PALU – Peringatan Haul ke-58 Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau Guru Tua di Kompleks PB Alkhairaat, Jalan SIS Aljufri, Palu Barat, Rabu (01/04), menjadi ruang refleksi mendalam tentang keteladanan ulama dalam menyatukan kealiman, keilmuan, dan kezuhudan sebagaimana jejak para salihin dan ulama terdahulu.

Ketua Utama Alkhairaat, HS Alwi bin Saggaf Aljufri, menyampaikan, kehadiran jemaah dalam haul tidak semata-mata bernilai seremonial, melainkan bagian dari upaya spiritual untuk mengambil pelajaran dan meneladani kehidupan Guru Tua.

“Tentunya kehadiran kita di sini ingin mendapatkan barokah, rahmat Allah Subhanahu Wa’ Taala. Tentunya tidak sekedar harapan duniawi semata yang kita kejar. Namun yang lebih berharga dan utama dari semua itu sebagaimana hal-hal keteladanan yang tersampaikan. Dapat kita ambil pelajaran bagaimana kita dapat membulatkan tekad kita untuk dapat meneladani sosok yang karenanya kita hadir di sini,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa inti dari peringatan haul adalah memahami dan meneladani bagaimana Guru Tua menjalani hidupnya yang penuh makna dan pengabdian.

“Meneladani bagaimana Guru Tua mengisi kehidupannya serta bagaimana sosok guru tua mengisi hidupnya begitu berarti, berguna untuk kepentingan orang banyak, mengajar, membangun sekolah, madrasah, mempersiapkan tenaga pengajar,” lanjutnya.

Dalam pandangannya, keteladanan Guru Tua tidak bisa dilepaskan dari tradisi panjang para ulama dan orang-orang saleh terdahulu (salaf), yang menjadikan kehidupan mereka sebagai cermin nilai-nilai keikhlasan dan kesucian hati.

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk meneladani dan menjadikan mereka orang-orang salihin dari para salaf kita sebagai teladan kita. Merekalah orang-orang yang telah Allah berikan petunjuk kepada mereka. Maka ikutilah petunjuk mereka,” katanya.

Mengutip langsung pesan Guru Tua, ia menegaskan pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap amal.

“Wahai orang-orang yang mengharapkan kebaikan. Selalulah engkau terjaga, jaga keikhlasanmu saat kau beramal untuk Tuhanmu dan ikutilah sebaik-baik manusia,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kisah para nabi dalam Al-Qur’an menjadi landasan penting dalam membentuk keteguhan hati umat.

“Dan semua cerita para nabi-nabi sebelummu telah kami ceritakan kepadamu… untuk meneguhkan hatimu,” kutipnya dari Surah Hud ayat 120.

Lebih jauh, Alwi mengaitkan sosok Guru Tua dengan ungkapan Imam Syafi’i tentang keutamaan manusia yang tetap hidup meski telah wafat.

“Betapa banyak orang-orang yang telah mati akan tetapi keutamaan mereka masih hidup. Dan sebaliknya, betapa banyak orang yang hidup tapi mereka tidak berarti di tengah-tengah manusia,” ujarnya.

Menurutnya, hal itu tercermin jelas pada diri Guru Tua dan para ulama terdahulu, yang meski telah tiada, karya dan perjuangannya tetap hidup dan dirasakan hingga kini.

“Karya mereka masih kita rasakan. Kemuliaan mereka masih menjadi perbincangan orang. Amalan-amalan mereka masih dijalankan. Sejarah perjuangan mereka masih terus dikenang,” katanya.

Ia juga menggambarkan kehidupan para salihin sebagai sosok yang mencapai tingkat kemurnian jiwa dan kesucian hati yang tinggi.

“Kehidupan mereka penuh dengan kemurnian, penuh dengan kesucian, tidak ada kebencian dan kedengkian,” jelasnya.

Mengutip kisah dari Imam Hasan Al-Basri, ia menyampaikan gambaran tentang generasi sahabat yang memiliki keteguhan iman dan kezuhudan luar biasa.

“Aku telah menemui suatu kaum yang apabila kalian melihat mereka kalian akan katakan mereka itu gila… karena terputusnya ketergantungan mereka dengan dunia,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, Guru Tua dinilai sebagai representasi nyata dari nilai-nilai tersebut. Ia tidak hanya berdakwah, tetapi juga membangun fondasi pendidikan Islam melalui madrasah dan pesantren, serta mencetak generasi pendidik.

“Beliau mencari nafkah tidak saja untuk diri dan keluarganya, namun untuk menghidupi sekolah, madrasah, juga anak didiknya, bahkan membantu biaya pernikahan muridnya,” ungkapnya.

Seluruh hasil perjuangan itu, kata Alwi, tidak dinikmati secara pribadi, melainkan diwakafkan untuk umat.

“Semua yang ia dapatkan dan capai dalam perjuangannya, beliau wakafkan untuk umat,” tegasnya.

Perjuangan Guru Tua juga diwarnai pengorbanan besar, termasuk menempuh perjalanan berat demi dakwah.

“Beliau berjuang hingga usia yang tidak lagi muda, membelah ombak ke Maluku Utara dan Kalimantan. bahkan harus menggunakan kendaraan sederhana seperti gerobak hingga truk,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pengorbanan tersebut merupakan pelajaran penting tentang makna kehidupan sejati.

“Beliau memangkas kenikmatan hidup hanya demi tersampaikan pesan kebaikan untuk sesama,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan zaman kini semakin kompleks, mulai dari maraknya hoaks hingga degradasi moral di tengah masyarakat.

“Banyak berita-berita hoaks yang sering berseliweran di media sosial yang dianggap benar… masyarakat mudah terprovokasi,” katanya.

Dalam situasi tersebut, nilai keikhlasan, keteguhan iman, dan kedekatan kepada Allah menjadi kunci utama sebagaimana diteladankan para salihin.

“Mereka adalah orang-orang yang memenuhi janji mereka kepada Allah dengan penuh keikhlasan… teguh dalam iman baik di masa senang maupun susah,” ujarnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga dan melanjutkan perjuangan Guru Tua kini berada di tangan generasi saat ini.

“Kini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan melanjutkan perjuangannya,” tegas Habib Alwi.