PALU, MAL – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 kembali mengingatkan pentingnya memahami sumber-sumber gempa aktif di Indonesia.

Salah satu yang paling dikenal di kawasan Nusa Tenggara adalah Flores Back-Arc Thrust, struktur patahan aktif yang berada di utara rangkaian pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores hingga wilayah Laut Banda.

BMKG menyatakan gempa M 7,7 yang berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT, dipicu oleh aktivitas Flores Back-Arc Thrust.

Gempa dangkal dengan kedalaman 15 kilometer itu juga sempat memicu peringatan dini tsunami sebelum akhirnya dicabut setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi aman.

Flores Back-Arc Thrust merupakan sesar naik aktif yang terbentuk akibat tekanan tektonik dari pergerakan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Sunda atau Eurasia di selatan Indonesia.

Tekanan tersebut tidak hanya terserap di zona subduksi utama, tetapi juga diteruskan ke bagian belakang busur kepulauan atau back arc, sehingga membentuk patahan naik yang aktif.

Dalam istilah geologi, sesar naik terjadi ketika satu blok batuan terdorong ke atas melewati blok lainnya akibat gaya kompresi yang kuat. Proses ini dapat melepaskan energi besar yang kemudian dirasakan sebagai gempa bumi.

Posisi Flores Back-Arc Thrust relatif dekat dengan wilayah permukiman dan pesisir di Nusa Tenggara. Karena itu, gempa yang berasal dari sesar ini sering menimbulkan guncangan kuat di daratan. Jika pusat gempa berada di bawah laut dan menyebabkan perubahan bentuk dasar laut secara signifikan, potensi tsunami juga dapat muncul.

Secara geografis, jalur Flores Back-Arc Thrust membentang dari utara Bali, Lombok, Sumbawa, Flores hingga ke arah timur menuju Laut Banda. Struktur ini menjadi salah satu sumber aktivitas seismik paling aktif di Indonesia bagian timur.

Sejarah mencatat, Flores Back-Arc Thrust pernah memicu sejumlah gempa besar. Salah satu yang paling dikenal adalah gempa Flores pada 12 Desember 1992 berkekuatan M 7,8 yang disertai tsunami dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar di wilayah Flores dan sekitarnya.

Karena karakteristiknya yang mampu menghasilkan gempa kuat dan berpotensi memicu tsunami lokal, Flores Back-Arc Thrust menjadi salah satu sumber gempa yang terus dipantau oleh BMKG dan para ahli kebumian.

Pada gempa 15 Agustus 2026, BMKG mengidentifikasi sumber gempa berasal dari aktivitas sesar naik Flores Back-Arc Thrust dengan kedalaman dangkal sekitar 15 kilometer. Kondisi tersebut menyebabkan guncangan kuat dirasakan di sejumlah wilayah Flores, termasuk Nagekeo, Sikka, Ngada, Ende, dan daerah sekitarnya.

Pemahaman terhadap karakteristik Flores Back-Arc Thrust dinilai penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di kawasan Nusa Tenggara yang berada dekat dengan jalur sesar aktif tersebut.

Selain memahami risiko gempa, masyarakat juga diimbau mengenali prosedur evakuasi dan informasi resmi dari BMKG serta instansi penanggulangan bencana ketika terjadi aktivitas seismik yang berpotensi menimbulkan dampak lanjutan.