Ada masa ketika sekolah dianggap maju karena memiliki gedung yang bagus, laboratorium yang lengkap, perpustakaan yang besar, atau jumlah gurunya yang memadai. Sekarang ukuran itu mulai bertambah: seberapa banyak perangkat digital yang dimiliki sekolah.
Layar interaktif dipasang di ruang kelas. Tablet dibagikan kepada siswa. Berbagai platform pembelajaran diperkenalkan. Sekolah pun berlomba menunjukkan bahwa mereka sudah mengikuti perkembangan zaman. Digitalisasi perlahan menjadi bagian dari citra sekolah.
Tidak ada yang salah dengan penggunaan teknologi. Persoalannya muncul ketika perangkat mulai dianggap sebagai tanda kemajuan pendidikan. Sekolah yang memiliki lebih banyak perangkat bisa terlihat lebih modern dibandingkan sekolah yang masih mengandalkan papan tulis, buku dan kertas.
Padahal, pendidikan tidak sesederhana itu.
Sebuah tablet tidak membuat seorang anak otomatis lebih gemar membaca. Layar interaktif tidak dengan sendirinya membuat guru lebih mampu mengajar. Aplikasi pembelajaran juga tidak menjamin seorang siswa lebih memahami pelajaran.
Ada sesuatu yang sering terlewat dalam pembicaraan tentang digitalisasi sekolah: perangkat hanyalah alat. Nilainya ditentukan oleh bagaimana alat itu digunakan dan apakah memang dibutuhkan.
Di sinilah sekolah perlu berhati-hati agar tidak ikut masuk dalam perlombaan yang sebenarnya tidak perlu. Sekolah A membeli perangkat tertentu, sekolah B merasa harus memiliki perangkat yang sama. Sekolah lain menggunakan aplikasi baru, yang lain ikut memasangnya. Lama-kelamaan pertanyaan tentang kebutuhan belajar anak justru kalah oleh keinginan untuk tidak terlihat tertinggal.
Padahal tidak semua persoalan pendidikan membutuhkan jawaban berupa teknologi.
Anak yang belum lancar membaca mungkin lebih membutuhkan guru yang sabar mendampinginya daripada aplikasi baru. Anak yang kesulitan memahami lingkungan bisa lebih banyak belajar dengan mengamati halaman sekolah, sungai, pasar atau kebun daripada menatap simulasi di layar. Dalam pelajaran tertentu, buku dan percakapan langsung dengan guru bisa jauh lebih bermakna.
Karena itu, pertanyaan yang semestinya diajukan sekolah bukan pertama-tama, “Perangkat digital apa yang belum kita punya?” Pertanyaannya justru, “Persoalan belajar apa yang ingin kita selesaikan?”
Jika sebuah teknologi memang membantu, tentu tidak ada alasan untuk menolaknya. Tetapi jika cara yang lebih sederhana masih mampu mencapai tujuan pembelajaran, sekolah tidak perlu merasa rendah diri hanya karena tidak menggunakan perangkat terbaru.
Pendidikan bukan perlombaan memiliki teknologi paling mutakhir. Anak-anak juga tidak datang ke sekolah untuk menjadi konsumen perangkat digital.
Mereka datang untuk belajar membaca dunia, berpikir, bertanya, mendengarkan, bekerja bersama, memecahkan persoalan dan mengenali dirinya sendiri. Teknologi bisa membantu proses itu, tetapi tidak boleh mengambil alih tujuan pendidikan.
Sebab sekolah yang maju bukan sekolah yang paling banyak perangkatnya. Sekolah yang maju adalah sekolah yang tahu untuk apa sebuah perangkat digunakan, siapa yang membutuhkannya, dan kapan perangkat itu justru tidak diperlukan.**
