KARDUS-kardus bekas menumpuk dan tersusun rapi di atas plat deker. Bukan untuk dijual kembali kepada pengumpul barang bekas. Kardus-kardus itu justru menjadi pelindung sederhana bagi kendaraan pengunjung Cafe Binte dari sengatan matahari.
Satu per satu kardus digunakan untuk menutup jok sepeda motor dan bagian kaca mobil. Cara sederhana itu menjadi pemandangan yang hampir setiap hari terlihat saat matahari Palu sedang terik, terutama ketika memasuki jam makan siang.
Di balik deretan kendaraan, termasuk mobil-mobil mewah milik pengunjung, berdiri seorang juru parkir berkacamata gelap. Hoodie menutupi kepalanya, sementara masker menutup sebagian wajahnya. M. Ilyas Mubarak (60), juru parkir yang selama 13 tahun setia menjaga kendaraan pengunjung Cafe Binte di Jalan Datupamusu, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu.
Sekitar pukul 13.30 WITA, ketika sebagian orang memilih berteduh dari teriknya matahari, Ilyas justru masih sigap menjalankan tugasnya. Mengatur dan merapikan kendaraan pelanggan di Cafe Binte.
Langkahnya berpindah dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya. Dengan sigap, ia mengatur posisi sepeda motor dan mobil agar parkiran tetap tertata. Sesekali ia membantu pengunjung keluar atau masuk kendaraan.
Siang itu, tak ada suara sempritan yang memekakkan telinga, yang terkadang membuat pengunjung merasa tak nyaman. Tidak ada pula suara lantangnya untuk mengarahkan pengunjung. Ilyas memilih cara yang lebih sederhana dalam mengatur kendaraan para pelanggan cafe itu. Senyum, menyapa dengan penuh keramahan, dan menitipkan kata-kata bijak serta doa bagi para pengunjung yang datang.
“Doakan pengunjung, supaya orang senang. Saya kalau parkir tidak pakai sempritan,” kata Ilyas saat ditemui, Sabtu (29/8) siang.
Ilyas menuturkan, menjadi juru parkir bukan semata-mata pekerjaan untuk mengatur kendaraan dan menerima uang jasa. Ia mengatakan, memilih pekerjaan ini memiliki tanggung jawab dan amanah untuk menjaga rasa aman, serta membuat orang yang datang merasa nyaman.
Ilyas mengungkapkan, pekerjaan ini sudah ia tekuni selama 13 tahun dengan menjaga parkir di Cafe Binte. Ia mengenal karakter para pengunjungnya. Ilyas terus berusaha memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada setiap orang yang datang, tanpa membedakan jenis kendaraan ataupun siapa pemiliknya.
Selain pelayanan maksimal yang ia berikan, ada satu kebiasaan yang membuat Ilyas berbeda dari kebanyakan juru parkir. Ilyas kerap menyelipkan kata-kata mutiara dan motivasi kepada pengunjung. Kalimat sederhana itu disampaikannya sebagai doa sekaligus bentuk perhatian.
“Kalau mau panjang umur dan rezeki, kasih baik sifatmu dan tingkah lakumu,” katanya.
Ilyas menjelaskan, kata-kata itu bukan sekadar ucapan. Ia ingin setiap pengunjung yang ditemuinya mendapatkan sesuatu yang baik, meski hanya berupa doa dan senyuman.
Ia sering menemui dan tidak mempersoalkan ketika ada pengunjung yang terkadang tidak memberikan uang jasa parkirnya. Menurutnya, pelayanan tetap harus diberikan dengan baik. Ia tidak ingin memaksa atau mengejar pengunjung hanya untuk meminta bayaran.
“Kita baik dengan pelanggan. Hargai dia (pelanggan), maka kau akan dihargai juga,” tuturnya.
Prinsip itulah yang terus ia pegang. Ilyas mengingatkan bahwa menghargai orang lain merupakan bagian dari cara menjalani kehidupan sehari-hari. Kesederhanaan Ilyas terlihat dari caranya bekerja. Di tengah panas yang menyengat, ia tetap berdiri mengawasi kendaraan.
“Cukup dengan senyum, pelayanan ramah, dan kata-kata mutiara yang ia berikan kepada setiap pengunjung untuk membahagiakan. Dan juga doa,” pungkasnya.
