MAL – Jumlah orang lanjut usia terus bertambah di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bersamaan dengan itu, tren longevity atau upaya memperpanjang masa hidup sehat semakin berkembang. Kondisi ini memunculkan pertanyaan: apakah hidup hingga usia 100 tahun akan menjadi hal yang umum di masa depan?

Data terbaru menunjukkan semakin banyak orang yang hidup lebih lama dibanding generasi sebelumnya. Namun, para peneliti menilai hal itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa usia 100 tahun akan menjadi pengalaman yang lazim bagi mayoritas penduduk dalam waktu dekat.

Populasi Lansia Terus Bertambah

Perubahan demografi global menunjukkan dunia sedang memasuki fase penuaan penduduk. Menurut data yang mengacu pada World Health Organization (WHO), jumlah penduduk lansia dunia meningkat dari 1 miliar orang pada 2020 menjadi 1,4 miliar orang pada 2024.

Jumlah tersebut diproyeksikan terus bertambah hingga mencapai 2,1 miliar orang pada 2050.

Indonesia mengalami tren serupa. Berdasarkan data yang dikutip dari WHO dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas pada 2022 mencapai 10,8 persen atau sekitar 29,3 juta orang.

Sementara itu, Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024 mencatat proporsi lansia Indonesia telah mencapai 12 persen dari total penduduk. Pada periode yang sama, angka harapan hidup Indonesia berada di level 72,39 tahun.

Proyeksi yang dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan proporsi lansia Indonesia dapat mencapai sekitar 20 persen pada 2045 atau sekitar 65,82 juta jiwa.

Hidup Lebih Lama Bukan Berarti Semua Orang Mencapai 100 Tahun

Meningkatnya angka harapan hidup sering dianggap sebagai tanda bahwa usia 100 tahun akan menjadi umur yang normal. Namun, data ilmiah menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Penelitian terhadap lebih dari 2.000 centenarian atau orang yang hidup hingga usia 100 tahun lebih menemukan bahwa rahasia umur panjang mereka bukan karena proses penuaan berlangsung jauh lebih lambat dibanding orang lain.

Sebaliknya, mereka mampu menunda munculnya penyakit kronis yang berpotensi mematikan.

Menurut laporan yang merujuk studi dari University of Southern California, tubuh para centenarian tetap mengalami akumulasi kerusakan metabolik dan seluler seperti manusia pada umumnya.

Yang membedakan adalah waktu munculnya penyakit serius.

Riset tersebut menemukan bahwa rata-rata centenarian mampu menunda penyakit fatal sekitar 15 hingga 20 tahun lebih lama dibanding populasi umum.

Data dan Angka Penting

Indikator Data
Lansia dunia tahun 2020 1 miliar orang
Lansia dunia tahun 2024 1,4 miliar orang
Proyeksi lansia dunia 2050 2,1 miliar orang
Lansia Indonesia 2022 10,8% atau 29,3 juta orang
Lansia Indonesia (Susenas 2024) 12% penduduk
Angka harapan hidup Indonesia 2024 72,39 tahun
Proyeksi lansia Indonesia 2045 20,31% atau 65,82 juta jiwa
Penundaan penyakit kronis pada centenarian 15–20 tahun lebih lama

Apa Arti Data Ini?

Data tersebut menunjukkan bahwa tren yang paling nyata saat ini bukan meningkatnya jumlah orang berusia 100 tahun, melainkan bertambahnya populasi lansia secara keseluruhan.

Peningkatan usia harapan hidup, kemajuan layanan kesehatan, deteksi dini penyakit, dan kesadaran hidup sehat memang membuka peluang lebih besar bagi seseorang untuk mencapai usia sangat lanjut.

Namun, peluang tersebut tidak otomatis membuat usia 100 tahun menjadi standar baru bagi seluruh masyarakat.

Secara statistik, kelompok centenarian masih merupakan kelompok khusus yang jumlahnya jauh lebih kecil dibanding populasi lansia secara umum.

Karena itu, penggunaan istilah “umur 100 tahun akan menjadi hal biasa” cenderung menyederhanakan realitas demografi yang jauh lebih kompleks.

Dampak bagi Indonesia

Bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia membawa konsekuensi yang luas bagi kebijakan publik.

Di satu sisi, meningkatnya harapan hidup menunjukkan perbaikan kualitas kesehatan masyarakat. Di sisi lain, kebutuhan terhadap layanan kesehatan, perawatan jangka panjang, perlindungan sosial, dan sistem pensiun juga akan meningkat.

Menurut ketentuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1997 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, lansia didefinisikan sebagai penduduk berusia 60 tahun ke atas.

Dengan proyeksi lansia Indonesia yang mendekati seperlima populasi pada 2045, isu penuaan penduduk diperkirakan menjadi salah satu tantangan sosial dan ekonomi terbesar dalam beberapa dekade mendatang.

Di sisi lain, BKKBN menilai fenomena ini juga dapat menghadirkan peluang baru apabila kelompok lansia tetap sehat, aktif, dan produktif.

Kutipan Penting

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan, “Berdasarkan data WHO tahun 2022, jumlah lansia usia 60 tahun ke atas di Indonesia sebesar 10,8 persen atau sekitar 29,3 juta orang.”

Sementara itu, penelitian yang dikutip Kompas menyimpulkan, “Rahasia umur panjang para centenarian sebenarnya bukan terletak pada proses penuaan yang lambat, melainkan pada kemampuan tubuh mereka dalam menunda penyakit kronis yang biasanya mematikan.”

Implikasi Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Jangka pendek:

  • Kebutuhan layanan kesehatan lansia meningkat.
  • Permintaan layanan pencegahan penyakit bertambah.
  • Industri kesehatan dan longevity berkembang lebih cepat.

Jangka panjang:

  • Struktur penduduk Indonesia semakin menua.
  • Beban sistem pensiun dan perawatan lansia meningkat.
  • Kebutuhan tenaga kerja sektor kesehatan bertambah.
  • Kebijakan kesehatan preventif menjadi semakin penting.

Pihak yang terdampak:

  • Lansia dan keluarganya.
  • Pemerintah pusat dan daerah.
  • Fasilitas kesehatan.
  • Industri asuransi dan pensiun.
  • Pelaku industri kesehatan dan wellness.

Penutup

Data demografi dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa semakin banyak orang berpeluang hidup lebih lama dibanding generasi sebelumnya. Namun, kesimpulan bahwa usia 100 tahun akan menjadi hal biasa masih terlalu jauh untuk dinyatakan sebagai fakta.

Yang lebih pasti adalah dunia sedang bergerak menuju masyarakat yang semakin menua. Tantangan utamanya bukan sekadar memperpanjang umur, melainkan memastikan lebih banyak orang dapat menjalani usia lanjut dalam kondisi sehat, mandiri, dan produktif. ***