BEIJING, MAL – China semakin agresif memperluas program luar angkasanya melalui pengembangan kemampuan militer antariksa, teknologi anti-satelit, serta pengajuan 193.428 satelit ke International Telecommunication Union (ITU) yang berpotensi mendominasi orbit rendah bumi atau Low Earth Orbit (LEO). Langkah tersebut dilakukan di tengah upaya Beijing memperkuat posisi strategisnya dalam persaingan global di sektor luar angkasa.
Pemerintah China di bawah Presiden Xi Jinping menempatkan luar angkasa sebagai bagian penting dari kepentingan nasional. Selain mengembangkan teknologi satelit dan eksplorasi antariksa, Beijing juga meningkatkan investasi untuk mendukung industri luar angkasa, komersialisasi teknologi, serta penguatan kemampuan pertahanan.
Pada Desember 2025, Institute of Radio Spectrum Utilisation and Technological Innovation mengajukan dua konstelasi satelit, yakni CTC-1 dan CTC-2, dengan total 193.428 satelit kepada ITU. Jumlah tersebut jauh melampaui konstelasi satelit komersial yang saat ini beroperasi, termasuk Starlink yang memiliki sekitar 5.000 hingga 6.000 satelit per 2026.
Jika seluruh pengajuan tersebut disetujui, China berpotensi menguasai sebagian besar wilayah orbit rendah bumi yang menjadi jalur utama bagi komunikasi, internet satelit, navigasi, dan berbagai layanan berbasis ruang angkasa.
Selain memperluas konstelasi satelit, China juga meningkatkan kemampuan militer luar angkasanya. Program tersebut mencakup pengembangan senjata anti-satelit, teknologi pemantauan bumi, hingga kemampuan siber yang dapat digunakan untuk menarget atau mengeksploitasi satelit milik negara lain.
Laporan RAND Corporation pada Juli 2024 menyebut para pemimpin China memandang Amerika Serikat sebagai kekuatan besar yang sedang mengalami kemunduran dan memperkirakan akan terjadi eskalasi strategi yang lebih agresif di masa depan, termasuk dalam bidang militerisasi ruang angkasa.
“Para pemimpin China menganggap AS sebagai negara kuat namun perlahan melemah, dan meramalkan eskalasi dalam strategi agresif di masa depan, termasuk peningkatan militerisasi ruang angkasa,” demikian temuan RAND Corporation.
Laporan yang sama juga menyebut meningkatnya toleransi risiko operasi antariksa di lingkungan People’s Liberation Army (PLA) dipengaruhi oleh kepemimpinan Presiden Xi Jinping.
“Meningkatnya keinginan PLA untuk mengambil risiko di ruang angkasa sebagian besar didorong persepsinya terhadap AS sebagai kekuatan yang sedang mengalami kemunduran, yang kemungkinan akan beralih ke militerisasi,” tulis RAND Corporation.
Di sisi lain, China menolak tudingan yang menyebut negara itu menjadi ancaman utama di luar angkasa. Juru Bicara Kementerian Pertahanan China Zhang Xiaogang menegaskan negaranya menentang upaya perluasan kekuatan militer yang dilakukan Amerika Serikat.
“Amerika Serikat menggunakan apa yang disebut sebagai ancaman dari negara lain sebagai alasan untuk memperluas kekuatan militernya, dan China dengan tegas menentang hal ini,” kata Zhang Xiaogang.
Ia menambahkan, “Hal ini telah menjadi pendorong terbesar militerisasi dan medan perang ruang angkasa, serta ancaman terbesar terhadap keamanan ruang angkasa.”
Selain aspek militer, program luar angkasa China juga diarahkan untuk tujuan ekonomi dan diplomasi. Beijing berupaya mengembangkan industri satelit, memperkuat perusahaan milik negara, mendorong pertumbuhan perusahaan rintisan teknologi, serta memperluas pengaruh internasional melalui kerja sama dan penjualan teknologi satelit.
Presiden Xi Jinping menegaskan pentingnya sektor antariksa bagi kepentingan negaranya. “Luar angkasa adalah aset strategis nasional yang harus dilindungi,” ujar Xi Jinping.
Perkembangan terbaru juga menunjukkan China menjalankan eksperimen kontroversial berupa pengiriman “embrio manusia buatan” ke luar angkasa pada Mei 2026. Pada Agustus 2026, China juga menerbangkan 56 pesawat tempur dalam manuver di sekitar Taiwan, sehingga total penerbangan yang tercatat mencapai 814 kali.
Di tengah meningkatnya persaingan global di ruang angkasa, China terus memperluas kemampuan teknologi, militer, ekonomi, dan diplomatiknya dengan tujuan memperkuat posisi negara tersebut dalam persaingan strategis jangka panjang.
Fokus Keyword
Kata Kunci SEO
China luar angkasa, program luar angkasa China, satelit China, orbit rendah bumi, LEO, militerisasi ruang angkasa, Xi Jinping, PLA China, ITU, konstelasi satelit China, teknologi antariksa China, senjata anti satelit, dominasi satelit, persaingan AS China, diplomasi luar angkasa
Kata Kunci Turunan
193428 satelit China, CTC-1, CTC-2, International Telecommunication Union, orbit rendah bumi LEO, strategi luar angkasa China, investasi antariksa China, keamanan ruang angkasa, satelit komunikasi China, teknologi siber satelit, pengaruh Xi Jinping, RAND Corporation, pertahanan luar angkasa China, rivalitas AS China, eksplorasi antariksa China, komersialisasi teknologi luar angkasa, industri satelit China, Taiwan dan China, dominasi orbit bumi, ekonomi luar angkasa China.
