MOROWALI, MALPemerintah Kabupaten (Pemkab) Morowali membentuk Forum Sinergi Morowali (FORWALI) sebagai wadah komunikasi lintas sektor untuk mencegah munculnya persoalan sosial, lingkungan, dan ketenagakerjaan di tengah pesatnya perkembangan industri daerah.

Pembentukan FORWALI ditandai dengan pelaksanaan Kick-Off Meeting yang dibuka Sekretaris Daerah (Sekda) Morowali, Yusman Mahbub, di ruang rapat Kantor Bupati Morowali, Kamis (9/7).

Forum tersebut menjadi ruang koordinasi antara pemerintah daerah, dunia usaha/industri, serta masyarakat dalam membahas berbagai isu strategis yang berkembang di Kabupaten Morowali.

Kegiatan itu turut dihadiri Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Tahir, unsur Forkopimda, pimpinan OPD lingkup Pemkab Morowali, Ketua Adat Tobungku, para camat, perwakilan perusahaan, serikat pekerja, serta berbagai elemen masyarakat.

Dalam sambutannya, Sekda Morowali Yusman Mahbub mengatakan keberadaan forum komunikasi yang inklusif menjadi salah satu kunci dalam memperkuat pembangunan daerah.

Menurutnya, semakin banyak ruang dialog yang dibangun, maka semakin besar peluang pemerintah, perusahaan, dan masyarakat menemukan solusi bersama terhadap berbagai persoalan.

“Semakin banyak ruang komunikasi dan forum diskusi yang terbentuk, maka akan semakin besar pula peluang kita membangun Morowali yang lebih baik. FORWALI diharapkan menjadi media strategis untuk menyampaikan aspirasi dan memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan,” ujar Yusman.

Ia menjelaskan, FORWALI tidak hanya menjadi wadah komunikasi, tetapi juga merupakan inovasi daerah yang akan diuji secara akademis melalui program Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II di Lembaga Administrasi Negara (LAN).

“Forum ini tidak hanya sebagai wadah komunikasi, tetapi juga menjadi inovasi yang akan diuji secara ilmiah. Harapannya, FORWALI dapat menjadi model kolaborasi efektif dalam menangani berbagai persoalan daerah,” katanya.

Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, Tahir, menjelaskan FORWALI hadir dengan pendekatan preventif untuk menyelesaikan persoalan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Menurutnya, selama ini penyelesaian berbagai persoalan sering dilakukan setelah masalah muncul. Melalui FORWALI, pemerintah ingin memperkuat langkah pencegahan dengan membangun komunikasi rutin antar pihak terkait.

“Forum ini kita dorong bersifat pencegahan. Kita ingin merespons isu-isu yang berkembang sejak dini sebelum menjadi konflik besar. Selama ini pendekatan yang dilakukan cenderung reaktif, sehingga melalui FORWALI kita perkuat dialog rutin dan kolaborasi lintas sektor,” jelas Tahir.

Ia menambahkan, FORWALI akan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, dunia usaha, TNI/Polri, serikat pekerja, LSM, hingga masyarakat. Forum ini juga akan dilengkapi sistem pengaduan dan mekanisme kerja yang terstruktur untuk menampung aspirasi.

Dari unsur adat, Ketua Adat Tobungku Maidhzun Ilwan Ridwan menyambut baik pembentukan FORWALI. Ia berharap forum tersebut menjadi ruang bersama untuk menjaga keharmonisan daerah.

“Forum ini harus menjadi ruang bersama untuk menjaga keharmonisan daerah. Semua pihak harus berperan aktif dan fokus pada solusi, bukan saling menyalahkan,” ungkapnya.

Perwakilan serikat pekerja juga menilai FORWALI dapat menjadi wadah strategis untuk membahas berbagai isu ketenagakerjaan, termasuk peluang kerja bagi tenaga lokal dan pengawasan kebijakan di kawasan industri serta pertambangan.

Sementara itu, perwakilan Kepolisian memberikan apresiasi terhadap pembentukan FORWALI sebagai langkah inovatif pemerintah daerah dalam menyelesaikan persoalan secara preventif dan kekeluargaan.

Ia berharap forum tersebut tetap berjalan objektif dan tidak dipolitisasi agar benar-benar menjadi solusi bagi masyarakat.

Kegiatan Kick-Off Meeting pembentukan FORWALI kemudian ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh peserta sebagai bentuk dukungan terhadap terbentuknya forum sinergi tersebut. ***