SPANYOL kembali berdiri di puncak dunia. Piala Dunia datang lagi ke Madrid. Sorak-sorai memenuhi jalan. Bendera merah-kuning berkibar. Dunia memuji generasi emas baru sepak bola Spanyol.
Bagi banyak orang, kemenangan itu hanya soal olahraga. Bagi sebagian Muslim, mungkin ada yang diam sejenak. Sebab, tanah yang hari ini bernama Spanyol pernah memiliki nama lain dalam lembaran sejarah.
Andalusia.
Selama hampir delapan abad, sebagian Semenanjung Iberia berada di bawah pemerintahan dinasti-dinasti Islam. Masa itu tidak selalu damai. Tidak pula selalu adil. Tetapi sejarah mencatat, dari tanah itulah lahir salah satu pusat peradaban terbesar pada Abad Pertengahan.
Di Córdoba, lampu-lampu jalan telah menyala ketika sebagian besar Eropa masih gelap.
Di perpustakaannya tersimpan ratusan ribu naskah ketika banyak kerajaan lain belum mengenal tradisi membaca yang kuat.
Di Toledo, para cendekiawan menerjemahkan karya-karya Yunani, Persia, dan Arab ke dalam bahasa Latin. Dari sanalah banyak pengetahuan kembali mengalir ke Eropa.
Nama-nama seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Tufail, Al-Zahrawi, dan Abbas ibn Firnas lahir atau berkarya di tanah itu. Mereka berbeda bidang, tetapi memiliki keyakinan yang sama: ilmu adalah jalan memuliakan manusia.
Andalusia bukan sekadar wilayah. Ia adalah simbol. Simbol ketika iman, ilmu, seni, dan politik pernah bertemu dalam satu ruang peradaban.
Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa tidak ada kejayaan yang abadi. Perpecahan di antara kerajaan-kerajaan Islam melemahkan kekuatan politik mereka. Dinasti datang dan pergi. Kota-kota saling berebut pengaruh. Sedikit demi sedikit, wilayah itu direbut kembali oleh kerajaan-kerajaan Kristen dalam proses yang dikenal sebagai Reconquista. Pada 1492, Granada sebagai benteng terakhir pemerintahan Islam di Iberia, jatuh.
Sebuah babak berakhir. Tetapi sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berganti pelajaran.
Hari ini, Spanyol menjadi juara dunia sepak bola. Negara yang sama. Tanah yang sama. Hanya zaman yang berbeda.
Ironisnya, banyak Muslim mengenal nama-nama pemain Spanyol lebih baik daripada mengenal Córdoba, Granada, atau Alhambra. Kita hafal statistik pertandingan, tetapi lupa bahwa di tanah itu pernah berdiri universitas, rumah sakit, observatorium, dan perpustakaan yang memberi sumbangan bagi sejarah ilmu pengetahuan dunia.
Tentu, sejarah tidak boleh dipakai untuk mengklaim kepemilikan atas masa kini. Spanyol modern adalah negara berdaulat dengan identitasnya sendiri. Andalusia Islam adalah bagian dari sejarah, bukan proyek politik yang hendak dihidupkan kembali.
Namun, sejarah layak dikenang karena ia menyimpan pelajaran. Kejayaan tidak diwariskan oleh darah. Ia diwariskan oleh ilmu. Tidak dibangun oleh nostalgia. Melainkan oleh kerja keras.
Al-Qur’an sendiri menempatkan ilmu pada kedudukan yang tinggi. Wahyu pertama yang turun bukanlah perintah berperang, melainkan perintah membaca.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Barangkali di situlah letak pelajaran terbesar Andalusia. Bukan pada luas wilayahnya. Bukan pada istananya. Bukan pada kemegahan masjidnya. Tetapi pada keberaniannya menjadikan ilmu sebagai fondasi peradaban.
Maka ketika dunia merayakan kemenangan Spanyol di lapangan hijau, mungkin ada baiknya umat Islam juga mengingat satu hal.
Tanah itu pernah menjadi saksi bahwa sebuah peradaban dapat mencapai puncaknya bukan hanya karena kuat mengangkat pedang, tetapi karena tekun mengangkat pena.
Dan sejarah selalu berbisik kepada siapa pun yang mau mendengarnya. Peradaban tidak hilang ketika kota jatuh. Peradaban hilang ketika manusianya berhenti belajar.
