PRESIDEN Prabowo Subianto menyampaikan pidato selama hampir dua jam dalam Sidang Tahunan MPR RI bersama DPR RI dan DPD RI, Jumat (14/8). Pidato yang semula dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 09.34 hingga 10.41 WIB itu ternyata berlanjut hingga sekitar pukul 11.40 WIB, mendekati waktu salat Jumat. Di tengah pidatonya, Prabowo mengakui dirinya telah diingatkan mengenai waktu salat Jumat. “Ya saya mengerti saya sudah diingatkan, saat ini 11:40, azan Jumatan 12:00. Sebentar lagi, sebentar,” ujarnya.
Sebelumnya, Prabowo juga sempat meminta waktu untuk minum kopi di tengah pidato. Ketika kembali membahas program perlindungan sosial, ia kemudian berseloroh, “Mau sembahyang Jumat ini. PKS udah ngelirik-ngelirik. Sebentar, nggak lama… tujuh menit.” Pernyataan itu mengundang tawa audiens. Momen tersebut kemudian menjadi perhatian publik, bukan semata karena panjangnya pidato, tetapi juga karena memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin berada di antara tuntutan untuk menyampaikan pesan kepada rakyat dan kewajiban agama yang memiliki batas waktu.
Peristiwa tersebut tidak perlu dibaca sebagai tuduhan bahwa Presiden Prabowo tidak melaksanakan salat Jumat. Tidak ada dasar untuk menarik kesimpulan semacam itu hanya dari panjangnya pidato atau dari fakta bahwa waktu salat semakin dekat.
Justru yang lebih menarik untuk direnungkan adalah persoalan keteladanan seorang pemimpin Muslim ketika berhadapan dengan waktu ibadah.
Sebab menjadi pemimpin bukan hanya tentang kemampuan berbicara dan membuat orang lain mendengarkan. Pemimpin juga berada pada posisi untuk memberikan contoh tentang bagaimana nilai-nilai yang diyakininya ditempatkan dalam kehidupan.
Di sinilah salat menjadi penting.
Pemimpin Bukan Hanya untuk Didengar
Seorang pemimpin memang harus mampu berbicara. Pidato merupakan bagian penting dari kepemimpinan. Melalui pidato, seorang pemimpin menjelaskan kebijakan, menyampaikan visi, mempertanggungjawabkan pekerjaan pemerintah, sekaligus membangun optimisme masyarakat.
Tetapi kepemimpinan tidak berhenti pada kemampuan membuat orang lain mendengar. Ada tahap yang lebih tinggi, yaitu membuat orang lain melihat dan meneladani.
Seorang pemimpin dapat berbicara satu jam tentang disiplin. Namun, masyarakat akan lebih mudah memahami disiplin ketika pemimpin itu sendiri menghargai waktu.
Ia dapat berbicara panjang tentang moral. Tetapi masyarakat akan lebih mudah memahami moral ketika pemimpin menunjukkan perilaku yang konsisten.
Ia dapat berbicara tentang agama. Namun, keteladanan agama akan jauh lebih kuat ketika nilai tersebut tampak dalam tindakan.
Karena itu, bagi seorang pemimpin Muslim, pertanyaan pentingnya bukan hanya, “Apa yang akan saya sampaikan?”
Tetapi juga, “Apa yang sedang saya contohkan?”
Salat dan kesadaran terhadap waktu
Salat memiliki kekhususan karena pelaksanaannya terikat oleh waktu. Seorang Muslim yang menjaga salat semestinya memiliki kesadaran bahwa urusan dunia memiliki batas ketika berhadapan dengan kewajiban kepada Allah.
Seorang pedagang dapat meninggalkan dagangannya. Seorang pekerja dapat meninggalkan pekerjaannya. Seorang pejabat dapat meninggalkan rapatnya. Dan seorang pemimpin dapat menghentikan pidatonya.
Bukan karena pekerjaan tersebut tidak penting. Tetapi karena ada kewajiban yang kedudukannya lebih tinggi. Di sinilah seorang pemimpin Muslim semestinya memiliki rasa waswas ketika waktu salat mulai mendekat. Rasa waswas itu bukan berarti panik.
Ia adalah kesadaran bahwa waktu ibadah tidak boleh diperlakukan seperti agenda lain yang bisa terus ditunda selama masih ada sesuatu yang ingin disampaikan.
Keteladanan Tidak harus Berupa Ceramah
Seorang pemimpin yang menghentikan pidatonya karena waktu salat tiba sebenarnya sedang menyampaikan pesan yang sangat kuat tanpa perlu banyak kata. Ia sedang menunjukkan bahwa kekuasaan tidak membuat seseorang bebas dari kewajiban kepada Allah.
Ia sedang menunjukkan bahwa jabatan tidak menempatkan dirinya lebih tinggi daripada hukum agama yang diyakininya. Dan ia sedang mengajarkan kepada masyarakat tentang prioritas.
