PALU, MAL – Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkenalkan ITB Smart-Nursery Backpack atau ransel cerdas untuk Persemaian Rotan Lestari di Hutan Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat (24/07)).
Teknologi inovatif ini dikembangkan guna mengatasi rendahnya tingkat keberhasilan regenerasi bibit rotan yang seringkali gagal pada fase perkecambahan dan pertumbuhan awal.
Dr. Acep Purqon, Ph.D., Ketua tim pelaksana ITB, menyatakan, ransel cerdas ini dirancang sebagai unit persemaian portabel. Ini memungkinkan bibit rotan dirawat di lingkungan rumah sebelum kemudian dikembalikan ke kawasan hutan. Inovasi ini diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan peluang hidup bibit rotan.
“Ransel Cerdas untuk Persemaian Rotan Lestari, kami rancang sebagai teknologi yang dapat dikendalikan melalui telepon pintar, untuk mengatur sistem sensor secara otomatis. Dengan teknologi ini, masyarakat dan petani rotan dapat berperan langsung membantu proses perkecambahan dan perawatan bibit rotan pada fase kritis selama tiga bulan pertama, langsung dari rumah,” kata Acep.
Menurutnya, tingkat keberhasilan hidup bibit rotan di habitat alami saat ini umumnya tidak melebihi lima persen. Kondisi ini disebabkan banyaknya biji yang gagal berkecambah serta tingginya kerentanan bibit muda terhadap serangan hama dan tekanan lingkungan.
Setiap unit ransel memiliki kapasitas 50 hingga 100 bibit rotan. Perangkat ini dilengkapi dengan sistem penyiraman otomatis, sensor kelembapan, lampu ultraviolet (UV), dan pelindung dari hama, memastikan bibit dapat dipantau dan dirawat secara optimal pada fase awal pertumbuhan. Teknologi ini menjadi kunci keberhasilan regenerasi rotan.
Program ini merupakan hasil kolaborasi tim lintas fakultas ITB bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nupabomba. Implementasinya turut melibatkan Pemerintah Desa Nupabomba, komunitas petani rotan, serta PT Bamba Rattan Furniture di Palu sebagai mitra industri.
Deny Willy Junaidy, Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, menjelaskan bahwa keterlibatan pelaku industri sangat penting untuk memastikan transfer pengetahuan dari masyarakat hingga dunia usaha.
“Keterlibatan PT Bamba Rattan Furniture sebagai representasi industri kecil dan menengah, memastikan proses transfer pengetahuan berlangsung dari komunitas petani hingga mitra usaha. Dengan demikian, terbentuk alih pengetahuan yang utuh dari hulu hingga hilir,” ujar Deny.
Sebelum diterapkan di Nupabomba, prototipe Ransel Cerdas ini dikembangkan menggunakan teknologi pencetakan tiga dimensi (3D printing) di Furniture & Living Lab FSRD ITB.
Selanjutnya, perangkat dipadukan dengan sistem kendali berbasis aplikasi, memungkinkan pengoperasian melalui telepon pintar.
Tim pelaksana program dipimpin oleh Acep Purqon dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, dengan anggota Deny Willy Junaidy dari FSRD ITB, Prof. Ramadhani Eka Putra dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, serta sejumlah mahasiswa ITB.
Pihak ITB berharap model persemaian berbasis konsep “Forest-to-Home” ini dapat menjadi alternatif efektif dalam mendukung pelestarian hutan, meningkatkan regenerasi rotan, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di kawasan penghasil rotan melalui keterlibatan langsung dalam proses pembibitan. ***
