JAKARTA, MAL – Sedikitnya 47 imam besar dari berbagai negara berkumpul di Jakarta mulai Jumat (25/09) untuk mengikuti konferensi internasional yang membahas diplomasi imam besar sebagai bagian dari upaya mendorong perdamaian dunia.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, mengatakan, pertemuan yang berlangsung pada 25–28 September 2026 tersebut digagas setelah diplomasi melalui jalur kenegaraan dinilai belum membuahkan hasil yang mengesankan dalam menyelesaikan berbagai persoalan perdamaian.

“Ini gagasan besar dari kehendak baik para imam besar untuk damai dunia,” kata Nasaruddin dalam khotbahnya di Masjid Istiqlal.

Nasaruddin yang juga Menteri Agama menyebut forum tersebut sebagai momentum pertama penyelenggaraan konferensi imam besar berskala dunia.

“Tanggal 25 sampai tanggal 28 kita akan melakukan konferensi internasional imam-imam besar sedunia, sudah 39 negara besar yang akan ikut hadir dengan 45 delegasi. Ada imam-imam besar dari Timur Tengah tentunya seperti dari Mesir, dari Saudi Arabia kemudian juga imam besar dari Eropa, Eropa Timur kemudian juga Amerika Serikat, Korea dan Jepang dan banyak yang kita undang. Nanti pesertanya akan mungkin bertambah, kita targetkan 500 peserta, tapi ini pendaftarannya sudah bakal membludak kini karena peserta Asia Tenggara dan lokal ini juga sangat berminat untuk ikut dalam konferensi besar ini,” ujarnya.

Pertemuan tersebut mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace”. Dalam konferensi itu, para peserta membahas peran masjid dalam membangun harmoni, diplomasi keagamaan, perdamaian global, serta potensi ekonomi kemasjidan.

Rangkaian kegiatan berlangsung di Masjid Istiqlal, Hotel Bidakara, dan Hotel Grand Sahid Jakarta.

“Tema yang kita akan angkat ini sangat menarik, karena kita akan mengangkat masalah religious diplomacy. Bagaimana menggunakan bahasa agama yang bahasa spiritual ini untuk merajut perbedaan bahkan konflik yang ada. Kita sangat yakin bahwa dengan menggunakan bahasa agama ini ada kesadaran berlingkungan hidup, ada kesadaran untuk berdiplomasi secara nurani. Dengan demikian diharapkan konflik-konflik yang ada itu bisa diredam dengan menggunakan bahasa esensi kemanusiaan karena kita sangat yakin bahwa humanity is only one, kemanusiaan itu hanya satu,” jelas Nasaruddin.

Konferensi juga diikuti peserta nasional dari berbagai unsur, antara lain imam masjid dari seluruh Indonesia, unsur Kementerian Agama pusat dan wilayah, rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta, pengurus wilayah dan daerah Ikatan Persaudaraan Imam Masjid, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, akademisi, serta pemerhati dan aktivis perdamaian dunia.

Sebelum konferensi utama, rangkaian Bridging to IGIC telah dilaksanakan di lima provinsi, yakni Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

“Kita juga ingin mengangkat masjid itu sebagai pusat peradaban dan pusat pengembangan penguatan umat. Kita akan menggunakan bahasa agama ini untuk bahasa perdamaian. Jadi kalau kita sangat yakin betul, kalau kita berpegang teguh kepada dasar-dasar agama kita yang sangat substantial itu sesungguhnya rasa kemanusiaan itu akan menjadi satu di seluruh dunia. Tidak ada lagi sekat-sekat yang ekstrim antara satu benua dengan benua yang lain, antara satu negara dengan negara yang lain. Kenapa kita yakin, apapun warna kulitnya, apapun etniknya, apapun bahasanya, jenis kelaminnya semuanya punya hati nurani yang sama sebagai makhluk Allah dan anak cucu Adam,” kata Nasaruddin.

Salah satu hasil yang ditargetkan dari IGIC 2026 adalah Jakarta Understanding yang akan dirumuskan dalam rangkaian kegiatan pada 27 September. Forum tersebut juga membahas pembentukan International Grand Imam Forum sebagai wadah kebersamaan para imam dalam merespons persoalan global.

Selain itu, potensi ekonomi kemasjidan menjadi salah satu agenda panel pada 26 September.

“Akan ada deklarasi, ada Jakarta Understanding nanti yang kita akan merekomendasikan kepada seluruh imam-imam dari berbagai pelosok dunia nanti bagaimana supaya masjid itu akan berkontribusi terhadap penciptaan harmoni dalam kehidupan bersama di muka bumi ini,” pungkas Nasaruddin. Darlis