PALU – Populasi ayam petelur di Sulawesi Tengah (Sulteng) mencapai sekitar 1.345.848 ekor yang tersebar di 13 kabupaten dan kota. Kondisi tersebut membuat ketersediaan telur di daerah ini dalam kondisi aman, bahkan mengalami surplus produksi.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng, populasi ayam petelur terbesar berada di Kabupaten Sigi sebanyak 518.660 ekor, disusul Kota Palu 254.345 ekor, Kabupaten Donggala 166.360 ekor, Kabupaten Poso 127.300 ekor, Kabupaten Parigi Moutong 83.697 ekor, Kabupaten Banggai 69.500 ekor, Kabupaten Morowali 37.210 ekor, Kabupaten Tojo Una-Una 37.180 ekor, Kabupaten Tolitoli 27.700 ekor, Kabupaten Buol 10.204 ekor, Kabupaten Morowali Utara 7.992 ekor, Kabupaten Banggai Kepulauan 3.000 ekor, dan Kabupaten Banggai Laut 2.700 ekor.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng, Salman, mengatakan populasi ayam petelur di daerah ini diperkirakan mencapai 1,3 juta ekor dan terus bertambah sejak awal 2026 seiring meningkatnya usaha peternakan di sejumlah daerah.

“Produksi telur saat ini termasuk surplus.Karena produksi berlebih, harga telur di pasaran mengalami penurunan,” ujarnya.

Menurut Salman, ayam petelur mulai berproduksi pada usia sekitar enam bulan dan memiliki masa produksi bertelur selama kurang lebih satu setengah tahun. Secara umum, tingkat produksi telur berkisar antara 60 hingga 70 persen dari total populasi ayam petelur yang ada.

Meski produksi lokal melimpah, pasokan telur yang beredar di pasar-pasar di Sulteng tidak seluruhnya berasal dari peternak daerah setempat. Berdasarkan informasi dari asosiasi peternak, sekitar 40 persen telur yang dijual di sejumlah pasar, seperti Pasar Inpres Manonda dan Pasar Masomba, masih didatangkan dari Sulawesi Selatan (Sulsel).

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena para pedagang telah lama menjalin rantai pasokan dengan pemasok dari Sulsel. Selain itu, harga telur dari daerah tersebut relatif lebih murah dibandingkan harga telur produksi peternak di Sulteng.

“Sekitar 40 persen telur beredar di pasar berasal dari Sulsel. Pedagang sudah bertahun-tahun mengambil pasokan dari sana dan harga pengambilannya lebih murah,” katanya.

Saat ini harga telur di tingkat pasar berkisar antara Rp40.000 hingga Rp60.000 per rak. Namun, penurunan harga mulai memberikan tekanan kepada peternak skala kecil.

Salman mengatakan sejumlah peternak telah mengadukan kondisi tersebut kepada pihaknya. Bahkan terdapat peternak yang menjual tiga rak telur dengan harga Rp100.000.

“Kalau sudah tiga rak dijual 100 ribu, peternak sudah merugi. Kondisi seperti ini sangat mengancam peternak kecil,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan utama sektor perunggasan saat ini bukan lagi terkait ketersediaan stok telur maupun ayam, melainkan bagaimana menjaga stabilitas harga agar peternak tetap memperoleh keuntungan yang layak.

“Harga telur dianggap relatif stabil bagi peternak, berada pada kisaran 50 ribu hingga 59 ribu per rak,” tambahnya.