Pukul tujuh pagi, halaman sekolah dasar itu mulai ramai. Anak-anak berlarian membawa tas yang hampir sebesar tubuh mereka. Di antara keramaian itu, seorang anak kelas 1 SD yang belum lama melewati masa pengenalan sekolah—sebut saja Raka—berjalan sambil menggenggam erat tangan ibunya. Wajahnya murung. Baru beberapa langkah memasuki gerbang sekolah, matanya mulai berkaca-kaca.
“Mama jangan pulang dulu…” bisiknya pelan.
Adegan seperti ini ternyata bukan hal yang jarang terjadi. Banyak guru kelas 1 SD mengaku hampir setiap pekan menerima laporan tentang anak yang menangis, menolak masuk kelas, atau tiba-tiba ingin pulang dengan berbagai alasan. Ada yang mengaku sakit perut, pusing, lapar, ingin buang air, rindu ibu, takut dengan teman, atau merasa tidak suka dengan gurunya. Kadang alasannya berubah setiap hari, tetapi ujungnya sama: anak ingin segera pulang.
Kasus Raka menarik untuk dicermati. Selama di taman kanak-kanak, ia termasuk anak yang aktif dan ceria. Ia mudah bermain dengan teman-temannya dan jarang bermasalah saat ditinggal orang tua. Namun setelah masuk SD, perilakunya berubah drastis. Setiap pagi ia sulit dibangunkan. Saat sudah sampai di sekolah, ia sering menangis sebelum pelajaran dimulai. Bahkan beberapa kali guru menghubungi orang tuanya karena Raka terus meminta pulang meskipun tidak ditemukan tanda-tanda sakit.
Pada minggu pertama, orang tuanya menganggap hal itu wajar sebagai proses adaptasi. Minggu kedua, tangis Raka justru semakin sering. Ia mulai mengatakan bahwa sekolah itu membosankan, tugasnya terlalu banyak, dan ia takut jika tidak bisa menjawab pertanyaan guru. Di rumah, ia tampak tegang setiap kali malam menjelang hari sekolah.
Fenomena seperti ini sering disalahpahami sebagai “anak malas sekolah”. Padahal, pada usia 6–7 tahun, keengganan pergi ke sekolah tidak selalu berkaitan dengan kemalasan. Banyak anak sedang menghadapi school adjustment, yaitu masa penyesuaian dari dunia bermain menuju dunia belajar yang lebih terstruktur. Mereka harus duduk lebih lama, mengikuti aturan, menyelesaikan tugas, mendengarkan instruksi, dan berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih kompleks.
Dalam kasus Raka, setelah guru dan orang tua berdiskusi, ditemukan beberapa kemungkinan penyebab. Pertama, ia merasa cemas berpisah dengan ibunya karena sebelumnya hampir selalu ditemani dalam berbagai aktivitas. Kedua, ia belum terbiasa dengan ritme belajar SD yang menuntut konsentrasi lebih lama dibandingkan TK. Ketiga, ia pernah diejek teman karena belum lancar membaca, sehingga muncul rasa takut untuk tampil di kelas.
Dari sini terlihat bahwa tangisan anak sering kali hanyalah gejala, bukan akar masalah. Anak usia dini belum memiliki kemampuan verbal yang matang untuk menjelaskan kecemasannya. Ketika merasa tidak nyaman, tubuh dan perilakulah yang berbicara. Sakit perut menjelang berangkat sekolah, misalnya, sering muncul sebagai respons terhadap kecemasan, bukan semata-mata gangguan fisik.
Sayangnya, respons orang dewasa kadang memperburuk keadaan. Ada orang tua yang langsung memarahi anak dengan kalimat seperti, “Masa sudah besar masih menangis?” atau “Kalau begini terus nanti tidak naik kelas.” Ancaman semacam itu mungkin membuat anak diam sesaat, tetapi tidak menyelesaikan rasa takut yang ia alami. Sebaliknya, anak bisa semakin mengaitkan sekolah dengan tekanan dan rasa tidak aman.
Guru pun menghadapi dilema tersendiri. Jika setiap tangisan direspons dengan mengizinkan anak pulang, anak dapat belajar bahwa menangis adalah cara efektif untuk menghindari sekolah. Namun jika dipaksa terlalu keras tanpa pendekatan emosional, kecemasannya bisa semakin kuat. Karena itu diperlukan keseimbangan antara ketegasan dan empati.
Pada kasus Raka, guru mencoba strategi sederhana. Setiap pagi ia diberi tugas kecil yang membuatnya merasa penting, seperti membagikan buku atau membantu merapikan alat tulis. Guru juga menghindari langsung menunjuknya membaca di depan kelas dan lebih sering memberinya pujian atas usaha kecil yang berhasil ia lakukan. Sementara itu, orang tuanya mulai menerapkan rutinitas pagi yang lebih tenang dan konsisten, serta mengurangi kebiasaan terlalu sering menolong Raka dalam hal-hal yang sebenarnya bisa ia lakukan sendiri.
Perubahan itu tidak terjadi dalam satu atau dua hari. Pada minggu ketiga, Raka masih sempat menangis, tetapi durasinya lebih singkat. Sebulan kemudian, ia sudah dapat masuk kelas tanpa ditemani ibunya hingga ke depan pintu. Sesekali ia masih berkata ingin pulang lebih cepat, namun tidak lagi disertai tangisan hebat seperti sebelumnya.
Kasus sederhana ini memberi pelajaran penting bahwa adaptasi kelas 1 SD adalah masa transisi besar dalam kehidupan anak. Mereka bukan hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga belajar berpisah dengan orang tua, mengelola emosi, mengikuti aturan sosial, dan membangun rasa percaya diri. Ketika seorang anak terus-menerus ingin pulang dari sekolah, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “mengapa ia malas?”, melainkan “apa yang sedang membuatnya merasa tidak aman di sekolah?”.
Karena itu, penanganan anak kelas 1 SD yang sering menangis atau ingin pulang perlu dilakukan melalui kerja sama antara orang tua, guru, dan sekolah. Orang tua perlu mendengarkan tanpa menghakimi, guru perlu menciptakan suasana kelas yang hangat, dan sekolah perlu memahami bahwa keberhasilan pendidikan pada tahap awal tidak hanya diukur dari cepatnya anak bisa membaca, tetapi juga dari tumbuhnya rasa aman dan nyaman untuk datang ke sekolah setiap hari.
Pada akhirnya, sebagian besar anak yang mengalami fase ini sebenarnya tidak membenci sekolah. Mereka hanya sedang belajar menghadapi dunia baru yang terasa lebih besar daripada dirinya. Dengan pendampingan yang sabar, konsisten, dan penuh empati, tangisan di gerbang sekolah perlahan dapat berubah menjadi langkah kecil yang lebih berani menuju ruang kelas dan masa depannya.
