PARIMO – Wakil Bupati (Wabup) Parigi Moutong (Parimo), Abdul Shahid Dg Mapatu, membuka lokakarya advokasi kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove dan kawasan pesisir yang dilaksanakan Relawan untuk Orang dan Alam (ROA) atas dukungan Yayasan Kehati melalui Program Solusi Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terpadu di Indonesia, Rabu (20/05).

Pada kesempatan itu, Wabup menyampaikan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggungjawab pemerintah melainkan tanggungjawab bersama.

Olehnya, kata dia, membangun jejaring kerjasama demi terwujudnya pengelolaan lingkungan berkelanjutan mesti diperkuat.

“Melalui kegiatan ini saya berharap akan lahir rekomendasi,gagasan dan langkah-langkah konkret yang dapat menjadi dasar penguatan kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove dan kawasan pesisir di daerah ini,” ujarnya.

Wabup juga menekankan perlunya peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintahan desa sehingga mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan di wilayah masing-masing mengingat eksosistem mangrove menghadapi berbagai macam ancaman mulai dari alih fungsi lahan, penebangan, pencemaran hingga dampak perubahan.

“Hal ini jika tidak dikelola secara bijaksana akan membawa dampak yang besar terhadap kehidupan generasi mendatang, oleh karena itu diperlukan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, organisasi masyarakat, akademisi, dunia usaha serta seluruh elemen masyarakat dalam menjaga dan mengelola kawasan pesisir secara berkelanjutan,” harapnya.

Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parimo memiliki komitmen yang kuat dalam mendukung upaya perlindungan lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

Komitmen dituangkan dalam bentuk program pelestarian lingkungan,rehabilitasi kawasan pesisir dan penguatan partisipasi masyarakat.

Bau Toknok, akademisi dari Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako menyampaikan potensi raksasa pesisir Parigi Moutong memiliki lebih dari 400 Kilometer garis pantai, bentang alam yang khas dimana pegunungan curam (ridge) berhadapan langsung dengan laut (reef).

Kemudian benteng alami, dimana mangrove menjadi penjaga kestabilan fisik pesisir dari ancaman abrasi masif diteluk tomini dan nursery serta spawning ground, habitat kritis yang memicu produktivitas hayati biota bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat pesisir.

“Pengelolaan pesisir tidak dapat dilakukan secara parsial, metode ridge to reef memgintegrasikan perlindungan hutan pegunungan teresterial dan ekosistem muara laut,” ungkapnya. ***