JAUH sebelum Pramuka menjadi organisasi kepanduan nasional seperti yang dikenal sekarang, kepanduan telah menjadi bagian dari dinamika pendidikan dan pergerakan pemuda di Hindia Belanda. Ia tidak semata-mata mengajarkan baris-berbaris, berkemah, keterampilan bertahan hidup, atau kegiatan di alam terbuka. Dalam konteks awal abad ke-20, kepanduan juga menjadi salah satu ruang tempat anak muda belajar tentang disiplin, organisasi, kepemimpinan, dan kehidupan bersama.

Karena itu, sejarah kepanduan di Indonesia menarik jika dibaca dalam hubungannya dengan pertumbuhan nasionalisme. Bukan dalam arti bahwa semua organisasi kepanduan pada masa kolonial secara langsung merupakan gerakan anti-Belanda, melainkan karena sebagian organisasi kepanduan berkembang beriringan dengan proses pembentukan identitas dan kesadaran kebangsaan.

Salah satu tonggak awalnya adalah Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) di lingkungan Mangkunegaran, yang berdiri pada 1916. Penelitian sejarah Weda Windiarti dalam Mozaik: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora mencatat JPO sebagai organisasi kepanduan pribumi pertama di Indonesia dan menunjukkan bahwa gerakan kepanduan di Mangkunegaran berkembang sebagai organisasi yang memiliki pengaruh cukup luas sebelum akhirnya dibubarkan pada awal pendudukan Jepang pada 1942.

Namun, keberadaan JPO juga menunjukkan bahwa sejarah kepanduan tidak sesederhana cerita “kepanduan melawan kolonialisme”. JPO sendiri berada dalam konteks politik dan sosial Mangkunegaran. Bahkan kemudian muncul Krida Muda pada 1934 dan terjadi persaingan di antara kedua organisasi tersebut dalam memperluas pengaruh. Artinya, kepanduan pada masa itu memiliki dinamika internal dan tidak seluruhnya dapat ditempatkan dalam satu kategori sebagai gerakan perlawanan kolonial.

Yang kemudian menjadi penting adalah bagaimana sistem kepanduan digunakan oleh organisasi-organisasi pribumi untuk membentuk generasi muda. Disiplin, kerja kelompok, kepemimpinan, kemandirian, tanggung jawab, dan keterampilan praktis merupakan pendidikan yang melengkapi pendidikan formal. Dalam masyarakat kolonial yang memiliki kesenjangan besar dalam akses dan posisi sosial, pembentukan manusia yang percaya diri dan mampu mengorganisasi diri memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar latihan fisik.

Contoh yang menarik adalah Hizbul Wathan (HW) di lingkungan Muhammadiyah. Sejarah internal Muhammadiyah mencatat bahwa gagasan kepanduan muncul setelah KH Ahmad Dahlan melihat kegiatan JPO di Surakarta. Dari sana berkembang kepanduan Muhammadiyah yang kemudian dikenal sebagai Hizbul Wathan. Kegiatan awalnya mencakup baris-berbaris, olahraga, pertolongan pertama, serta pembinaan keagamaan.

Kasus Hizbul Wathan menunjukkan bahwa kepanduan dapat menjadi bagian dari proyek pendidikan sebuah organisasi sosial-keagamaan. Kepanduan tidak berdiri sendiri, tetapi digunakan untuk membentuk anak dan pemuda sesuai dengan nilai yang ingin ditanamkan oleh organisasi. Dalam konteks Muhammadiyah, pembentukan fisik dan kedisiplinan berjalan bersama pendidikan keagamaan dan pembentukan akhlak.

