MAL – Teknologi komunikasi seluler generasi keenam atau 6G semakin mendekati tahap implementasi global. Sejumlah regulator, lembaga standar internasional, perusahaan teknologi, hingga perguruan tinggi di berbagai negara kini memasuki fase penyusunan standar, pengujian jaringan, dan pengembangan teknologi yang akan menjadi fondasi komunikasi masa depan.
Perkembangan tersebut menjadi penting karena 6G tidak hanya dirancang sebagai penerus 5G dengan kecepatan lebih tinggi, tetapi juga sebagai jaringan yang sejak awal dibangun dengan integrasi kecerdasan buatan (AI), kemampuan sensing, serta konektivitas satelit untuk menjangkau wilayah yang lebih luas.
International Telecommunication Union (ITU) telah menetapkan persyaratan minimum untuk teknologi IMT-2030 atau yang dikenal sebagai 6G. Sementara itu, 3GPP sebagai organisasi penyusun standar telekomunikasi global telah memfinalisasi jadwal Release 21 yang menjadi standar 6G pertama.
“Mobile communications experts at ITU have agreed on the minimum performance requirements for IMT-2030, also known as 6G,” demikian pernyataan ITU terkait standar generasi baru tersebut.
Ketika Standar 6G Mulai Dibekukan
Perjalanan menuju komersialisasi 6G kini memasuki tahapan yang lebih jelas.
3GPP telah memfinalisasi jadwal Release 21 pada Juni 2026. Tahapan pengembangan standar tersebut meliputi:
Juni 2026: Finalisasi jadwal Release 21.
Tahun 2027: Pembekuan spesifikasi awal.
Akhir 2028: Pembekuan spesifikasi fungsional.
Desember 2028: Penyelesaian spesifikasi final.
3GPP menyatakan, “The 3GPP has finalized the roadmap for Release 21, which includes the first normative specifications for 6G wireless technology, with freeze dates beginning in 2027.”
Dengan jadwal tersebut, peluncuran komersial 6G diperkirakan berlangsung pada rentang 2029 hingga 2030, dengan Korea Selatan, China, dan Amerika Serikat menjadi negara yang paling aktif mempersiapkan implementasi awal.
20 Persyaratan Teknis yang Harus Dipenuhi 6G
ITU-R Working Party 5D pada Februari 2026 menetapkan 20 indikator kinerja minimum untuk IMT-2030.
Beberapa persyaratan utama yang menjadi perhatian industri antara lain:
| Indikator | Target Minimum |
|---|---|
| Kecepatan puncak downlink | 36 Gbit/s |
| Kecepatan pengguna terendah (5th percentile) | 300 Mbit/s |
| Latensi user-plane | 1 milidetik |
| Reliabilitas | 99,999% |
| Mobilitas | Hingga 500 km/jam |
| Bandwidth | Minimal 400 MHz |
| Kepadatan koneksi | 10 juta perangkat/km² |
| Kemampuan sensing | Deteksi objek fisik melalui gelombang radio |
| Integrasi AI | AI native dalam arsitektur jaringan |
| Efisiensi energi | Lebih tinggi dibanding 5G |
Selain indikator tersebut, standar IMT-2030 juga mencakup kemampuan jaringan dalam mendukung komunikasi yang sangat andal, layanan real-time, efisiensi spektrum, hingga integrasi layanan komunikasi dan sensing secara bersamaan.
Mengapa 6G Berbeda dari 5G?
Jika 5G berfokus pada peningkatan kecepatan dan kapasitas jaringan, maka 6G dirancang sebagai jaringan AI-native yang mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam seluruh lapisan sistem.
Teknologi ini juga menggabungkan konsep Integrated Sensing and Communication (ISAC), yaitu kemampuan jaringan tidak hanya mengirim data, tetapi juga mendeteksi keberadaan objek melalui gelombang radio.
Target industri untuk 6G bahkan jauh melampaui persyaratan minimum ITU.
Beberapa target yang tengah dikembangkan meliputi:
Kecepatan hingga 1 Tbps.
Latensi mendekati nol.
Dukungan miliaran perangkat IoT secara bersamaan.
Efisiensi energi 10 hingga 100 kali lebih baik dibanding 5G.
CEO Qualcomm menggambarkan visi tersebut dengan menyatakan bahwa 6G akan membuka kemungkinan penggunaan smart glasses yang mampu melakukan streaming video real-time ke sistem AI.
“Secara teoretis, jaringan seluler masa depan dapat mencapai kecepatan 1Tbps dengan memanfaatkan spektrum sub-terahertz,” katanya.
China, AS, dan Australia Berlomba Menguji 6G
Persaingan pengembangan 6G kini berlangsung di sejumlah negara.
China menjadi salah satu yang paling agresif. Pada April 2026, jaringan “Pre-6G” mulai beroperasi di Nanjing menggunakan 10 base station. Negara tersebut kemudian memasuki fase kedua uji coba nasional pada Juli 2026 dengan spektrum eksperimental 6 GHz.
Peneliti di Nanjing melaporkan keberhasilan pengujian sinyal nirkabel dengan kecepatan 206,25 gigabit per detik melalui udara terbuka, atau sekitar 100 kali lebih cepat dibanding koneksi 5G pada umumnya.
China juga tercatat memegang sekitar 40 persen paten 6G global serta memperoleh dukungan pendanaan khusus sekitar USD 485 juta.
Di Amerika Serikat, National Telecommunications and Information Administration (NTIA) meluncurkan program “Call to Action for 6G Leadership and Security” pada Juli 2026 untuk memperkuat posisi negara tersebut dalam pengembangan standar dan keamanan 6G.
Sementara itu, di Australia, Optus dan Nokia menyelesaikan uji coba jaringan 6G menggunakan spektrum upper 6 GHz dengan kecepatan unduh mencapai 3,5 Gbps.
Investasi Global Sudah Tembus USD 20 Miliar
Pengembangan 6G juga ditopang investasi yang terus meningkat.
Hingga 2026, total investasi global pada teknologi 6G telah melampaui USD 20 miliar.
Beberapa alokasi investasi yang tercatat antara lain:
China: USD 485 juta.
Korea Selatan: USD 2,2 miliar.
Amerika Serikat dan Jepang: USD 4,5 miliar melalui kemitraan bersama.
Uni Eropa: lebih dari 100 juta euro.
Besarnya investasi tersebut menunjukkan bahwa persaingan penguasaan teknologi generasi berikutnya telah dimulai bahkan sebelum standar final diterbitkan.
Indonesia Mulai Menyiapkan Riset 6G
Di Indonesia, penelitian terkait 6G juga mulai berkembang.
Sejumlah dosen dan peneliti di Universitas NU melakukan pengembangan teknologi yang berfokus pada optimalisasi performa jaringan agar lebih efisien dan hemat energi.
Pengembangan tersebut dilakukan seiring meningkatnya perhatian global terhadap efisiensi energi sebagai salah satu indikator penting dalam standar IMT-2030.
Selain itu, berbagai aplikasi yang diproyeksikan memanfaatkan 6G mencakup kendaraan otonom, robot kolaboratif, telemedisin jarak jauh, hologram real-time, smart city, serta integrasi Internet of Things (IoT) dalam skala yang jauh lebih besar dibanding jaringan generasi saat ini.
Dengan jadwal standar yang telah ditetapkan hingga 2028 dan berbagai uji coba yang berlangsung sepanjang 2026, teknologi 6G kini memasuki fase penting sebelum menuju komersialisasi pada akhir dekade ini.
