JAKARTA, MAL – Kopi Rimba produksi kelompok tani hutan agroforestri Desa Oncone Raya, Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, laris manis dalam kegiatan SOLUSI Day: Integrasi Darat dan Laut untuk Indonesia Tangguh dan Lestari di Hotel Pullman, Jakarta, Senin (28/09).
Produk kopi robusta yang dipamerkan dan dipasarkan tersebut sebelumnya melalui proses seleksi oleh koperasi Yayasan KEHATI untuk ditampilkan dalam kegiatan yang mengangkat pengelolaan darat dan laut secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Perwakilan Relawan untuk Orang dan Alam, Artati Bingge, mengatakan produk Kopi Rimba yang dipasarkan terdiri atas kopi bubuk, biji kopi sangrai (roast bean), dan kopi seduh praktis (travel drip).
“Kopi Rimba jenis robusta yang dipilih yakni dalam bentuk kemasan kopi bubuk, kopi roastbean dan traveldrip, dan kami bersyukur pada kegiatan SOLUSI Day mendapat tempat dihati para peserta dan pengunjung kegiatan,” ujar Artati.
Ia menjelaskan, produk tersebut dikembangkan untuk mendukung pengelolaan usaha di tingkat tapak dengan menerapkan prinsip ramah lingkungan dan kelestarian alam.
Menurut Artati, pengembangan usaha berbasis potensi lokal tersebut juga diarahkan untuk mendukung pencapaian ekonomi hijau sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Selain kopi, kelompok masyarakat juga mengembangkan usaha pengelolaan sampah menjadi bagian dari ekonomi sirkular.
“Saat ini sudah ada usaha yang dikembangkan kelompok bank sampah yang menghasilkan kompos yang harapannya dapat mendukung pertanian dan perkebunan,” katanya.
Kegiatan SOLUSI Day dibuka Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Leonardo A.A.T. Sambodo.
Dalam sambutan dan arahannya, Leonardo mengatakan perencanaan pembangunan dengan pendekatan pengelolaan darat dan laut secara terintegrasi perlu mempertimbangkan prinsip ekonomi hijau dan ekonomi biru.
Prinsip tersebut mencakup pengelolaan keanekaragaman hayati, ketahanan iklim, pengelolaan sampah, pengembangan model bisnis berkelanjutan, serta akses terhadap pembiayaan berkelanjutan dan kemitraan rantai pasok.
Ia juga menyampaikan kegiatan prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 dapat didukung melalui implementasi Proyek SOLUSI. Sebaliknya, pelaksanaan proyek tersebut diharapkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan dan memperkuat pelaksanaan pembangunan nasional.
“Capaian Implementasi Pengelolaan Darat-Laut Terintegrasi di Tingkat Nasional dan Subnasional Selama 5 tahun (2024-2028), program dan kegiatan yang dirancang dalam Proyek SOLUSI mencakup proses dari perencanaan, implementasi di lapangan, hingga keberlanjutan program melalui peningkatan kapasitas dan peluang-peluang pendanaan,” ungkap Leonardo.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah dokumen yang telah dikonsultasikan dengan pemangku kepentingan di tingkat nasional dan daerah turut menjadi bagian dari capaian Proyek SOLUSI.
Dokumen tersebut meliputi Indikator Pengelolaan Bentang Darat dan Laut Terintegrasi, Panduan Aksi Pengarusutamaan Gender dalam Keanekaragaman Hayati, Strategi Pengembangan Bioprospeksi di Indonesia, Strategi Nasional untuk Pendanaan Inovatif di Indonesia, serta Masterplan Pengelolaan Bentang Darat dan Laut Regional Padagimo. ***
