MAL – Klaim bahwa jaringan 6G akan 100 kali lebih cepat dibandingkan 5G kerap muncul dalam berbagai promosi teknologi. Namun, angka tersebut tidak sepenuhnya tepat jika merujuk pada kerangka teknis resmi yang sedang disusun untuk generasi jaringan seluler berikutnya.

Hingga 17 Agustus 2026, teknologi 6G masih berada dalam tahap riset dan standardisasi global. International Telecommunication Union (ITU) menggunakan istilah IMT-2030 sebagai kerangka resmi pengembangan 6G. Artinya, berbagai angka kecepatan yang sering beredar saat ini masih berupa target teknis dan persyaratan evaluasi, bukan kecepatan yang dipastikan akan dinikmati pengguna sehari-hari.

Jika dibandingkan dengan 5G, perbedaan terbesar 6G bukan hanya soal kecepatan internet. Teknologi ini dirancang untuk menggabungkan komunikasi, kecerdasan buatan (AI), penginderaan lingkungan, komputasi, hingga konektivitas satelit dalam satu ekosistem jaringan.

Mengapa Angka 200 Gbps Tidak Bisa Langsung Dibandingkan dengan Kecepatan 5G?

Dalam kerangka IMT-2020, 5G memiliki target peak data rate atau kecepatan puncak unduh hingga 20 Gbit per detik dan kecepatan unggah hingga 10 Gbit per detik pada kondisi pengujian tertentu.

Sementara itu, rancangan persyaratan IMT-2030 untuk 6G mencantumkan target kecepatan puncak sekitar 50–200 Gbit per detik, bergantung pada skenario penggunaan dan metode evaluasi yang diterapkan.

Perbandingan tersebut sering memunculkan anggapan bahwa 6G akan 10 hingga 100 kali lebih cepat dibandingkan 5G. Padahal, ITU tidak menetapkan satu angka universal yang berlaku untuk semua kondisi jaringan.

Kecepatan aktual yang diterima pengguna tetap dipengaruhi banyak faktor, antara lain:

  • Spektrum frekuensi yang digunakan.

  • Jarak pengguna dari BTS.

  • Kepadatan pengguna dalam satu area.

  • Kapasitas jaringan operator.

  • Kemampuan perangkat.

  • Kualitas sambungan backhaul dan pusat data.

Karena itu, target kecepatan 200 Gbps tidak dapat dianggap sebagai kecepatan normal yang akan diterima seluruh pelanggan ketika 6G tersedia secara komersial.

Apa yang Berubah dari 5G ke 6G?

Saat 5G diperkenalkan, fokus utamanya adalah meningkatkan kecepatan internet, mengurangi latensi, dan menghubungkan lebih banyak perangkat Internet of Things (IoT).

Kerangka 6G memperluas fungsi jaringan menjadi jauh lebih kompleks. ITU menetapkan enam skenario penggunaan utama dalam IMT-2030, yakni:

  • Immersive Communication.

  • Hyper Reliable and Low-Latency Communication.

  • Massive Communication.

  • Ubiquitous Connectivity.

  • Artificial Intelligence and Communication.

  • Integrated Sensing and Communication.

ITU menyatakan bahwa IMT-2030 mendukung enam skenario penggunaan tersebut yang mencakup komunikasi imersif, komunikasi sangat andal dan berlatensi rendah, komunikasi masif, konektivitas di mana-mana, kecerdasan buatan dan komunikasi, serta penginderaan dan komunikasi terintegrasi.

Konsep ini menunjukkan bahwa 6G tidak hanya bertugas mengirim data, tetapi juga diarahkan menjadi platform yang mampu menggabungkan komunikasi, komputasi, AI, penginderaan, penentuan posisi, serta integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial.

Latensi Makin Rendah, AI Menjadi Bagian Inti Jaringan

Selain kecepatan, latensi menjadi salah satu indikator penting dalam pengembangan 6G.

Pada 5G, target latensi radio dalam skenario Ultra-Reliable and Low-Latency Communications (URLLC) berada di sekitar 1 milidetik.

Pada 6G, target teknis berada di kisaran 0,1 hingga 1 milidetik pada kondisi tertentu.

Meski demikian, latensi radio berbeda dengan latensi end-to-end yang dirasakan pengguna saat menjalankan aplikasi. Waktu respons aplikasi juga dipengaruhi pemrosesan perangkat, server, jaringan inti, backhaul, dan lokasi pusat data.

