MAL – Diabetes tipe 2 yang selama ini identik dengan kelompok usia 40 tahun ke atas kini semakin sering ditemukan pada remaja dan dewasa muda, termasuk mereka yang berusia 20-an.
Fenomena ini menjadi perhatian para ahli kesehatan karena terjadi pada kelompok usia produktif yang seharusnya berada dalam kondisi fisik terbaik. Berbagai data terbaru menunjukkan bahwa penyebabnya bukan hanya konsumsi gula berlebih, melainkan kombinasi gaya hidup modern, obesitas, kurang aktivitas fisik, hingga faktor genetik.
Peningkatan kasus diabetes pada usia muda juga berdampak luas terhadap produktivitas, kualitas hidup, dan beban biaya kesehatan di masa depan. Karena itu, memahami faktor pemicunya menjadi langkah penting untuk mencegah penyakit ini berkembang lebih jauh.
Gambaran Umum
Di Indonesia, diabetes masih menjadi salah satu penyakit tidak menular dengan jumlah penderita yang terus meningkat. Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam <a href=”https://bmjopen.bmj.com/” target=”_blank”>BMJ Open</a> pada September 2025, prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 11,3 persen pada 2023.
Jumlah penyandang diabetes diperkirakan meningkat dari 18,6 juta orang pada 2013 menjadi sekitar 23,9 juta orang pada 2023. Meski beban terbesar masih terjadi pada kelompok usia lebih tua, para pakar dan institusi kesehatan mencatat bahwa diagnosis diabetes kini semakin sering muncul pada kelompok usia 20 hingga 30 tahun.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono bahkan mengingatkan bahwa kasus diabetes tipe 2 kini mulai ditemukan pada remaja hingga anak usia SMP.
“Dulu diabetes tipe 2 identik dengan usia 40 atau 50 tahun ke atas. Tetapi hari ini dan ini yang membuat saya tidak bisa tenang sebagai seorang dokter kita mulai melihatnya muncul pada remaja, bahkan beberapa kasus pada anak usia SMP,” kata Dante.
5 Pemicu Utama Diabetes pada Usia 20-an
1. Kurang Aktivitas Fisik dan Terlalu Lama di Depan Layar
Perubahan pola hidup menjadi salah satu faktor terbesar yang dikaitkan dengan meningkatnya diabetes pada generasi muda.
Banyak anak muda menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, ponsel, atau perangkat digital lainnya. Aktivitas fisik yang rendah membuat tubuh membakar lebih sedikit energi sehingga meningkatkan risiko resistensi insulin, kondisi ketika sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal.
Menurut Kementerian Kesehatan, mengurangi waktu di depan layar dan meningkatkan aktivitas fisik merupakan langkah penting dalam pencegahan diabetes.
2. Konsumsi Minuman Manis dan Makanan Ultra-Proses
Makanan ultra-proses dan minuman tinggi gula kini menjadi bagian dari pola makan harian banyak anak muda.
Asupan kalori yang berlebihan dalam jangka panjang dapat memicu peningkatan berat badan dan gangguan metabolisme. Para pakar menegaskan bahwa gula memang berperan dalam peningkatan risiko diabetes, tetapi bukan satu-satunya penyebab.
Pola makan secara keseluruhan, termasuk frekuensi konsumsi makanan cepat saji dan produk ultra-proses, turut memengaruhi kesehatan metabolik seseorang.
3. Obesitas Menjadi Faktor Risiko Terkuat
Data nasional menunjukkan bahwa obesitas merupakan salah satu prediktor paling kuat terhadap diabetes.
Dalam studi BMJ Open berbasis data Riskesdas dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), individu dengan obesitas atau indeks massa tubuh (BMI) 30 ke atas memiliki risiko diabetes lebih dari dua kali lipat dibanding kelompok dengan BMI rendah.
Lemak visceral yang menumpuk di area perut diketahui berkontribusi terhadap resistensi insulin dan mempercepat munculnya gangguan metabolik.
