MILAN, MAL – Kepergian Franco Baresi pada usia 66 tahun tidak hanya meninggalkan duka bagi AC Milan dan sepak bola Italia, tetapi juga mengingatkan kembali pada pengaruh besar sang legenda dalam membentuk dan memodernisasi gaya bertahan yang menjadi identitas Italia selama puluhan tahun.
Baresi dikenal sebagai figur yang memperkuat filosofi pertahanan Italia yang berakar pada catenaccio, sistem permainan yang mengutamakan organisasi pertahanan yang rapat dan efektif untuk membatasi ruang gerak lawan. Dalam bahasa Italia, catenaccio berarti “kunci”, sebuah istilah yang identik dengan disiplin dan kekuatan bertahan.
Namun, Baresi tidak sekadar menjadi bagian dari sistem tersebut. Ia mengubah peran libero atau sweeper dari sekadar penyapu bola menjadi pemimpin taktis yang mengatur keseluruhan lini belakang.
Pada era 1980-an hingga 1990-an, posisi libero memiliki peran penting dalam sepak bola Italia. Baresi dikenal karena kemampuannya membaca permainan, menentukan posisi, mengatur garis pertahanan, serta mengambil keputusan dalam situasi krusial.
Dengan tinggi badan 176 sentimeter, Baresi tidak mengandalkan keunggulan fisik sebagaimana banyak bek tengah pada masanya. Ia justru menonjol berkat kecerdasan taktis, kemampuan membaca ruang, dan ketepatan dalam melakukan tekel.
Mantan penyerang Liverpool, Ian Rush, pernah menggambarkan kualitas Baresi sebagai bek yang sangat sulit ditaklukkan.
“Kemampuannya membaca pertandingan begitu fantastis. Di Italia, dia adalah bek paling tangguh,” ujar Ian Rush.
Pengaruh Baresi semakin terlihat ketika ia memimpin salah satu lini pertahanan terbaik dalam sejarah sepak bola Eropa bersama Mauro Tassotti, Alessandro Costacurta, dan Paolo Maldini.
Di bawah arahan Arrigo Sacchi dan Fabio Capello, AC Milan menjelma menjadi kekuatan dominan dengan organisasi pertahanan yang sangat solid. Dalam periode tujuh tahun, Milan mencapai lima final kompetisi Eropa dan berhasil meraih tiga gelar juara.
Baresi berperan sebagai koordinator utama di lini belakang. Ia menentukan kapan tim harus melakukan pressing, kapan bertahan lebih dalam, kapan menerapkan jebakan offside, hingga kapan melakukan intervensi melalui tekel. Peran tersebut membuat pertahanan Milan dikenal sangat terorganisasi dan sulit ditembus.
Kontribusi Baresi juga melampaui level klub. Ia menjadi salah satu simbol identitas sepak bola Italia yang selama bertahun-tahun dikenal karena disiplin bertahan dan kecerdasan taktis.
Warisan itu kemudian diteruskan oleh sejumlah bek Italia generasi berikutnya seperti Paolo Maldini, Fabio Cannavaro, dan Alessandro Nesta yang tumbuh dalam budaya pertahanan dengan standar tinggi yang ditetapkan Baresi.
Maldini, yang kemudian mewarisi ban kapten AC Milan, bahkan hanya membutuhkan satu kata untuk menggambarkan sosok pendahulunya tersebut.
“Spesial,” kata Paolo Maldini.
Baresi juga kerap dibandingkan dengan legenda Jerman Franz Beckenbauer yang dikenal sebagai pelopor peran libero modern. Dalam berbagai penilaian sepak bola, Baresi dianggap sebagai salah satu pemain yang menyempurnakan fungsi bertahan dalam posisi tersebut melalui kecerdasan dan kepemimpinan di lapangan.
Selama kariernya, Baresi membantu AC Milan meraih tiga gelar Liga Champions Eropa dan menjadi figur sentral dalam salah satu barisan pertahanan terkuat yang pernah dimiliki klub tersebut.
Warisannya tidak hanya tercermin dari trofi yang diraih, tetapi juga dari perubahan cara pandang terhadap seorang bek. Baresi menunjukkan bahwa pemain bertahan tidak hanya bertugas menghentikan serangan lawan, melainkan juga menjadi pemimpin yang mengatur ritme dan organisasi permainan dari lini belakang. ***
