PALU, MAL – PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG) mengimplementasikan Program Kurikulum Unggulan untuk memperkuat keterkaitan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri.
Inisiatif Kurikulum Unggulan TBIG ini bertujuan memperkecil kesenjangan kompetensi lulusan SMK, terutama di sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital, dengan kualifikasi tenaga kerja di lapangan.
Head of CSR Department TBIG, Arief Wibisono, menjelaskan program Kurikulum Unggulan TBIG ini disusun berdasarkan kebutuhan nyata industri.
Menurutnya, kurikulum ini bukan untuk menilai kualitas pendidikan SMK kurang baik, melainkan merespons perkembangan industri digital yang cepat. Industri yang berkembang pesat menuntut lulusan SMK memiliki keterampilan yang selalu diperbarui agar relevan dengan kebutuhan perusahaan.
Arief merinci, program ini memiliki lima tujuan utama: menciptakan keterkaitan antara dunia pendidikan dan industri, memperkuat kapasitas siswa SMK, meningkatkan kompetensi guru, mengembangkan hard skill dan soft skill siswa, serta meningkatkan peluang kerja lulusan SMK.
Penerapannya mencakup pengembangan kurikulum, pelatihan fiber optik dan Fiber to the Home (FTTH), pelatihan guru, kunjungan industri, program magang, hingga pembelajaran vokasi berbasis praktik.
CSR Advisor TBIG, Fahmi Sutan Alatas, menyatakan Kurikulum Unggulan TBIG lahir dari kebutuhan nyata dalam rantai pasok perusahaan.
Program ini dirancang membantu mitra kerja, khususnya perusahaan berskala kecil, memperoleh sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai standar industri tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk pelatihan.
Fahmi menambahkan, pengalaman TBIG berkolaborasi dengan berbagai sekolah menunjukkan materi pembelajaran SMK sudah baik, termasuk standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Namun, perkembangan teknologi industri yang berlangsung sangat cepat membuat pembaruan kompetensi menjadi kebutuhan penting agar lulusan tetap relevan dengan dunia usaha. Selain pelatihan teknis, peserta juga dibekali kemampuan analisis, komunikasi, disiplin, kerja sama tim, hingga pemecahan masalah.
Setiap peserta wajib mengikuti pre-test dan post-test, dengan nilai minimal 80 sebagai syarat memperoleh sertifikat kompetensi.
Pengukuran keberhasilan program difokuskan pada peningkatan kompetensi peserta, bukan semata-mata pada jumlah lulusan yang terserap di dunia kerja.
Guru SMK 11 Maret Jakarta, M. Andika Prawira, mengungkapkan kerja sama dengan PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG) membawa perubahan pada penyusunan kurikulum sekolah.
Kini sekolah mengkombinasikan kurikulum pemerintah dengan kurikulum industri yang dikembangkan bersama TBIG, membuat materi pembelajaran lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Penerapan kurikulum tersebut juga mendorong SMK 11 Maret menjadi salah satu sekolah di Jakarta yang melaksanakan uji kompetensi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dengan materi utama fiber optik.
Sebelumnya, sebagian besar sekolah masih menggunakan materi kabel UTP dan Mikrotik dalam uji kompetensi.
Bagi siswa, program Kurikulum Unggulan TBIG ini memberikan pengalaman langsung mengenai dunia kerja. Peserta pelatihan memperoleh kesempatan mempelajari instalasi dan penyambungan kabel fiber optik, penggunaan peralatan industri, penerapan K3, serta budaya kerja di sektor telekomunikasi.
Pengalaman ini meningkatkan pemahaman sekaligus kepercayaan diri siswa sebelum memasuki dunia kerja.
Hingga kini, Program Kurikulum Unggulan TBIG telah menjangkau 64 sekolah di 14 provinsi, bekerja sama dengan 17 mitra industri, melatih lebih dari 3.200 siswa dan 105 guru, serta melibatkan 122 peserta magang.
Sebanyak 84 peserta tercatat telah bekerja setelah mengikuti program ini, sementara manfaat pendidikan secara keseluruhan telah dirasakan lebih dari 22.800 siswa.