Perubahan besar lainnya adalah posisi AI dalam arsitektur jaringan.

Pada 5G, AI digunakan untuk optimasi jaringan dan pengelolaan layanan. Sementara pada 6G, kemampuan AI menjadi salah satu aspek yang secara resmi dievaluasi dalam standar IMT-2030.

Jaringan Tidak Hanya Berkomunikasi, Tetapi Juga Mengindra

Salah satu fitur baru yang paling banyak dibahas dalam pengembangan 6G adalah Integrated Sensing and Communication (ISAC).

Melalui konsep ini, sinyal jaringan tidak hanya digunakan untuk komunikasi, tetapi juga dapat membantu mendeteksi posisi, pergerakan, objek, dan karakteristik lingkungan.

Potensi pemanfaatannya antara lain:

  • Pemantauan lalu lintas.

  • Navigasi kendaraan otonom.

  • Pengawasan area industri.

  • Sistem peringatan dini bencana.

  • Pemetaan lingkungan.

  • Keamanan fasilitas.

Kemampuan tersebut tidak menjadi fitur utama dalam pengembangan 5G.

Kepadatan Perangkat Bisa Naik Sepuluh Kali Lipat

Perbedaan lain terlihat pada kemampuan jaringan menangani perangkat dalam jumlah besar.

5G memiliki target kepadatan hingga 1 juta perangkat per kilometer persegi.

Dalam sejumlah target teknis 6G, angka tersebut dapat meningkat hingga 10 juta perangkat per kilometer persegi.

Kemampuan ini dinilai penting untuk mendukung kota cerdas, industri otomatis, sensor lingkungan, pertanian presisi, hingga berbagai layanan berbasis Internet of Things generasi berikutnya.

Kapan 6G Akan Hadir?

Meski pembahasan mengenai 6G semakin intensif, teknologi ini belum memasuki tahap komersial.

Pada Maret 2026, para ahli komunikasi seluler di ITU menyepakati rancangan persyaratan kinerja teknis IMT-2030 untuk mengevaluasi antarmuka radio 6G.

Sementara itu, 3GPP telah menetapkan Release 21 sebagai fondasi awal standardisasi 6G dengan jadwal:

TahapanTarget Waktu
Stage-1 FreezeMaret 2027
Stage-2 FreezeJuni 2028
Stage-3 Functional FreezeDesember 2028
ASN.1/OpenAPI FreezeMaret 2029

Komersialisasi secara lebih luas sering diproyeksikan mulai sekitar 2030. Namun jadwal tersebut masih bergantung pada penyelesaian standar, alokasi spektrum, kesiapan perangkat, investasi operator, dan regulasi masing-masing negara.

Indonesia Masih Menghadapi Tantangan 5G

Di Indonesia, pembangunan jaringan 5G sendiri masih berlangsung.

Data pemerintah menunjukkan cakupan 5G pada 2025 baru mencapai sekitar 6,33 persen luas permukiman. Dalam pengukuran lain, cakupan berdasarkan populasi mencapai sekitar 13,11 persen.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan pemerintah menargetkan konektivitas 5G mencapai 32 persen pada 2030.

Di sisi lain, Komdigi juga menyatakan kapasitas spektrum seluler Indonesia saat ini masih belum memadai untuk mendukung implementasi 6G.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan menuju 6G bukan hanya terkait perangkat baru, melainkan juga mencakup ketersediaan spektrum, pembangunan infrastruktur, kapasitas backhaul, pusat data, pasokan listrik, keamanan siber, dan pemerataan akses di seluruh wilayah Indonesia.

Lebih dari Sekadar Soal Kecepatan

Perdebatan mengenai 5G dan 6G sering terfokus pada angka gigabit per detik. Padahal transformasi yang ditawarkan 6G jauh lebih luas dibanding sekadar peningkatan kecepatan internet.

Jaringan generasi berikutnya ini diarahkan menjadi platform yang menggabungkan komunikasi, AI, penginderaan, komputasi, penentuan posisi presisi tinggi, serta konektivitas satelit dan terestrial dalam satu sistem.

Karena standar final masih disusun, berbagai rincian teknis masih dapat berubah. Yang jelas, pada tahap saat ini, klaim bahwa 6G pasti 100 kali lebih cepat dibandingkan 5G belum dapat dianggap sebagai fakta universal.