MAL – Ketahuilah bahwa belajar adalah ibadah yang sangat mulia. Mengapa? Karena dengan belajar, seseorang menjadi cerdas dan terbuka masa depan cerah. Tak salah kalau Imam Syafii pernah mengatakan, Siapa orang yang tak pernah merasakan sulitnya belajar; dia akan terus dikungkung kebodohan sepanjang hidupnya.
Dan, siapa orang yang terlewat untuk belajar di masa mudanya mari takbir empat kali (shalat jenazah) atas kematiannya.
Oleh karena itulah Rasulallah SAW menganjurkan umatnya untuk terus belajar. Dalam salah satu sabdanya Rasulallah SAW berucap, “Keutamaan seorang yang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti (keutamaan cahaya) bulan purnama atas seluruh bintang-gemintang” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dalam pada itu, ilmu pengetahuan yang dipelajari harus menjadi jembatan untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulallah SAW bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga.
Malaikat saja meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada pencari ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.
Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.”
Islam tidak pernah membedakan ilmu dunia atau akherat, ilmu umum atau ilmu agama. Perbedaan itu terjadi karena keterbatasan manusia untuk menguasai semua disiplin ilmu. Kemampuan akal manusia sangat fakultatif sehingga diperlukan fakultas-fakultas ilmu.
Ilmu adalah anugerah ilahiyah. Tidak mungkin diperoleh kecuali dengan pertolongan dan taufik dari Allah. Karena itu, di antara doa yang paling agung yang ada dalam Alquran adalah “dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. QS:Thaahaa: 114.
Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, bahwa Rsulallah SAW setiap selesai shalat subuh mengucapkan doa: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Oleh karena itu, hendaknya para pembelajar senantiasa meminta pertolongan kepada Allah SWT, memohon taufik kepada-Nya. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah mengecewakan doa seseorang yang tulus meminta kepada-Nya.
Rasa takut kepada Allah SWT. Bukan kesombongan apalagi sampai menantang-Nya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya adalah para ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS: Fathir: 28).
Jadi, ilmu pengetahuan yang tidak mendatangkan ketaatan kepada Allah adalah kesia-siaan. Karena itulah, Ibnu Mas’ud mengatakan, cukuplah rasa takut kepada Allah disebut sebagai ilmu pengetahuan”.
Apalah artinya banyak gelar, jika tak pernah gelar sajadah. Capaian-capaian dunia hanyalah halte dari fase kehidupan kita.
Hari ini Anda diwisuda, bergelar S1, Esok lusa mungkin bergelar S-2, bahkan S-3 (doktor), tapi semua itu menjadi sia-sia jika tak mendatangkan ketaatan kepada Allah SWT. Sebab, suatu hal yang pasti, semua manusia akan bergelar Alm. Ya, itulah almarhum.
Ketika seluruh episode kehidupan dunia kita berakhir dan gelar itu disematkan saat jasad telah dikembalikan ke bumi. Sesungguhnya semua milik Allah, dan hanya kepada-Nya segala hal kembali.
Maka, barangsiapa yang kehilangan rasa takut kepada Allah SWT di dalam hatinya, dia tidak disebut sebagai ilmuwan, betapapun banyak gelar akademis yang disandangnya. Takut kepada Allah adalah esensi dan puncak keilmuan seseorang.
Semakin besar rasa takut yang mendatangkan ketakwaan kepada Allah, maka akan semakin tampak bersih hatinya, bagus akhlaknya, berbinar wajahnya, lembut tutur-katanya dan ilmunya mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia. Wallahu a’lam
DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)
