PALU, MAL – Mahad Aljamiah Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu menggencarkan penguatan wawasan keislaman mahasiswa (mahasantri) melalui program “Mahad Mengkaji”.
Program tersebut diarahkan untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki ketahanan spiritual serta pemahaman keislaman yang moderat.
“Mahad Mengkaji” mulai dilaksanakan Jumat (19/9) di UPT Mahad Aljamiah UIN Datokarama, Kelurahan Tipo. Kegiatan ini diikuti 70 mahasantri, termasuk mahasiswa UIN Datokarama yang berasal dari berbagai negara di Benua Afrika hingga Asia.
Rektor UIN Datokarama yang diwakili Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Doktor Hamka, mengatakan penguatan wawasan keislaman penting dilakukan agar mahasiswa tidak mudah terpengaruh paham ekstrem.
“Penguatan wawasan keislaman di Ma’had Al-Jami’ah menjadi fondasi penting agar mahasiswa UIN Palu tidak mudah terombang-ambing oleh pemikiran ekstrem, sekaligus siap menjadi pencerah di tengah masyarakat,” kata Doktor Hamka.
Menurut dia, UIN Datokarama sebagai perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Agama memiliki tanggung jawab mengoptimalkan pembinaan dan peningkatan wawasan mahasiswa, termasuk mahasantri di Mahad Aljamiah.
Pembinaan dilakukan dengan memperkuat pemahaman tentang moderasi beragama untuk membendung radikalisme dan fanatisme sempit di kalangan mahasiswa. Nilai moderasi seperti komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta akomodatif terhadap budaya lokal diintegrasikan dalam materi kajian.
“Oleh karena itu kami sangat setuju dan mendukung program ini, yang lebih menekankan pada kajian kritis, bukan dogmatis,” ujarnya.
Direktur Mahad Aljamiah UIN Datokarama, Dr. H. Arfan Hakim, mengatakan “Mahad Mengkaji” merupakan program yang bertujuan memberikan penguatan wawasan kajian keislaman kepada seluruh mahasantri, khususnya yang tinggal di Mahad.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada hafalan dan kajian kitab, tetapi juga penanaman nilai moderasi beragama (wasathiyyah), pembinaan membaca, menghafal dan memahami Al-Qur’an, serta penguasaan bahasa asing, yakni Arab dan Inggris.
Selain itu, program tersebut diarahkan pada pembentukan karakter Islami melalui pembiasaan ibadah berjamaah, akhlakul karimah dan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan asrama maupun kampus.
“Dengan adanya program yang terstruktur ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya unggul di bidang keilmuan masing-masing, tetapi juga mampu menjadi agen kedamaian dan teladan di lingkungan sosial,” ungkap Doktor H. Arfan.
Program tersebut turut dihadiri sejumlah dosen pengajar, termasuk Kepala Pusat Hubungan Internasional LP2M, Dr. Darlis, M.S.I., yang menjadi penanggung jawab mahasiswa asing.
Dalam sambutannya, Dr. Darlis menegaskan program tersebut akan digelar secara rutin setiap waktu Magrib dengan melibatkan dosen dari berbagai kepakaran ilmu.**
