PALU, MAL – Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama memperkuat kapasitas auditor mutu internal melalui Refreshment Audit Mutu Internal (AMI), dengan menekankan peran auditor sebagai pendorong perbaikan, bukan sekadar pencari kesalahan.
Ketua LPM UIN Datokarama, Sofyan Bachmid, mengatakan auditor memiliki peran strategis dalam mengawal mutu pendidikan tinggi, khususnya memastikan standar mutu diterapkan dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.
“Maka Refreshment AMI kali ini, bukan sekadar menjadi ajang rutinitas tahunan. Melainkan, agenda penting memastikan pelaksanaan, evaluasi, dan pengendalian serta peningkatan dan pengembangan mutu,” ujar Sofyan saat pembukaan Refreshment AMI 2026, Kamis (24/9).
Menurut dia, auditor yang baik bukanlah auditor yang menemukan sebanyak-banyaknya kesalahan, melainkan auditor yang mampu mendorong sebanyak-banyaknya perbaikan.
Sofyan menerangkan, sejak 2024 UIN Datokarama telah mengader 54 auditor mutu internal. Para auditor tersebut telah berkontribusi dalam mengawal peningkatan mutu kelembagaan.
Ia menegaskan, peningkatan mutu bukan sekadar dokumen, tetapi harus menjadi kebiasaan. Karena itu, peningkatan mutu tidak hanya menjadi tugas LPM, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika UIN Datokarama.
Refreshment AMI yang berlangsung 24–25 September 2026 di UIN Datokarama itu diikuti 47 auditor mutu internal. Kegiatan tersebut melibatkan Best-Q Institut dengan narasumber Dr Helmi Syaifuddin M.Fil.I dan Rosihan Aslihuddin S.Sos., M.A.B., CRA., CRP.
Rektor UIN Datokarama, Profesor Lukman Thahir, mengatakan standar mutu terus berkembang seiring perubahan regulasi nasional.
“Kriteria mutu yang dianggap baik pada hari ini belum tentu memenuhi standar minimum di masa mendatang,” ucap Profesor Lukman.
Karena itu, penguatan dan peningkatan peran auditor mutu internal menjadi penting untuk memastikan kegiatan perguruan tinggi terus beradaptasi dengan standar mutu yang telah ditetapkan.
“Kekuatan mutu UIN Datokarama ada pada auditor yang tidak hanya mencari kesalahan, melainkan mendorong perbaikan dan penyesuaian sesuai standar,” ungkapnya.***
