PALU – Di sebuah bangunan sederhana berlantai dua, di Jalan Towua, Kelurahan Tatura Selatan, Kota Palu, berdiri satu-satunya pesantren kaligrafi di ibu kota Sulawesi Tengah. Tempat itu bernama Sanggar Seni dan Pesantren Kaligrafi Alhasyimi, yang sejak tahun 2001 silam menjadi ruang lahirnya para santri dan kaligrafer muda dari berbagai daerah. Di tahun 2001 itu dari jumlah santri sekitar 20 orang hingga kini melahirkan ribuan kaligrafer tersebar hampir di seluruh wilayah tanah air.

Di lokasi itulah, Selasa (19/5), pendiri Alhasyimi, Muhammad Arif menerima wawancara eksklusif terkait persiapan para peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), perkembangan cabang kaligrafi digital, hingga mimpi besarnya membangun “Kampung Kaligrafi” di Kota Palu.

Di tengah aktivitas para santri yang sibuk berlatih, Ustad Arif menjelaskan bahwa para peserta yang akan mengikuti MTQ Ke XXXI Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah saat ini terus melakukan persiapan intensif. Ajang tahunan ini akan dilaksanakan di Kabupaten Sigi sebagai tuan rumah. Tepatnya di Taman Likuifaksi Desa Loru Kecamatan Sigi Biromaru pada awal bulan Juni mendatang.

“Alhamdulillah untuk persiapan mandiri, mereka rutin melakukan simulasi lomba. Awalnya dua minggu sekali, tapi karena sudah mendekati lomba, sekarang hampir setiap minggu mereka simulasi,” ujarnya.

Tak hanya santri dari Kota Palu, sejumlah kafilah dari kabupaten lain juga ikut melakukan pelatihan di Alhasyimi, seperti dari Kabupaten Morowali, Morowali Utara, Sigi hingga Banggai Kepulauan.

Menurutnya, sekitar 80 persen peserta cabang kaligrafi di MTQ tingkat provinsi merupakan santri atau binaan di Pesantren Klaigrafi Alquran Alhasyimi.

“Tidak semua kabupaten memang, tapi sekitar 80 persen terisi oleh kader kita. Hampir semua cabang juga ada, termasuk cabang baru yaitu kaligrafi digital,” katanya.

Kaligrafi Digital Mulai Dilombakan

Pelaksanaan MTQ tingkat provinsi Tahun ini menjadi momentum baru dalam dunia kaligrafi MTQ karena untuk pertama kalinya cabang kaligrafi digital resmi diperlombakan.

Pada kesempatan itu Ustad Arif mengungkapkan, meski masih tergolong baru, Sulawesi Tengah sudah sangat siap mengikuti lombah kaligrafi digital.
“Lombah kaligrafi digital ini sebenarnya gabungan antara kontemporer dan lukisan. Hanya medianya memakai perangkat tablet dan laptop,” jelasnya.

Ia mengatakan, para peserta menggunakan berbagai aplikasi desain seperti Sketchbook, Infinity Paint hingga Photoshop, meski beberapa aplikasi tertentu tidak diperbolehkan panitia lomba.

*Pesertanya sekitar tujuh orang. Enam orang dari binaan kita di sini,” ungkapnya.

Dalam perlombaan, peserta diwajibkan menyimpan dan mengirim progres karya setiap satu jam kepada dewan hakim untuk memastikan originalitas karya dan mencegah penggunaan karya orang lain maupun kecerdasan buatan (AI).

“Jadi setiap satu jam mereka harus store pekerjaan lalu dikirim ke email panitia. Tidak boleh menggunakan jaringan internet selama lomba. Itu untuk menjaga keaslian karya,” jelasnya.

Melahirkan Juara Nasional

Perjalanan panjang Alhasyimi mulai menunjukkan hasil membanggakan. Pada MTQ Nasional 2024 di Kalimantan Timur, salah satu santri Alhasyimi berhasil meraih juara tiga nasional cabang kaligrafi.
“Alhamdulillah, itu kader full Alhasyimi,” katanya bangga.
Namun menurutnya, keberhasilan di bidang kaligrafi tidak bisa diraih secara instan. Dibutuhkan latihan bertahun-tahun, disiplin dan ketelatenan tinggi seorang santri.
“Kaligrafi ini tidak bisa hanya belajar satu dua minggu. Dia butuh waktu panjang. Bukan seperti cabang lain yang cukup menghafal. Kalau kaligrafi, harus bisa mengaplikasikan kaidah dalam karya,” ujarnya.

