PALU – Forum Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Tengah (FKUB) Sulawesi Tengah menggelar buka puasa bersama dan silaturahmi lintas sektoral bertajuk “Ramadan Inklusif: Bergerak Bersama, Merawat Kerukunan, Meningkatkan Harmoni Sosial untuk Sulteng Nambaso” di Palu, Kamis (26/2) sore.
Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama dengan Wahana Visi Indonesia Sulawesi Tengah dan dihadiri sejumlah unsur pimpinan daerah, di antaranya Kasdam XXIII/Palaka Wira Brigjen TNI Agus Sasmita, Wakapolda Sulteng Irjen Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf, serta Kepala Badan Kesbangpol Sulteng Drs. Dahri Saleh.
Ketua FKUB Sulteng Prof. Zainal Abidin dalam tausyiahnya menjelaskan bahwa ibadah puasa tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban ritual, tetapi harus menghadirkan dampak nyata terhadap kepedulian sosial dan peningkatan akhlak.
“Dengan berpuasa kita belajar merasakan lapar dan haus. Itu mengajarkan kita memahami kondisi orang lain yang mungkin merasakan lapar lebih panjang dari kita, bahkan tidak memiliki apa-apa untuk diminum,” ujarnya.
Menurutnya, nilai-nilai puasa seharusnya meningkatkan kepedulian terhadap sesama, khususnya masyarakat kurang mampu. Ia mencontohkan kewajiban membayar fidyah bagi yang tidak mampu berpuasa, yang diberikan kepada fakir miskin sebagai bentuk kepedulian dan kontribusi terhadap kesejahteraan sosial.
“Puasa harus berdampak pada akhlak dan harmoni sosial. Jika seseorang berpuasa tetapi tidak membawa perubahan pada budi pekertinya, tidak semakin santun, ramah, dan peduli, maka puasanya tidak memberi manfaat sosial,” tegasnya.
Prof. Zainal juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lintas agama dalam merawat kerukunan di Sulawesi Tengah. Tema bergerak bersama, kata dia, menjadi pesan bahwa menjaga harmoni tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.
“Kita ingin puasa yang kita jalankan tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada orang lain. Karena itu kita harus bergerak bersama, merawat kerukunan dan meningkatkan harmoni sosial,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi dan forum untuk menghimpun masukan dari berbagai pihak dalam rangka memperkuat kerukunan antarumat beragama di Provinsi Sulawesi Tengah. Menurutnya, perbedaan keyakinan merupakan sunnatullah atau ketetapan Tuhan yang tidak bisa dihindari. Namun perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk berkonflik.
“Masing-masing kita meyakini kebenaran agama kita. Biarlah Tuhan yang menentukan posisi kita di hadapan-Nya kelak. Yang terpenting hari ini adalah bagaimana kita hidup rukun, saling menghargai, dan bekerja sama meskipun berbeda,” tandasnya.
Nanang IP

