ADA kebiasaan yang mungkin dilakukan sebagian orang ketika menghadapi persoalan hidup: membuka Al-Qur’an secara acak, lalu menjadikan ayat yang pertama kali terlihat sebagai bahan untuk mencari jawaban. Seseorang yang sedang bingung tentang pekerjaannya, misalnya, membuka mushaf dan menemukan ayat tentang kesabaran. Ia kemudian merenung, mungkin persoalan yang sedang dihadapinya memang membutuhkan kesabaran.
Dalam bentuk seperti ini, tidak ada persoalan besar. Al-Qur’an memang merupakan petunjuk bagi manusia. Membaca ayat, memahami kandungannya, lalu menjadikannya bahan untuk melakukan introspeksi atau muhasabah merupakan bagian dari hubungan seorang Muslim dengan wahyu.
Masalah muncul ketika cara tersebut naik satu tingkat: ayat yang terbuka secara acak dianggap sebagai jawaban khusus dari Allah atas persoalan yang sedang ditanyakan. Jika ayat yang ditemukan terasa mendukung sebuah pilihan, seseorang menyimpulkan bahwa Allah sedang memerintahkannya untuk memilih pilihan tersebut. Di sinilah antara tadabbur dan pencarian pertanda mulai bercampur.
Al-Qur’an bukan kitab ramalan
Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk, bukan sebagai alat untuk mengundi masa depan. Allah menyebut Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dalam QS. Al-Baqarah ayat 185.
Petunjuk Al-Qur’an bekerja melalui pemahaman terhadap wahyu, bukan melalui posisi halaman atau ayat yang kebetulan terbuka. Ayat memiliki konteks, tujuan, sebab pembicaraan, serta hubungan dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Karena itu, tidak setiap ayat dapat diperlakukan sebagai jawaban langsung atas setiap pertanyaan pribadi.
Bayangkan seseorang sedang mempertimbangkan apakah harus menikah dengan seseorang. Ia membuka Al-Qur’an secara acak dan mendapatkan ayat tentang kasih sayang. Ia kemudian menyimpulkan bahwa itu adalah tanda Allah agar ia menikah.
Kesimpulan tersebut sebenarnya melampaui apa yang dikatakan ayat. Ayat tentang kasih sayang tetap berbicara mengenai kandungan yang dimaksudkan dalam konteksnya. Menjadikannya sebagai keputusan khusus mengenai pasangan tertentu membutuhkan dasar lain.
Hal yang sama berlaku dalam persoalan bisnis. Seseorang yang sedang ragu menjalankan sebuah usaha mungkin membuka mushaf dan menemukan ayat tentang rezeki. Ia lalu menganggap ayat tersebut sebagai jaminan bahwa bisnisnya akan berhasil.
Padahal rezeki memang merupakan bagian dari keyakinan Islam, tetapi ayat tentang rezeki tidak otomatis menjadi ramalan mengenai keberhasilan sebuah usaha tertentu.
Bahaya memaksa ayat berbicara tentang diri sendiri
Persoalan yang lebih serius adalah ketika manusia mulai membaca Al-Qur’an dengan membawa keputusan yang sebenarnya sudah ada di dalam pikirannya.
Seseorang yang ingin mengambil keputusan A akan cenderung lebih mudah merasa menemukan pembenaran ketika membaca ayat yang mendukung A. Sebaliknya, ayat yang tidak sesuai dengan keinginannya mungkin dianggap tidak relevan.
Di sini psikologi manusia ikut bekerja. Dalam kondisi cemas dan tidak pasti, manusia memiliki kecenderungan mencari pola dan makna. Sesuatu yang sebenarnya kebetulan dapat terasa sangat bermakna karena berhubungan dengan persoalan yang sedang memenuhi pikirannya.
Misalnya seseorang sedang takut kehilangan pekerjaan, kemudian secara acak membuka Al-Qur’an dan menemukan ayat tentang kesabaran. Ia merasa ayat itu “tepat sekali” dengan kondisinya. Perasaan tersebut tidak harus dianggap buruk. Justru ia dapat menjadi pintu untuk merenungkan kesabaran.
Tetapi jika dari sana ia menyimpulkan, “Allah sengaja memilih ayat ini untuk memberitahukan bahwa saya harus tetap bertahan di pekerjaan ini,” maka telah terjadi lompatan kesimpulan.
Ayat tersebut dapat menjadi nasihat bagi dirinya, tetapi tidak otomatis menjadi pesan gaib tentang keputusan yang harus diambilnya.
Antara tadabbur dan mencari tanda
Tadabbur berarti berusaha memahami dan merenungkan pesan Al-Qur’an. Dalam tadabbur, seseorang bertanya, “Apa yang ayat ini ajarkan kepada saya?” Ia kemudian berusaha memperbaiki dirinya berdasarkan nilai yang terkandung dalam ayat tersebut.
Pencarian tanda bekerja dengan cara berbeda. Pertanyaannya berubah menjadi, “Apakah ayat ini berarti Allah menyuruh saya melakukan X?”
