YORDANIA, MAL – Iran melancarkan serangan rudal balistik ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di dekat Azraq, Yordania, pada Selasa malam hingga Rabu dini hari (8-9 September 2026).

Serangan yang menggunakan sekitar 20 rudal balistik tersebut dilaporkan merusak satu pesawat A-10 Thunderbolt II dan delapan jet tempur F-15 Strike Eagle milik Amerika Serikat, meski tidak menimbulkan korban jiwa.

Pangkalan Udara Muwaffaq Salti yang menjadi sasaran berada sekitar 100 kilometer timur laut Amman, ibu kota Yordania.

Serangan dilakukan menggunakan rudal balistik yang dilengkapi hulu ledak klaster dan memicu respons pertahanan udara AS serta Yordania dengan menembakkan puluhan rudal pencegat Patriot.

Angkatan Bersenjata Yordania menyatakan berhasil mencegat 18 dari 20 rudal yang diluncurkan Iran.

“18 dari 20 rudal Iran berhasil dicegat, sementara dua rudal lainnya jatuh di wilayah terbuka,” demikian pernyataan Angkatan Bersenjata Yordania.

Meski sebagian besar rudal berhasil dicegat, sejumlah aset militer AS dilaporkan mengalami kerusakan. Seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim menyebut delapan jet tempur F-15 Strike Eagle mengalami kerusakan ringan dan telah kembali beroperasi.

“Pesawat A-10 mengalami kerusakan parah hingga salah satu sayapnya hilang. Sedangkan delapan jet tempur F-15 mengalami kerusakan ringan dan telah dikembalikan ke status operasional,” ujar pejabat AS.

Koresponden CBS News Jennifer Jacobs juga melaporkan bahwa satu pesawat A-10 Thunderbolt II terkena rudal hingga kehilangan satu sayap, sementara sekitar delapan jet F-15 mengalami kerusakan ringan dan menjalani perbaikan.

Menurut Iran, serangan tersebut merupakan “operasi hukuman” sebagai respons atas tindakan AS yang menghancurkan sejumlah kapal tanker minyak Iran dalam beberapa hari terakhir.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan Angkatan Kedirgantaraannya menyerang pangkalan udara AS di Yordania sebagai balasan atas apa yang disebut sebagai agresi Amerika terhadap kapal tanker minyak Iran.

Ketegangan meningkat setelah AS menghancurkan delapan kapal tanker Iran dalam kurun kurang dari sepekan. Lima kapal dihancurkan pada 8 September 2026 dan tiga lainnya pada 5 September 2026.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan awak kapal tanker telah diperintahkan meninggalkan kapal sebelum serangan dilakukan.

“Awak kelima kapal telah diperintahkan meninggalkan kapal sebelum serangan dilakukan,” kata CENTCOM.

Selain dampak militer, serangan tersebut juga memicu biaya pertahanan yang besar. Diperkirakan antara 30 hingga 100 rudal Patriot ditembakkan untuk menghadapi 20 rudal Iran. Dengan harga satu rudal PAC-3 MSE sekitar US$5 juta, biaya intersepsi diperkirakan mendekati US$500 juta.

Ketegangan di kawasan juga berdampak pada pasar energi. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya mencapai US$99,46 per barel pada 8 September 2026 dilaporkan telah menembus US$100 per barel.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan mengenai kerusakan pesawat militer AS akibat serangan tersebut.

“Tidak… Sama sekali tidak ada. Tidak ada kerusakan. Tidak ada apa-apa,” kata Trump dalam wawancara dengan NewsNation.

Hingga Jumat (11/9/2026), konflik antara AS dan Iran masih berlangsung. Belum ada laporan korban jiwa dari pihak AS akibat serangan di Yordania, namun pejabat Amerika memperingatkan kemungkinan adanya laporan cedera otak traumatis pada sejumlah personel dalam beberapa hari mendatang.