Di sisi lain, perkembangan organisasi pemuda pada periode tersebut juga memperlihatkan semakin kuatnya orientasi menuju persatuan. Buku Jong Java: Peranannya dalam Persatuan Bangsa yang diterbitkan Museum Sumpah Pemuda mencatat bahwa Jong Java, yang awalnya merupakan organisasi pemuda bercorak kedaerahan, kemudian berperan dalam upaya mempertemukan berbagai organisasi pemuda dan mendorong persatuan yang lebih luas. Proses tersebut menjadi bagian dari rangkaian menuju Kongres Pemuda II 1928 dan lahirnya Sumpah Pemuda.

Di sinilah hubungan kepanduan dengan nasionalisme menjadi penting. Kepanduan bukan satu-satunya penyebab lahirnya nasionalisme Indonesia, dan tidak tepat pula mengatakan Sumpah Pemuda lahir karena kepanduan. Nasionalisme Indonesia dibentuk oleh banyak faktor: pendidikan, pers, organisasi politik, organisasi pemuda, gerakan keagamaan, perubahan sosial, dan pengalaman bersama di bawah kolonialisme.

Namun, kepanduan menyediakan sesuatu yang sangat penting: ruang latihan untuk menjadi manusia yang mampu hidup dan bekerja dalam sebuah kelompok.

Seorang anak yang belajar memimpin regu sedang belajar mengambil tanggung jawab. Anak yang belajar bekerja dalam kelompok sedang belajar bahwa tujuan bersama membutuhkan kerja sama. Anak yang dibiasakan disiplin sedang belajar bahwa sebuah organisasi membutuhkan aturan. Dan anak yang bertemu dengan anggota kelompok dari latar belakang berbeda sedang belajar bahwa identitas bersama dapat melampaui ikatan daerah.

Dari perspektif inilah kepanduan dapat disebut sebagai salah satu sekolah kebangsaan, meskipun tentu bukan sekolah kebangsaan dalam pengertian formal.

Ia mendidik melalui pengalaman.

Karena itu, pengaruh kepanduan terhadap nasionalisme lebih tepat dipahami sebagai kontribusi pada pembentukan kapasitas sosial dan karakter generasi muda, bukan sebagai gerakan politik anti-kolonial secara langsung.

Pelajaran ini penting karena sejarah sering kali terlalu mudah disederhanakan. Kita senang mencari tokoh yang mengangkat senjata dan organisasi yang melakukan perlawanan terbuka. Padahal, sebuah bangsa juga membutuhkan manusia yang mampu mengorganisasi diri, memimpin, bekerja sama, dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuan bangsanya sendiri.

Kolonialisme tidak hanya bertahan melalui kekuatan militer dan politik. Ia juga berlangsung dalam struktur sosial dan dalam perasaan bahwa bangsa terjajah adalah bangsa yang lebih rendah. Maka, pendidikan yang membentuk kemandirian dan harga diri memiliki arti tersendiri dalam perjalanan menuju kemerdekaan.

Dengan demikian, sejarah kepanduan Indonesia bukan sekadar sejarah seragam cokelat, perkemahan, tali-temali, dan baris-berbaris.

Ia adalah bagian dari sejarah bagaimana generasi muda Indonesia belajar menjadi sebuah bangsa.

Dan mungkin di situlah relevansinya bagi kepanduan hari ini. Jika dahulu kepanduan ikut menyediakan ruang untuk membangun disiplin, kepemimpinan, persatuan, dan kemandirian di tengah masyarakat kolonial, maka pertanyaan bagi kepanduan masa kini bukan lagi bagaimana melawan penjajah.

Pertanyaannya adalah: generasi seperti apa yang sedang kita bentuk?

Sebab sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan generasi yang hafal sejarah kemerdekaan. Bangsa membutuhkan generasi yang memiliki karakter, mampu bekerja bersama, tahan menghadapi kesulitan, dan merasa memiliki tanggung jawab terhadap masa depannya.

Dulu, kepanduan ikut menyiapkan manusia untuk sebuah bangsa yang sedang mencari jalan menuju kemerdekaan.

Hari ini, tugasnya adalah menyiapkan manusia yang mampu menjaga kualitas kemerdekaan itu sendiri.