SETIAP Ramadan, masjid mendadak ramai oleh anak-anak muda. Mereka menjadi panitia buka puasa, lomba, menyiapkan kultum, mengatur parkir, mengelola media sosial, hingga membangunkan sahur. Semangat mereka begitu terasa. Namun, setelah bulan suci berlalu, sebagian besar aktivitas itu ikut menghilang. Sekretariat kembali sepi, rapat tidak lagi terdengar, dan nama Remaja Islam Masjid (RISMA) hanya tinggal papan nama di sudut serambi.
Fenomena ini bukan terjadi di satu atau dua masjid. Di banyak daerah, RISMA lebih dikenal sebagai panitia kegiatan musiman daripada organisasi kaderisasi yang hidup sepanjang tahun. Akibatnya, masjid kehilangan motor penggerak generasi muda ketika Ramadan usai.
Padahal, tujuan utama RISMA bukan sekadar menyelenggarakan acara. Tugas terbesarnya adalah memakmurkan masjid. Itu berarti menghadirkan anak muda agar merasa memiliki masjid, menghidupkan salat berjamaah, membangun budaya belajar, mengembangkan kepedulian sosial, hingga menyiapkan calon pemimpin umat di masa depan. Jika aktivitas hanya berpusat pada lomba Ramadan atau peringatan hari besar Islam, maka fungsi kaderisasi belum benar-benar berjalan.
Persoalan lainnya adalah minimnya program primer. Banyak RISMA lebih sibuk merancang kegiatan seremonial daripada membangun rutinitas yang sederhana tetapi berkelanjutan. Misalnya, salat Subuh berjamaah setiap pekan, halaqah Al-Qur’an, kajian pemuda, kunjungan kepada anggota yang sakit, bakti sosial lingkungan, atau pelatihan keterampilan. Padahal, organisasi justru bertumbuh dari program yang konsisten, bukan dari acara yang sesekali meriah.
Namun, menyalahkan anak muda saja tentu tidak adil. Ada persoalan klasik yang hampir selalu muncul di balik redupnya RISMA, yakni hubungan dengan generasi yang lebih tua. Tidak sedikit pengurus remaja masjid yang datang membawa gagasan baru, tetapi harus berhadapan dengan kalimat, “Dari dulu juga begini,” atau “Anak muda belum tahu apa-apa.” Sebaliknya, sebagian orang tua merasa pengalaman mereka kurang dihargai ketika usulan-usulan lama mulai dipertanyakan.
Ketegangan semacam ini akhirnya membuat semangat anak muda perlahan padam. Mereka ingin bergerak, tetapi ruang geraknya sempit. Mereka ingin berinovasi, tetapi setiap ide harus melewati tembok birokrasi yang panjang. Tidak sedikit yang akhirnya memilih mundur karena merasa lebih banyak diminta mengikuti daripada diberi kesempatan memimpin.
Di sisi lain, generasi muda juga perlu belajar bahwa semangat saja tidak cukup. Mengelola masjid memerlukan adab, kesabaran, dan kemampuan berkomunikasi. Tidak semua perubahan harus dilakukan sekaligus. Pengalaman para senior merupakan aset yang tidak boleh diabaikan. Kolaborasi akan lebih menghasilkan daripada saling mempertahankan ego masing-masing.
Masjid pada masa Rasulullah SAW menjadi tempat bertemunya berbagai generasi. Anak muda diberi kepercayaan memikul tanggung jawab besar, sementara para sahabat yang lebih tua menjadi pembimbing, bukan penghalang. Hubungan keduanya bukan hubungan persaingan, melainkan hubungan kaderisasi. Yang tua menyiapkan penerus, sementara yang muda menghormati pengalaman pendahulunya.
Karena itu, sudah saatnya paradigma pengelolaan RISMA diubah. Ukuran keberhasilan bukan lagi seberapa meriah kegiatan Ramadan, melainkan apakah masjid tetap hidup pada bulan-bulan lainnya. Apakah masih ada kajian pemuda setiap pekan? Apakah saf salat semakin dipenuhi generasi muda? Apakah ada kader baru yang tumbuh setiap tahun? Inilah indikator bahwa sebuah RISMA benar-benar menjalankan misinya.
Masjid membutuhkan anak muda. Anak muda juga membutuhkan masjid. Tetapi keduanya hanya akan bertemu jika pengurus senior bersedia menjadi mentor, bukan penjaga gerbang, dan RISMA bersedia menjadi pelayan umat, bukan sekadar panitia acara. Ketika dua generasi itu saling percaya, masjid tidak lagi ramai hanya saat Ramadan, melainkan hidup sepanjang tahun sebagai pusat pembinaan umat.
