Digitalisasi sekolah tidak berhenti pada pembelian perangkat. Setelah perangkat tersedia, muncul kebutuhan lain: aplikasi, platform, akun, langganan, penyimpanan data, pembaruan sistem, pelatihan, hingga perangkat baru ketika teknologi yang lama dianggap tidak lagi memadai. Siklus seperti ini mudah sekali membuat sekolah menjadi konsumen teknologi.
Setiap persoalan pendidikan seolah memiliki produk digitalnya sendiri. Administrasi dibuatkan aplikasi. Pembelajaran dibuatkan platform. Penilaian dibuatkan sistem. Komunikasi sekolah dan orang tua dipindahkan ke aplikasi. Guru kemudian diminta menguasai berbagai perangkat dan platform tersebut. Satu per satu memang terlihat masuk akal. Masalahnya baru terasa setelah semuanya terkumpul.
Guru bisa memiliki beberapa akun untuk pekerjaan yang berbeda. Siswa harus mengingat berbagai platform. Orang tua menerima pemberitahuan dari banyak saluran. Sekolah membayar berbagai layanan yang mungkin tidak seluruhnya digunakan secara maksimal.
Pada titik tertentu, teknologi yang seharusnya menyederhanakan pekerjaan justru menambah pekerjaan. Ini bukan berarti aplikasi atau platform digital tidak berguna. Banyak di antaranya memang membantu sekolah. Persoalannya adalah kecenderungan untuk menganggap setiap persoalan membutuhkan solusi digital baru. Seolah-olah sesuatu belum selesai jika belum dibuatkan aplikasinya. Cara berpikir seperti itu perlu dikritik, terutama dalam pendidikan.
Sekolah memiliki anggaran yang terbatas. Uang yang digunakan untuk membeli perangkat dan berbagai layanan digital pada akhirnya bersaing dengan kebutuhan lain: buku, perbaikan ruang kelas, alat praktik, perpustakaan, pelatihan guru, kesejahteraan tenaga pendidikan, bahkan hal-hal sederhana seperti meja dan kursi yang layak.
Karena itu, setiap belanja teknologi semestinya tidak hanya ditanyakan apakah teknologinya bagus. Yang lebih penting adalah apakah belanja tersebut memang memberikan manfaat pendidikan yang sepadan.
Ada kecenderungan dalam masyarakat modern untuk menganggap barang baru selalu lebih baik daripada barang lama. Dalam teknologi, kecenderungan itu jauh lebih kuat karena perangkat dan sistem memang terus diperbarui. Sekolah pun bisa terseret dalam budaya tersebut. Padahal anak tidak berubah menjadi lebih pandai hanya karena sekolah mengganti perangkat lama dengan perangkat yang lebih baru.
Yang sering menentukan kualitas belajar justru hal-hal yang tidak terlalu menarik untuk dipamerkan: guru yang menguasai pelajaran, waktu belajar yang cukup, buku yang tersedia, kelas yang kondusif, perhatian terhadap siswa, serta hubungan yang baik antara guru dan anak.
Hal-hal seperti itu tidak selalu memiliki tampilan semenarik sebuah ruang kelas dengan perangkat digital terbaru. Tetapi di situlah pendidikan sebenarnya berlangsung.
Sekolah karena itu perlu memiliki jarak dengan logika pasar teknologi. Tidak semua tawaran teknologi harus diterima. Tidak setiap tren perlu diikuti. Tidak setiap pembaruan harus dianggap sebagai kebutuhan.
Sebelum membeli atau berlangganan sesuatu, sekolah dapat memulai dari pertanyaan sederhana: masalah apa yang hendak diselesaikan, apakah masalah itu memang membutuhkan teknologi, berapa biaya yang harus dikeluarkan, siapa yang akan menggunakannya, dan apa yang terjadi jika layanan tersebut dihentikan.
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu penting agar sekolah tidak membeli teknologi hanya karena takut disebut tertinggal. Sebab ada perbedaan antara sekolah yang memanfaatkan teknologi dan sekolah yang terus-menerus mengonsumsi teknologi.
Yang pertama menggunakan teknologi sebagai alat. Yang kedua berisiko menjadikan teknologi sebagai kebutuhan yang terus bertambah.
Pendidikan seharusnya tidak berada dalam perlombaan konsumsi semacam itu. Sekolah tidak harus memiliki semua teknologi yang tersedia. Yang dibutuhkan adalah kemampuan memilih: mana yang benar-benar berguna bagi anak, mana yang cukup digunakan sesekali, dan mana yang sebenarnya tidak perlu.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan digitalisasi sekolah bukan berapa banyak aplikasi yang terpasang atau berapa besar anggaran yang dibelanjakan untuk teknologi. Ukurannya lebih sederhana: apakah guru menjadi lebih terbantu, apakah pekerjaan menjadi lebih ringan, dan terutama apakah anak-anak benar-benar mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik.
