JAKARTA, MAL – Pentagon untuk pertama kalinya merilis penghitungan resmi mengenai kerusakan fasilitas dan peralatan militer Amerika Serikat akibat perang dengan Iran.

Laporan Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS yang dirilis Senin (14/9/2026) menyebut serangan Iran pada bulan-bulan pertama perang menyebabkan kerusakan dan kehancuran terhadap ratusan bangunan serta struktur di pangkalan militer AS.

Berdasarkan komunikasi dengan Komando Pusat AS atau CENTCOM, serangan tersebut tercatat mengenai pangkalan Amerika di sedikitnya delapan negara Timur Tengah, yakni Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania.

“Iranian strikes damaged and destroyed hundreds of buildings and structures at US bases,” demikian laporan tersebut.

Laporan mencakup periode sejak perang dimulai pada 28 Februari hingga 30 Juni 2026. Selain kerusakan fisik, dokumen itu juga mengakui konflik telah mengurangi persediaan sejumlah amunisi penting Amerika Serikat.

CNN sebelumnya melaporkan sejumlah aset strategis AS, termasuk instalasi radar pertahanan rudal, mengalami kerusakan pada fase awal perang. Namun, laporan inspektur jenderal menjadi pengakuan formal pertama Departemen Pertahanan AS mengenai luasnya dampak serangan tersebut.

Serangan Iran dan kelompok yang bersekutu dengan Teheran juga memaksa CENTCOM mengubah pola operasi militer Amerika di kawasan.

CENTCOM memindahkan personel, aset, dan fasilitas penyimpanan dari sejumlah lokasi yang dinilai semakin rentan terhadap serangan. Perubahan tersebut menunjukkan meningkatnya risiko terhadap pangkalan AS di Timur Tengah.

Salah satu perubahan terjadi pada sistem evakuasi medis. Helikopter medevac Angkatan Darat AS ditarik dari Irak dan Kuwait sehingga sebagian evakuasi medis harus dilakukan melalui jalur darat menuju fasilitas perawatan lokal.

Tekanan juga terjadi di Bahrain. Pusat regional Angkatan Laut AS di negara tersebut dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan Iran.

Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao sebelumnya menggambarkan fasilitas itu telah “dihantam habis-habisan” oleh Iran. Inspektur jenderal menyebut kerusakan tersebut menjadi tantangan bagi kemampuan Amerika menyediakan pangkalan angkatan laut dan pelabuhan pendukung.

Kerusakan di Bahrain turut mengubah rantai logistik maritim Amerika. Pulau Diego Garcia di Samudra Hindia kemudian digunakan sebagai salah satu pusat logistik laut.

Perubahan tersebut membuat siklus pengiriman kembali pasokan kepada pasukan dan kapal Amerika menjadi lebih panjang, yakni sekitar 14 hingga 18 hari.

Selain fasilitas militer, perang juga berdampak terhadap jaringan diplomatik Amerika Serikat di kawasan. Laporan yang disusun bersama kantor inspektur jenderal Departemen Luar Negeri dan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) memperkirakan kerusakan fasilitas diplomatik mencapai sekitar 184 juta dolar AS.

Nilai tersebut belum mencakup kerusakan terhadap fasilitas militer sehingga total kerugian Amerika Serikat diperkirakan lebih besar.

Fasilitas AS di Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab termasuk yang mengalami tekanan akibat serangan Iran dan kelompok yang bersekutu dengan Teheran.

Pada awal Maret, Kedutaan Besar AS di Riyadh dihantam dua drone Iran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada kompleks diplomatik, termasuk fasilitas CIA yang berada di dalamnya.

Sementara di Dubai, sebuah drone menargetkan Konsulat AS dan merusak bangunan utilitas. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ketika itu mengatakan drone menghantam area parkir yang berdekatan dengan gedung kanselari.

Kedutaan Besar AS di Kuwait juga menghentikan seluruh operasinya pada Maret setelah mengalami kerusakan akibat serangan drone Iran. Layanan darurat bagi warga Amerika baru kembali dibuka pada akhir Juni.

Irak menjadi salah satu lokasi dengan intensitas serangan tinggi. Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS pada Mei menyebut terdapat lebih dari 600 serangan terhadap fasilitas Amerika di negara tersebut.

Kerusakan fasilitas diplomatik di Irak diperkirakan mencapai sekitar 157 juta dolar AS, atau sebagian besar dari total kerugian fasilitas diplomatik Amerika di kawasan.

Meningkatnya ancaman juga membuat Washington menarik ribuan personel diplomatik. Antara 23 Februari hingga 30 Juni, hingga 3.500 personel berada di luar kawasan karena sebagian besar perwakilan AS berstatus authorized departure atau ordered departure.

Beberapa pekan setelah perang dimulai, Departemen Luar Negeri menetapkan status ordered departure bagi Bahrain, Irak, Yordania, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Sebagian besar pos diplomatik Amerika masih menjalankan operasi terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas diplomatik belum sepenuhnya kembali normal meskipun sebagian diplomat dan keluarganya mulai kembali ke kawasan.

Laporan Pentagon tersebut menunjukkan dampak perang tidak hanya berupa kerusakan bangunan. Serangan Iran telah mendorong Amerika Serikat memindahkan personel dan aset, mengubah jalur logistik, menyesuaikan evakuasi medis, serta mengurangi sebagian persediaan amunisi.

Nilai keseluruhan kerugian militer Amerika Serikat hingga kini belum diketahui karena laporan tersebut tidak memberikan estimasi biaya kerusakan pangkalan militer.

Namun, pengakuan mengenai ratusan bangunan dan struktur yang rusak atau hancur menunjukkan dampak serangan telah menyentuh jaringan pangkalan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi strategi Washington setelah perang berakhir, terutama jika pembahasan mengenai pengurangan personel dan fasilitas militer Amerika di kawasan benar-benar direalisasikan.**