Di pesantren tersebut, para santri memiliki prinsip latihan “One Day One Ayat”, yakni menulis minimal satu ayat setiap hari.
“Kalau kita sekarang motornya itu one day one ayat. Minimal satu hari satu ayat ditulis,” katanya.

Santri dari Berbagai Daerah

Saat ini terdapat sekitar 20 santri mukim yang tinggal di kompleks pesantren. Namun jumlah keseluruhan kader disebut sudah sangat banyak dan sulit dihitung.

Ia menuturkan bahwa pihaknya pernah melakukan pencatatan santri. “Kalau dihitung semua yang pernah belajar di sini, mungkin sudah lebih dari seribu orang,” ujarnya.

Santri yang datang pun tidak hanya berasal dari Sulteng, tetapi juga dari luar daerah, seperti Kalimantan Utara dan beberapa provinsi lain pernah menimbah ilmu kaligrafi Alquran di Alhasyimi.

“Ada satu santri perempuan dari Kalimantan Utara. Sudah hampir empat tahun di sini sambil kuliah,” katanya.

Selain menjadi tempat belajar, Alhasyimi juga sering menjadi lokasi karantina dan pelatihan bagi kafilah MTQ dari berbagai kabupaten.

“Kita terbuka untuk teman-teman dari daerah lain yang ingin melakukan karantina atau pelatihan di sini,” tambahnya.

Bermula dari Kekecewaan

Ustad Arif mengenang awal mula berdirinya Alhasyimi pada tahun 2001. Saat itu Sulteng menjadi tuan rumah MTQ Nasional Tahun 2000, namun dirinya hanya menjadi peserta cadangan di cabang lomba Kaligrafi Putra.

“Waktu itu menjadi pukulan berat bagi kami di Kota Palu. Kenapa di daerah sendiri kita hanya jadi cadangan. Dari situ muncul motivasi membangun komunitas kaligrafi,” kenangnya.

Dari hanya sekitar 20 murid di awal berdiri, kini Alhasyimi berkembang menjadi pusat pembinaan kaligrafi yang dikenal di Sulawesi Tengah.

Nama “Alhasyimi” sendiri diambil dari tokoh kaligrafer dunia, Hashim Muhammad al-Baghdadi, yang menjadi inspirasi besar dalam dunia kaligrafi Islam.

“Kami belajar banyak dari buku beliau. Karena merasa punya jasa besar, akhirnya nama beliau kami abadikan menjadi nama sanggar,” katanya.

Mimpi Besar Kampung Kaligrafi

Di akhir wawancara, Ustad Arif mengungkapkan mimpi besarnya untuk membangun sebuah “Kampung Kaligrafi” di dalam Kota Palu.

Ia membayangkan sebuah kawasan khusus tempat para kader dan keluarga kaligrafer tinggal bersama, dengan nuansa kaligrafi yang hidup di setiap sudut lingkungan.

“Kalau ada lahan sekitar 10 hektare, kami siap pindah. Di situ nanti anak-anak tumbuh dengan budaya kaligrafi. Mereka lihat kaidah (aturan-aturan dalam kaligrafi) di pohon-pohon, di rumah-rumah, jadi terbiasa sejak kecil,” ujarnya.

Bahkan, ia membayangkan suatu saat di acara-acara pesta pernikahan dan acara keislaman tidak hanya membaca ayat suci Al-Quran, tetapi juga penulisan kaligrafi Al-Qur’an. Hal ini secara langsung bisa menjadi bagian dari budaya dan wisata religi di Kota Palu.

“Kalau itu terwujud, mungkin 10 tahun ke depan kita tidak perlu lagi sibuk mencari kader. Kader yang akan datang sendiri,” tuturnya.

Baginya, perjuangan membangun kaligrafi bukan hanya soal lomba dan prestasi, tetapi tentang meninggalkan warisan ilmu yang terus hidup.

“Saya sering bilang ke anak-anak, kalaupun nanti saya tidak mendapatkan itu semua, mudah-mudahan mereka yang melanjutkan cita-cita ini,” pungkasnya.