Perbedaannya tampak kecil, tetapi secara teologis cukup besar.
Dalam tadabbur, manusia menempatkan dirinya sebagai orang yang belajar dari wahyu. Dalam pencarian tanda secara acak, manusia berisiko menempatkan setiap hasil pembukaan mushaf sebagai kode khusus yang harus diterjemahkan untuk dirinya.
Karena itu, seseorang boleh saja membuka Al-Qur’an ketika sedang gelisah. Ia boleh membaca ayat yang ditemukannya, merenungkannya, menangis karenanya, bahkan merasa tersentuh karena ayat itu sangat relevan dengan keadaan dirinya.
Yang perlu dihindari adalah mengklaim sesuatu yang tidak kita ketahui: bahwa Allah secara khusus memilih ayat tersebut sebagai jawaban atas pertanyaan kita.
Kita tidak memiliki dasar untuk memastikan hal semacam itu.
Lalu bagaimana jika sedang bingung mengambil keputusan?
Islam tidak mengajarkan seorang Muslim untuk berjalan tanpa pertimbangan ketika menghadapi pilihan. Ada doa, ikhtiar, ilmu, musyawarah, pertimbangan maslahat dan mudarat, serta istikharah.
Dalam hadis yang diriwayatkan al-Bukhari, Jabir bin Abdullah menceritakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan istikharah kepada para sahabat sebagaimana beliau mengajarkan sebuah surah dari Al-Qur’an.
Yang menarik, tata cara istikharah yang diajarkan Nabi tidak mengandung perintah untuk membuka Al-Qur’an secara acak dan menjadikan ayat yang terlihat sebagai jawaban.
Istikharah juga tidak identik dengan menunggu mimpi. Seseorang tetap melakukan pertimbangan dan ikhtiar. Ia meminta kepada Allah agar perkara yang baik dimudahkan dan perkara yang buruk dijauhkan, kemudian menerima proses dan hasil yang Allah tetapkan.
Dengan demikian, istikharah bukan cara mendapatkan informasi gaib mengenai masa depan. Ia adalah bentuk penghambaan: manusia mengakui keterbatasan pengetahuannya dan meminta Allah memilihkan yang terbaik.
Jangan sampai Al-Qur’an menjadi alat undian
Ada paradoks yang perlu direnungkan.
Kita mengakui Al-Qur’an sebagai wahyu yang agung, tetapi justru dapat merendahkan cara berinteraksi dengannya jika ayat diperlakukan seperti kartu yang diambil secara acak untuk menentukan nasib.
Al-Qur’an bukan kumpulan potongan pesan yang harus diundi untuk menemukan jawaban kehidupan. Ia adalah kitab yang harus dibaca, dipahami, direnungkan, dan diamalkan.
Karena itu, ketika seseorang sedang menghadapi persoalan, ia boleh membuka Al-Qur’an dan membaca ayat apa pun yang ditemuinya. Bisa jadi ayat itu menjadi pengingat yang sangat berharga. Tetapi keputusan hidupnya tidak seharusnya dibangun hanya dari kebetulan halaman yang terbuka.
Jika seseorang menemukan ayat tentang kesabaran, ambillah pelajaran tentang kesabaran. Jika menemukan ayat tentang kejujuran, bercerminlah tentang kejujuran. Jika menemukan ayat tentang tanggung jawab, tanyakan kepada diri sendiri apakah selama ini sudah menjalankannya.
Namun jangan buru-buru berkata, “Ini adalah jawaban Allah atas pertanyaan saya.”
Sebab Al-Qur’an memang berbicara kepada manusia, tetapi memahami apa yang sedang dikatakan Allah membutuhkan ilmu, konteks, dan perenungan. Bukan sekadar melihat ayat mana yang kebetulan terbuka.
Wahyu sebagai petunjuk, bukan kode rahasia
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah seseorang boleh membuka Al-Qur’an secara acak. Persoalannya adalah keyakinan apa yang menyertai tindakan tersebut.
Jika seseorang membukanya untuk mencari ketenangan, membaca ayat, kemudian melakukan introspeksi, itu dapat menjadi pengalaman spiritual yang baik.
Tetapi jika seseorang meyakini bahwa halaman yang terbuka secara acak merupakan cara Allah memberikan keputusan khusus mengenai jodoh, pekerjaan, bisnis, perjalanan atau masa depannya, maka ia telah memasuki wilayah yang jauh lebih problematis.
Seorang Muslim tidak membutuhkan kode rahasia untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk. Petunjuk itu justru terbuka melalui membaca dan memahami wahyu.
Al-Qur’an tidak perlu diundi agar berbicara kepada manusia. Yang dibutuhkan adalah kerendahan hati untuk mendengarkannya.
Dan mungkin di situlah letak perbedaan paling penting: kita datang kepada Al-Qur’an bukan untuk memaksa wahyu menjawab keinginan kita, melainkan untuk membiarkan wahyu mengoreksi cara kita memandang kehidupan.
