Di banyak keluarga Muslim, hampir semua orang tua memiliki harapan yang sama: anaknya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas sekaligus mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Namun, mewujudkan harapan itu kini terasa semakin sulit. Bukan karena orang tua tidak peduli terhadap pendidikan agama, melainkan karena waktu anak semakin banyak tersita oleh aktivitas sekolah formal.

Fenomena ini menjadi dilema yang dirasakan banyak keluarga. Di satu sisi, prestasi akademik dianggap penting sebagai bekal masa depan. Di sisi lain, kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan bekal kehidupan yang tidak kalah penting. Sayangnya, kedua kebutuhan ini sering kali berebut waktu yang sama.

Jam belajar di sekolah kini relatif panjang. Banyak siswa berangkat sejak pagi dan baru tiba di rumah pada sore hari. Setelah itu, mereka masih harus mengerjakan pekerjaan rumah, belajar untuk ulangan, menyelesaikan tugas proyek, atau mengikuti les tambahan. Ketika malam tiba, energi anak sudah terkuras. Waktu untuk belajar mengaji pun menjadi sangat terbatas.

Akibatnya, Tempat Pendidikan Al-Qur’an (TPA) sering menjadi pilihan yang dikorbankan. Ada orang tua yang menghentikan anak dari TPA karena khawatir nilai sekolah menurun. Ada pula yang tetap mengirimkan anak ke TPA, tetapi anak datang dalam kondisi lelah sehingga sulit berkonsentrasi. Tidak sedikit pula yang akhirnya memilih belajar mengaji hanya sesekali di rumah, meskipun hasilnya tidak maksimal.

Ironisnya, masyarakat sering menempatkan kemampuan akademik dan pendidikan agama seolah-olah saling bertentangan. Padahal, keduanya tidak seharusnya dipertentangkan. Seorang anak tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga fondasi spiritual yang akan membimbingnya dalam menggunakan ilmu yang dimilikinya.

Kemampuan membaca Al-Qur’an bukan sekadar keterampilan tambahan. Bagi seorang Muslim, ia merupakan bagian dari pendidikan dasar. Seorang anak mungkin mampu menyelesaikan soal matematika yang rumit, fasih berbahasa asing, atau mahir menggunakan teknologi. Namun, akan menjadi ironi apabila ia kesulitan membaca kitab sucinya sendiri.

Persoalan ini sebenarnya tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada orang tua. Sistem pendidikan juga perlu memberikan ruang yang lebih seimbang antara pendidikan akademik dan pendidikan keagamaan. Beban tugas yang terlalu banyak, jam belajar yang panjang, serta berbagai kegiatan tambahan sering kali membuat anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan aspek spiritualnya.

Di sisi lain, pengelola TPA juga dituntut beradaptasi dengan kondisi zaman. Metode pembelajaran yang menyenangkan, durasi belajar yang lebih efektif, serta pemanfaatan media pembelajaran modern dapat membantu anak tetap bersemangat meskipun memiliki waktu yang terbatas. Fokus pembelajaran juga dapat diarahkan pada kualitas daripada sekadar lamanya waktu belajar.

Orang tua pun perlu menyusun prioritas. Tidak semua aktivitas tambahan harus diikuti anak. Jadwal les yang terlalu padat, kursus yang bertumpuk, atau kegiatan yang kurang mendesak bisa dievaluasi agar anak tetap memiliki waktu untuk belajar Al-Qur’an. Sesibuk apa pun jadwal sekolah, semestinya masih tersedia ruang bagi pendidikan agama.

Selain itu, rumah harus kembali menjadi tempat belajar yang utama. Orang tua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pendidikan Al-Qur’an kepada TPA. Luangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk mendampingi anak membaca atau mengulang hafalan. Kebersamaan singkat yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih efektif daripada belajar dalam waktu lama tetapi hanya sesekali.

Pada akhirnya, dilema antara sekolah formal dan TPA seharusnya tidak berujung pada pilihan “salah satu”. Pendidikan akademik dan pendidikan Al-Qur’an justru harus berjalan beriringan. Sekolah membekali anak dengan ilmu untuk menghadapi kehidupan dunia, sedangkan Al-Qur’an membimbing mereka agar mampu menggunakan ilmu tersebut dengan benar.

Tantangan zaman memang membuat waktu anak semakin sempit. Namun, jika keluarga, sekolah, dan TPA mampu saling mendukung, anak tidak hanya akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, keimanan, dan kedekatan dengan Al-Qur’an. Bukankah itulah tujuan pendidikan yang sesungguhnya?