijelaskan melalui kandungan kimianya. Apa yang diwariskan turun-temurun, sebagian memperoleh penjelasan ilmiah, sementara sebagian lainnya tetap menjadi wilayah keyakinan yang tidak dapat diuji secara empiris.

Barangkali, di situlah letak pelajaran terbesar dari pohon bidara. Islam mengajarkan umatnya untuk menghargai alam bukan karena mitos yang menyelimutinya, melainkan karena setiap ciptaan Allah memiliki hikmah yang dapat dipelajari. Sebuah pohon dapat menjadi bahan renungan, sumber pengobatan, peneduh, sekaligus pengingat akan perjalanan spiritual yang agung.

Bidara mengajarkan bahwa wahyu tidak pernah memisahkan manusia dari alam. Justru melalui alam, manusia diajak membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan. Ketika ilmu pengetahuan berkembang, keajaiban itu tidak berkurang. Sebaliknya, setiap penemuan baru justru memperlihatkan bahwa selembar daun pun menyimpan kompleksitas yang luar biasa.

Mungkin karena itulah bidara tetap bertahan dalam ingatan umat Islam selama berabad-abad. Ia bukan sekadar pohon yang disebut dalam kitab suci, melainkan simbol bahwa agama, tradisi, dan sains dapat saling melengkapi ketika ditempatkan secara proporsional. Pada akhirnya, yang membuat bidara istimewa bukanlah mitos yang dilekatkan kepadanya, melainkan kemampuannya mengingatkan manusia bahwa alam adalah salah satu ayat Allah yang terbentang di hadapan kita, menunggu untuk dibaca dengan iman sekaligus akal.