Hari Pertama Bekerja, Gubernur Sulteng Didemo

oleh -
Warga penyintas menuntut penuntasan Hunian Tetap dan stimulan kepada Gubernur baru Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura, di kantor Gubernur Sulteng, Senin (21/6). ist

PALU – Hari pertama Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah ( Sulteng) Rusdy Mastura dan Ma’mun Amir berkantor, keduanya sudah didemo oleh warga di Kabupaten Donggala, khususnya di tiga desa Loli Dondo,Loli Pesua dan Loli Tasiburo.

Demo tersebut, terkait hunian tetap dan stimulasi yang belum tuntas penyelesaiannya oleh Pemerintah Kabupaten Donggala.

Koordinator Aksi dari penyitas Putra mengatakan, sudah berulang diskusi dilakukan bersama pemerintah, namun dalam proses pelaksanaannya justru bermunculan masalah-masalah baru. Mulai dari data penyintas yang berantakan, lahan hutap relokasi yang terindikasi merugikan uang negara karena berada di zona rawan bencana, pencairan dana stimulan yang diskriminatif dan menimbulkan konflik sosial antar warga, hingga minimnya sosialisasi terkait hak-hak pendataan korban bencana yang berada di zona rawan bencana.

Amir perwakilan dari penyitas Kabupaten Sigi mengatakan, masalah ini sudah tiga tahun belum juga terselesaikan. Ini merupakan tanggung jawab gubernur Sulteng yakni Rusdy Mastura.

“Ini masalah bencana gempa tsunami dan likuifaksi yang terjadi di Kota Palu, Donggala dan Kabupaten Sigi adalah tanggung jawab gubernur Sulteng. Untuk itu kami meminta Rusdy Mastura untuk dapat bertanggung jawab atas masalah ini yang tidak pernah tuntas,” ujar Amir di depan peserta demo di Halaman Kantor Gubernur Sulteng, Senin (22/6).

Salah seorang warga dari Loli Pesua Astita mengatakan, kedatangannya ke kantor gubernur, meminta bantuan kepada gubernur untuk menyesaikan dana stimulan yang sampai saat ini belum cair.

“Saya bersama teman dari desa Loli Pesua meminta segera cairkan dana stimulan kami,” ujar Astita.

Sementara itu Gubernur Sulteng Rusdy Mastura, saat demo berlangsung sedang berada di gedung DPRD Sulteng tengah melakukan serah terima jabatan, dari Gubernur sebelumnya Longki Djanggola.

Reporter: Irma/Editor: Nanang