JAKARTA, MAL – Potensi gempa megathrust di Selat Sunda kembali menjadi perhatian publik setelah muncul berbagai informasi yang menyebut gempa berkekuatan hingga magnitudo 8,9 dapat memicu tsunami dan berdampak pada sejumlah wilayah, mulai dari Banten, Lampung, Jawa Barat hingga Jakarta.

Namun, BMKG menegaskan bahwa potensi tersebut merupakan hasil kajian dan pemodelan ilmiah, bukan prediksi bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono menegaskan bahwa ilmu pengetahuan saat ini belum mampu memprediksi secara tepat waktu, lokasi, maupun kekuatan gempa yang akan terjadi.

“Sudah kita pahami bersama, bahwa hingga saat ini belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dengan tepat dan akurat mampu memprediksi terjadinya gempa (kapan, dimana, dan berapa kekuatannya), sehingga kita semua juga tidak tahu kapan gempa akan terjadi, sekalipun tahu potensinya,” kata Daryono.

Ia kembali menegaskan bahwa informasi mengenai potensi megathrust tidak boleh dimaknai sebagai peringatan dini.

“Jangan dimaknai secara keliru, seolah akan terjadi dalam waktu dekat,” ujarnya.

Dalam pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, segmen Megathrust Jawa Bagian Barat disebut memiliki estimasi magnitudo maksimum sekitar M8,9 dengan panjang segmen sekitar 670 kilometer. Nilai tersebut menggambarkan kapasitas maksimum sumber gempa berdasarkan pemodelan ilmiah dan bukan kepastian kejadian.

Selain potensi guncangan kuat, sejumlah simulasi yang dilakukan peneliti kebencanaan menunjukkan bahwa gempa besar di zona tersebut dapat memicu tsunami dengan dampak berbeda pada setiap wilayah.

Dalam skenario tertentu, tinggi gelombang di wilayah Selat Sunda diperkirakan sekitar 3 hingga 15 meter, sementara sebagian pesisir selatan Jawa dapat mengalami gelombang hingga sekitar 20 meter.

Untuk wilayah Jakarta, simulasi menunjukkan pesisir utara berpotensi mengalami gelombang sekitar 1 hingga 1,8 meter dengan waktu tiba sekitar 2,5 jam setelah gempa.

Namun angka tersebut merupakan hasil simulasi pada skenario tertentu dan bukan prakiraan operasional ataupun kepastian dampak yang akan terjadi.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Nuraini Rahma, menjelaskan bahwa skenario tersebut digunakan untuk memahami risiko dan menyusun langkah mitigasi.

“Potensi Megathrust ini dapat memicu goncangan gempa yang besar dan tsunami, yang menjalar melalui Selat Sunda hingga ke Jakarta dengan waktu tiba sekitar 2,5 jam,” kata Nuraini.

Wilayah yang disebut memiliki potensi terdampak antara lain Pandeglang, Lebak, Serang, dan Cilegon di Banten; Lampung Selatan, Pesisir Barat, Lampung Barat, Teluk Semangka, dan Teluk Lampung; pesisir utara Jakarta; serta Sukabumi dan sejumlah wilayah pesisir selatan Jawa Barat.

Meski demikian, tingkat risiko setiap daerah berbeda-beda. Banten dan Lampung dinilai memiliki paparan lebih tinggi karena berhadapan langsung dengan Selat Sunda dan sumber bahaya.

Jakarta menghadapi risiko yang berbeda karena lokasinya lebih jauh dari sumber gempa, tetapi memiliki kepadatan penduduk tinggi, kawasan industri, pelabuhan, serta tanah aluvial yang berpotensi memperkuat guncangan.

Dalam skenario tertentu, intensitas guncangan di Jakarta dapat berada pada kisaran VI hingga VII MMI. Namun intensitas aktual akan bergantung pada magnitudo gempa, kedalaman sumber, kondisi tanah, dan kualitas bangunan di lokasi terdampak.

BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang menyebut gempa akan terjadi pada tanggal atau jam tertentu.

Masyarakat di wilayah pesisir diminta memahami jalur evakuasi, mengenali tanda-tanda alami tsunami setelah gempa kuat, menyiapkan tas siaga bencana, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan BPBD.