4. Kurang Tidur dan Stres Berkepanjangan
Tidur yang tidak cukup serta stres kronis dapat memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan kadar gula darah sekaligus memperburuk sensitivitas insulin. Pola hidup modern yang menuntut produktivitas tinggi sering kali membuat banyak anak muda mengalami kurang tidur dalam jangka panjang.
Dante juga mengingatkan pentingnya pola hidup sehat sejak dini.
“Ini bukan untuk menakut-nakuti. Pencegahan harus dimulai sekarang. Makan bersama, tidur cukup, mengurangi waktu di depan layar, dan aktif bergerak bersama keluarga,” ujarnya.
5. Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga
Tidak semua kasus diabetes dipicu oleh gaya hidup.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa riwayat keluarga dan faktor genetik dapat meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes tipe 2. Risiko tersebut menjadi lebih besar apabila faktor keturunan berpadu dengan pola makan tidak sehat, obesitas, serta kurang aktivitas fisik.
Karena itu, individu yang memiliki anggota keluarga penderita diabetes dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Data dan Angka Penting
Berikut sejumlah data terbaru terkait diabetes di Indonesia:
Prevalensi diabetes usia 15 tahun ke atas mencapai 11,3 persen pada 2023.
Jumlah penyandang diabetes diperkirakan meningkat dari 18,6 juta orang pada 2013 menjadi 23,9 juta orang pada 2023.
Prevalensi diabetes tercatat 10,7 persen pada 2013, meningkat menjadi 11,8 persen pada 2018, dan berada di angka 11,3 persen pada 2023.
BPJS Kesehatan mencatat prevalensi hipertensi usia 18–24 tahun mencapai 10,7 persen.
Prevalensi hipertensi usia 25–34 tahun mencapai 17,4 persen.
Secara global, insiden diabetes pada anak dan remaja dilaporkan meningkat sekitar 94 persen dalam tiga dekade terakhir.
Mengapa Tren Ini Penting?
Data yang tersedia tidak menunjukkan bahwa diabetes kini didominasi usia 20-an. Risiko tertinggi tetap ditemukan pada kelompok usia yang lebih tua, terutama setelah usia 40 tahun.
Namun, meningkatnya diagnosis pada kelompok muda menunjukkan adanya perubahan pola risiko yang perlu diwaspadai.
Associate Professor Do Dinh Tung dari Hanoi menyatakan, “Diabetes semakin banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda. Saat ini penyakit tersebut sering didiagnosis pada usia 20-30 tahun, bahkan remaja.”
Selain itu, banyak kasus diabetes di Indonesia masih belum terdiagnosis. Akibatnya, sebagian penderita baru mengetahui kondisinya setelah muncul gejala atau saat menjalani pemeriksaan kesehatan.
Dampak bagi Generasi Produktif
Peningkatan diabetes pada usia 20-an membawa konsekuensi yang lebih panjang dibanding jika penyakit tersebut muncul pada usia lanjut.
Dalam jangka pendek, penderita berisiko mengalami gangguan kesehatan yang memengaruhi aktivitas sehari-hari dan produktivitas kerja.
Dalam jangka panjang, diabetes dapat meningkatkan risiko komplikasi serius seperti penyakit jantung, gangguan ginjal, gangguan penglihatan, hingga kerusakan saraf. Kondisi ini juga berpotensi meningkatkan beban pembiayaan kesehatan baik bagi individu maupun sistem kesehatan nasional.
Pemerintah telah merespons tren tersebut melalui berbagai upaya, termasuk program skrining kesehatan, edukasi gizi, serta pelabelan nutrisi pada makanan dan minuman.
Penutup
Data terbaru menunjukkan diabetes tipe 2 semakin sering ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk mereka yang berusia 20-an. Penyebabnya tidak hanya konsumsi gula, tetapi merupakan kombinasi dari kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, obesitas, kurang tidur, stres, dan faktor genetik.
Meski risiko tertinggi masih berada pada kelompok usia lebih tua, tren peningkatan kasus pada generasi muda menjadi sinyal penting bahwa pencegahan dan deteksi dini perlu dilakukan sejak usia produktif. ***
