PALU, MAL – Ribuan bidang tanah di Sulawesi Tengah (Sulteng) ditargetkan masuk dalam sistem pendataan digital melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Pertanahan yang digagas Universitas Tadulako (Untad) bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
Program tersebut menjadi langkah kolaboratif untuk memperkuat administrasi pertanahan, memperbarui data kepemilikan lahan, serta menghadirkan basis data pertanahan yang lebih akurat sebagai pendukung pembangunan daerah.
Rencana pelaksanaan KKN Tematik Pertanahan tersebut dibahas dalam pertemuan antara Tenaga Ahli Menteri ATR/BPN Bidang Ekonomi Pertanahan, Dedi Noor Cahyanto, dengan Rektor Untad, Prof. Amar, di Gedung Rektorat Untad, Rabu (29/7).
Dedi Noor Cahyanto mengatakan keterlibatan perguruan tinggi melalui program KKN Tematik merupakan bagian dari strategi Kementerian ATR/BPN dalam mempercepat transformasi digital sektor pertanahan.
“Kami ingin membangun kolaborasi jangka panjang dengan perguruan tinggi. Mahasiswa memiliki potensi besar untuk membantu pemutakhiran data pertanahan sekaligus meningkatkan literasi masyarakat mengenai administrasi pertanahan dan legalitas aset,” ujar Dedi.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan dilibatkan untuk membantu pemetaan bidang tanah secara digital, sekaligus melakukan pendataan mengenai status kepemilikan, penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan lahan masyarakat.
Data yang diperoleh dari lapangan nantinya akan melalui proses verifikasi dan diintegrasikan ke dalam platform digital Bumi ATR sebagai bagian dari penguatan sistem informasi pertanahan nasional.
Program ini akan melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu yang memiliki kompetensi pendukung, seperti Teknik Sipil, Teknik Geodesi, Geografi, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), serta bidang ilmu lainnya yang berkaitan dengan pemetaan dan tata ruang.
Sebelum diterjunkan ke lokasi, mahasiswa akan mendapatkan pembekalan teknis dan nonteknis dari Kementerian ATR/BPN untuk memastikan proses pendataan berjalan sesuai standar.
Rektor Untad, Prof. Amar, mengatakan transformasi pelaksanaan KKN harus diarahkan agar mampu memberikan solusi nyata terhadap persoalan masyarakat.
“Kami ingin KKN tidak lagi sekadar menjadi kegiatan rutin mahasiswa, tetapi benar-benar menjadi wadah pengabdian yang menghasilkan solusi nyata. Setiap dosen dapat membimbing mahasiswa sesuai bidang keahliannya sehingga kontribusi yang diberikan kepada masyarakat menjadi lebih optimal,” katanya.
Menurut Prof. Amar, persoalan pertanahan menjadi salah satu sektor yang membutuhkan dukungan teknologi dan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, serta masyarakat.
Ia menyebut sejumlah persoalan seperti ketidaksesuaian batas wilayah, perbedaan data administrasi dengan hasil pemetaan digital, hingga belum optimalnya informasi kepemilikan lahan masih menjadi tantangan yang perlu dibenahi.
“Data pertanahan yang akurat menjadi fondasi penting dalam pembangunan. Pemanfaatan teknologi harus terus diperkuat agar pemerintah memiliki basis data yang valid dalam mengambil berbagai kebijakan pembangunan,” ujarnya.
Selain membantu pendataan bidang tanah, mahasiswa juga akan berperan sebagai agen edukasi masyarakat dengan memperkenalkan layanan digital ATR/BPN, termasuk platform Bumi ATR dan aplikasi Sentuh Tanahku.
Melalui program tersebut, Untad dan ATR/BPN berharap masyarakat semakin memahami pentingnya tertib administrasi pertanahan serta memanfaatkan layanan digital untuk memperoleh informasi terkait aset tanah secara lebih mudah dan transparan.
Kolaborasi ini akan dilakukan secara bertahap dengan menentukan wilayah prioritas sebagai lokasi awal pelaksanaan KKN Tematik Pertanahan.