Kalimat sederhana seperti, “Kita lanjutkan setelah salat Jumat,” dapat menjadi bentuk pendidikan moral yang lebih kuat daripada ceramah panjang mengenai pentingnya salat.
Sebab masyarakat tidak hanya belajar dari ucapan pemimpin. Mereka belajar dari keputusan yang dibuat pemimpin ketika berhadapan dengan pilihan.
Bukan Soal Terlihat atau Tidak Terlihat Beribadah
Persoalan keteladanan juga harus dibicarakan dengan kehati-hatian. Tidak terlihatnya seorang pemimpin melakukan ibadah bukan bukti bahwa ia tidak beribadah. Kehidupan ibadah seseorang memiliki ruang privat yang tidak seluruhnya diketahui publik.
Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa seorang pemimpin meninggalkan salat hanya karena masyarakat tidak melihatnya salat.
Demikian pula dalam kasus Prabowo.
Panjang pidatonya hingga mendekati waktu salat Jumat bukan bukti bahwa ia tidak melaksanakan salat Jumat. Bahkan dalam momen tersebut ia sendiri menyatakan memahami bahwa dirinya telah diingatkan mengenai waktu salat.
Yang layak menjadi bahan refleksi adalah seberapa kuat kesadaran seorang pemimpin terhadap batas antara kepentingan berbicara dan kewajiban beribadah.
Pertanyaan ini berlaku bukan hanya untuk Prabowo. Ia berlaku bagi setiap pemimpin Muslim.
Kekuasaan Membutuhkan Ketundukan
Ada paradoks menarik dalam salat seorang pemimpin. Di luar salat, seorang presiden memiliki kekuasaan yang sangat besar. Ia dapat memberikan instruksi. Ia dapat mengambil keputusan. Ia dapat berbicara dan didengarkan oleh jutaan orang.
Namun ketika berdiri dalam salat, semua kekuasaan itu tidak memiliki arti di hadapan Allah. Ia kembali menjadi seorang hamba.
Karena itu, salat semestinya menjadi pengingat bahwa kekuasaan bukanlah kepemilikan mutlak. Jabatan adalah amanah.
Semakin tinggi kedudukan seseorang, semestinya semakin besar pula kesadarannya bahwa ia akan mempertanggungjawabkan kekuasaan tersebut.
Lebih Banyak Teladan, Bukan Sekadar Lebih Banyak Kata
Masyarakat tentu membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara. Tetapi masyarakat lebih membutuhkan pemimpin yang perilakunya dapat dipercaya.
Pidato dapat menjelaskan apa yang ingin dilakukan seorang pemimpin. Tindakan menunjukkan apa yang benar-benar dianggap penting olehnya.
Karena itu, ukuran keteladanan tidak terletak pada seberapa banyak seorang pemimpin berbicara tentang kebaikan, melainkan seberapa jauh kebaikan itu hadir dalam perilakunya.
Pemimpin yang berbicara tentang keadilan harus menunjukkan keadilan. Pemimpin yang berbicara tentang amanah harus menjaga amanah. Pemimpin yang berbicara tentang kedisiplinan harus menghargai waktu.
Dan pemimpin Muslim yang berbicara tentang nilai agama semestinya menunjukkan penghormatan terhadap kewajiban agama dalam kehidupannya.
Bukan berarti seorang pemimpin harus sempurna. Ia tetap manusia yang bisa lupa, salah, dan lalai. Namun, justru karena ia manusia, kesadaran untuk segera memperbaiki diri menjadi bagian dari keteladanan.
Pemimpin yang Membuat Rakyat Ingin Mengikuti
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan sekadar kemampuan membuat rakyat mendengar. Kepemimpinan adalah kemampuan menghadirkan contoh yang membuat rakyat ingin mengikuti.
Pidato mungkin membuat masyarakat mengetahui pikiran seorang pemimpin. Tetapi perilaku membuat masyarakat mengetahui karakter seorang pemimpin.
Karena itu, peristiwa pidato Prabowo yang berlangsung hingga mendekati waktu salat Jumat tidak perlu dijadikan dasar untuk menghakimi ibadah pribadinya.
Lebih baik ia menjadi pengingat bagi semua pemimpin Muslim bahwa ketika waktu salat mendekat, semestinya ada kesadaran untuk mengakhiri urusan dunia dan memenuhi panggilan kewajiban kepada Allah.
Sebab pemimpin tidak hanya dituntut untuk menjadi orang yang paling banyak didengar. Ia juga dituntut menjadi orang yang pantas diteladani.
Dan terkadang, tindakan sederhana untuk menghentikan pidato demi salat dapat menyampaikan pesan yang jauh lebih panjang daripada pidato itu sendiri.
Bahwa di atas kekuasaan masih ada Tuhan. Dan di atas jabatan masih ada kewajiban.
