MAL – Fenomena “fibermaxxing” sedang ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial, terutama TikTok, mendorong banyak orang untuk secara drastis meningkatkan asupan serat harian mereka.
Tren ini muncul sebagai respons terhadap kesadaran akan pentingnya serat bagi kesehatan, namun sekaligus memicu pertanyaan seputar keamanan dan efektivitasnya jika diterapkan secara berlebihan.
Apa Itu Tren Fibermaxxing?
Fibermaxxing adalah istilah yang merujuk pada praktik meningkatkan asupan serat secara signifikan, baik untuk mencapai maupun melebihi anjuran serat harian. Tren ini mendapatkan momentum di media sosial sejak 2025 dan terus menjadi topik hangat hingga 2026, dengan banyak individu berbagi pengalaman mereka dalam mengonsumsi “bertumpuk-tumpuk” serat.
Tara M. Schmidt, RDN, LD, seorang ahli gizi terdaftar utama di Mayo Clinic, menjelaskan bahwa fibermaxxing pada dasarnya adalah upaya untuk mengonsumsi “a ton of fiber” guna memenuhi, atau lebih mungkin melebihi, rekomendasi asupan serat harian. Ini merupakan bagian dari kebiasaan makan tinggi serat yang dipopulerkan ulang di TikTok dan kemudian meluas dibahas oleh media kesehatan, gaya hidup, dan institusi medis besar.
Mengapa Fibermaxxing Begitu Populer?
Popularitas tren fibermaxxing tidak terlepas dari beberapa faktor kunci. Banyak orang dinilai masih kekurangan serat dalam pola makan sehari-hari, padahal serat dikenal memiliki kaitan erat dengan kesehatan pencernaan yang optimal, membantu menjaga rasa kenyang lebih lama, dan berkontribusi pada kesehatan jangka panjang. Selain itu, praktik ini terlihat sederhana, tidak menuntut biaya suplemen yang mahal, dan mudah diadaptasi sebagai bagian dari perubahan gaya hidup.
Sara J. Riehm, RD dari Orlando Health Center for Improvement, menyatakan bahwa fibermaxxing bertujuan untuk memenuhi bahkan melebihi kebutuhan serat harian yang direkomendasikan, yaitu sekitar 25 hingga 38 gram untuk orang dewasa. Angka rekomendasi ini menjadi patokan bagi individu yang ingin mencoba tren ini.
Memahami Keamanan dan Risiko Fibermaxxing
Secara umum, sejumlah ahli gizi dan dokter sepakat bahwa fibermaxxing relatif aman untuk sebagian besar orang jika dilakukan dengan cara yang benar. Tara M. Schmidt dari Mayo Clinic menyebut, “For most people, fibermaxxing is likely safe.” Kunci keamanannya terletak pada penerapan yang bertahap dan disertai dengan hidrasi yang memadai.
Peningkatan Serat Bertahap dan Hidrasi
Para ahli menyarankan bahwa peningkatan asupan serat harus dilakukan secara perlahan, bukan mendadak. Hal ini memberikan waktu bagi sistem pencernaan untuk beradaptasi. Steph Grasso, seorang ahli gizi yang aktif di media sosial, mengingatkan akan risiko jika serat dinaikkan terlalu cepat.
Risiko utama dari kenaikan serat yang terlalu cepat adalah ketidaknyamanan pencernaan, seperti gas, kembung, atau nyeri perut. Dr. Staller, dalam sebuah liputan, mengingatkan bahwa, “Kalau tubuhmu belum terbiasa, lonjakan serat bisa menyebabkan perut kembung, begah, atau nyeri.” Oleh karena itu, kecukupan asupan cairan, terutama air, adalah komponen penting dari praktik fibermaxxing yang aman.
Seperti diungkapkan Schmidt, “As you increase your fiber intake, make sure you’re increasing fluid intake.” Dengan kata lain, semakin banyak serat yang dikonsumsi, semakin banyak pula kebutuhan cairan tubuh yang harus dipenuhi.
Siapa yang Harus Berhati-hati?
Meskipun fibermaxxing umumnya aman, ada beberapa kelompok individu yang disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terlebih dahulu sebelum mencoba tren ini. Mereka termasuk orang dengan gangguan pencernaan tertentu seperti divertikulitis, sindrom iritasi usus besar (IBS), atau riwayat sumbatan usus. Penting untuk diingat bahwa tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi, dan gejala awal seperti gas atau kembung tidak selalu berarti asupan serat harus dihentikan sepenuhnya, melainkan perlu penyesuaian.
Praktik Fibermaxxing dalam Keseharian
Praktik fibermaxxing melibatkan penambahan makanan tinggi serat ke dalam pola makan. Sumber serat alami yang direkomendasikan antara lain:
-
Buah-buahan segar seperti apel, pir, dan beri.
-
Sayuran hijau gelap seperti brokoli, bayam, dan kangkung.
-
Kacang-kacangan seperti buncis, lentil, dan kacang polong.
-
Biji-bijian utuh seperti oat, roti gandum utuh, dan beras merah.
Dengan fokus pada makanan padat nutrisi ini dan memastikan hidrasi yang cukup, individu dapat mendekati atau bahkan melampaui rekomendasi serat harian dengan cara yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Melihat Tren Fibermaxxing di Indonesia
Tren fibermaxxing tidak hanya populer di kancah global tetapi juga mendapatkan perhatian di Indonesia. Sejak 2026, sejumlah media nasional kembali mengulas fibermaxxing sebagai tren diet yang fokus pada serat, menunjukkan relevansinya di tengah masyarakat yang semakin peduli akan gaya hidup sehat. Ini adalah fenomena gaya hidup dan nutrisi, bukan isu regulasi pemerintah atau hukum.
