PALU, MAL – Hilirisasi komoditas unggulan Sulawesi Tengah mulai diarahkan menjadi produk industri bernilai tambah.
Ketua KADIN Poso Andy Abdi Wahid bersama Gubernur Sulawesi Tengah dan sejumlah pelaku usaha menandatangani Nota Kesepakatan Kerja Sama Hilirisasi Komoditas Unggulan Sulteng, dengan Ice Cream Nambaso menjadi salah satu produk yang dikembangkan.
Kesepakatan itu melibatkan KADIN Poso, KADIN Parigi Moutong, KADIN Morowali, KADIN Sigi, serta pengusaha industri dan hilirisasi Surya Getto. Komoditas yang menjadi bahan pengembangan meliputi durian, kopi, kelapa, dan kakao.
Bagi Poso, kerja sama tersebut membuka peluang pengolahan hasil perkebunan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Data BPS 2024 mencatat produksi durian Poso mencapai 170.639,21 kuintal atau sekitar 17 ribu ton.
Ketua KADIN Poso Andy Abdi Wahid mengatakan dunia usaha memiliki peran penting agar komoditas daerah tidak berhenti sebagai bahan mentah.
“Ini bukan sekadar membuat es krim. Ini adalah bagaimana komoditas Sulteng kita naik kelas, dari hasil kebun menjadi produk industri yang memiliki nilai tambah dan mampu berbicara di pasar global,” ujarnya.
Produk Ice Cream Nambaso dikembangkan dengan berbagai varian dan diarahkan tidak hanya untuk pasar nasional, tetapi juga membuka peluang pemasaran ke luar negeri.
Penandatanganan tersebut berlangsung dalam momentum “Deklarasi Perkarantinaan: Gerakan 1000 Pengusaha UMKM dari Bumi Tadulako Menuju Pasar Global” dan dihadiri Menteri UMKM Maman Abdurrahman, Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding, Gubernur Sulteng Anwar Hafid, Wakil Gubernur Reny Lamadjido, serta Ketua Umum KADIN Sulteng, Gufran Ahmad.
Kerja sama ini menandai upaya mempertemukan potensi komoditas daerah dengan industri pengolahan, sehingga hasil perkebunan Sulteng dapat dipasarkan dalam bentuk produk jadi dengan merek dan nilai tambah yang lebih besar. **
