JAKARTA, MALKenaikan biaya produksi batu bara berpotensi menjalar ke sektor ketenagalistrikan nasional. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran adanya tekanan terhadap tarif listrik, terutama jika harga Domestic Market Obligation (DMO) ikut disesuaikan dengan biaya produksi yang semakin tinggi.

Jika penyesuaian harga DMO benar dilakukan, maka Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik PT PLN (Persero) berpotensi meningkat. Dampaknya, pemerintah kemungkinan perlu menambah subsidi atau kompensasi agar tarif listrik bagi masyarakat tetap stabil.

Pengamat energi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis, Arif Gunawan, menilai bahwa struktur biaya pembangkitan listrik sangat dipengaruhi oleh harga batu bara sebagai bahan bakar utama pembangkit.

Menurutnya, setiap perubahan pada harga DMO akan berdampak langsung terhadap biaya produksi listrik nasional.

“Kalau harga DMO dinaikkan, maka Biaya Pokok Penyediaan listrik juga akan ikut naik. Ini karena batu bara masih menjadi sumber utama pembangkit listrik di Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah berada dalam posisi sulit karena harus menjaga keseimbangan antara keterjangkauan tarif listrik bagi masyarakat dan keberlanjutan usaha produsen batu bara.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia, Priyadi Suryadi, menilai bahwa kenaikan biaya produksi di sektor tambang sudah tidak lagi sebanding dengan harga jual DMO yang berlaku saat ini.

Ia menyebut, kondisi tersebut berpotensi menekan pasokan jika produsen tidak lagi memiliki ruang keuntungan yang memadai untuk memenuhi kontrak domestik.

Sementara itu, pengamat kebijakan energi dari Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, menegaskan bahwa pemerintah perlu mencari formula kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan industri dan perlindungan konsumen.

“Di satu sisi, tarif listrik harus tetap terjangkau. Tapi di sisi lain, industri batu bara juga harus tetap feasible agar pasokan energi tidak terganggu,” ujarnya.

Saat ini, batu bara masih menjadi sumber utama pembangkit listrik nasional, sehingga setiap perubahan pada struktur harga bahan bakar akan berdampak langsung pada sistem kelistrikan secara keseluruhan.

Pemerintah disebut tengah mengevaluasi skema harga DMO, dengan mempertimbangkan kondisi biaya produksi yang terus meningkat di sektor pertambangan serta kebutuhan menjaga stabilitas tarif listrik nasional.

Dengan kondisi tersebut, PLN berada dalam posisi sensitif: menjaga tarif tetap stabil di tengah potensi kenaikan biaya, sekaligus memastikan pasokan batu bara untuk pembangkit tetap aman.