MAL – Banyak orang menganggap kanker paru hanya menyerang perokok. Namun kenyataannya, orang yang tidak pernah merokok pun tetap bisa terkena penyakit ini. Meski rokok masih menjadi faktor risiko utama, berbagai penelitian dan lembaga kesehatan dunia menunjukkan bahwa kanker paru juga dapat dipicu oleh paparan lingkungan, faktor genetik, hingga mutasi alami yang terjadi di dalam tubuh.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, “Merokok tembakau (termasuk rokok, cerutu, dan pipa) adalah faktor risiko utama kanker paru.”
Namun WHO juga menegaskan bahwa risiko kanker paru tidak berhenti pada rokok saja. “Faktor risiko penting lainnya termasuk paparan asap tembakau orang lain, polusi udara luar dan dalam ruangan, paparan pekerjaan seperti asbes, silika, dan asap diesel, paparan radon, serta penyakit paru kronis tertentu dan kerentanan genetik.”
Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa seseorang yang tidak pernah merokok tetap dapat didiagnosis menderita kanker paru.
Ketika Sel Paru Mengalami Kerusakan Tanpa Asap Rokok
Secara medis, kanker paru terjadi ketika sel-sel di paru mengalami pertumbuhan tidak terkendali akibat kerusakan DNA. Pada perokok, kerusakan ini banyak dipicu zat karsinogen dalam tembakau. Namun pada non-perokok, sumber kerusakan bisa berasal dari berbagai faktor lain.
Paparan polusi udara, radon, asbes, silika, asap diesel, maupun asap rokok orang lain dapat menyebabkan perubahan genetik pada sel paru. Jika kerusakan tersebut terus menumpuk dan tidak berhasil diperbaiki oleh tubuh, sel dapat berkembang menjadi kanker.
Selain itu, sebagian kasus muncul tanpa faktor eksternal yang jelas. National Cancer Institute menyatakan, “Sebagian besar kanker paru pada orang yang tidak pernah merokok muncul ketika mutasi yang disebabkan oleh proses alami di dalam tubuh menumpuk.”
Artinya, proses biologis normal yang berlangsung selama bertahun-tahun juga dapat memicu perubahan genetik yang berujung pada kanker.
Asap Rokok Pasif Masih Menjadi Ancaman Serius
Salah satu penyebab paling kuat pada kelompok non-perokok adalah paparan asap rokok orang lain atau secondhand smoke.
Badan Internasional untuk Riset Kanker (IARC) menegaskan bahwa paparan asap rokok pasif merupakan karsinogen bagi manusia dan terbukti menyebabkan kanker paru.
Risiko ini meningkat pada orang yang tinggal bersama perokok atau bekerja di lingkungan yang sering terpapar asap rokok dalam jangka panjang.
Asap rokok pasif mengandung banyak zat berbahaya yang sama dengan asap yang dihirup perokok aktif. Karena itu, seseorang yang tidak pernah merokok tetap dapat mengalami kerusakan paru akibat paparan bertahun-tahun.
Radon, Gas Tak Terlihat yang Sering Tidak Disadari
Selain asap rokok pasif, radon menjadi faktor risiko penting yang sering luput dari perhatian masyarakat.
Radon adalah gas radioaktif alami yang berasal dari peluruhan uranium di tanah, batuan, dan air. Gas ini tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak memiliki rasa sehingga sulit dideteksi tanpa alat khusus.
WHO menyatakan, “Radon adalah salah satu penyebab utama kanker paru.”
Menurut WHO, radon diperkirakan menyebabkan sekitar 3–14 persen seluruh kasus kanker paru di suatu negara, tergantung tingkat paparan dan prevalensi merokok. Risiko kanker paru juga meningkat sekitar 16 persen untuk setiap kenaikan 100 Bq/m³ paparan radon jangka panjang.
Gas ini dapat masuk ke dalam rumah melalui celah lantai, fondasi, maupun struktur bangunan lainnya dan terakumulasi pada ruang dengan ventilasi buruk.
Polusi Udara dan Lingkungan Kerja Berisiko Tinggi
Polusi udara semakin mendapat perhatian sebagai faktor risiko kanker paru, terutama pada kelompok yang tidak merokok.
Partikel halus PM2.5 dari kendaraan bermotor, aktivitas industri, dan pembakaran bahan bakar dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan jangka panjang dikaitkan dengan peradangan kronis dan perubahan genetik yang meningkatkan risiko kanker.
Di dalam rumah, asap dari kayu bakar, arang, maupun bahan bakar padat lainnya juga dapat menjadi sumber paparan berbahaya, terutama jika digunakan pada ruangan dengan ventilasi yang kurang baik.
Selain itu, sejumlah pekerjaan memiliki risiko lebih tinggi karena paparan zat karsinogenik seperti:
-
Asbes.
-
Silika.
-
Debu logam tertentu.
-
Asap diesel.
-
Bahan kimia industri lainnya.
Pekerja konstruksi, pertambangan, manufaktur, hingga sektor transportasi termasuk kelompok yang perlu mewaspadai risiko tersebut.
Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga Tak Bisa Diabaikan
Tidak semua kasus kanker paru pada non-perokok dapat dijelaskan oleh lingkungan.
Kementerian Kesehatan menyebut, “Faktor lainnya adalah kerentanan genetik (genetic susceptibility), polusi udara, pajanan radon, serta pajanan industri (asbestos, silika dan lain-lain).”
Riwayat keluarga kanker paru dapat menunjukkan adanya kerentanan genetik tertentu. Pada sebagian pasien non-perokok juga ditemukan mutasi gen yang lebih sering muncul dibanding pasien yang terkait dengan konsumsi rokok.
Selain faktor keturunan, penyakit paru kronis seperti PPOK dan fibrosis paru dapat meningkatkan risiko akibat proses peradangan jangka panjang yang terus berlangsung di jaringan paru.
Berapa Banyak Kasus Kanker Paru pada Non-Perokok?
Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa sekitar 10–20 persen kasus kanker paru di Amerika Serikat terjadi pada orang yang tidak pernah merokok atau hanya merokok sangat sedikit sepanjang hidupnya.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20.000 hingga 40.000 kasus setiap tahun.
CDC menyatakan, “Kanker paru dapat disebabkan oleh faktor risiko selain merokok.”
Lembaga itu juga menyebut asap rokok orang lain dan radon sebagai dua penyumbang utama kasus kanker paru pada kelompok non-perokok.
Situasi di Indonesia Masih Memerlukan Data Lebih Lengkap
Di Indonesia, kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker yang signifikan.
Dokumen Kementerian Kesehatan yang mengacu pada GLOBOCAN 2020 mencatat bahwa kanker paru menyumbang 8,8 persen kasus kanker baru di Indonesia. Sementara itu, angka kematiannya mencapai 13,2 persen dari total 30.843 kasus yang dicatat dalam dokumen tersebut.
Meski rokok tetap menjadi faktor dominan, Kementerian Kesehatan juga mengakui peran polusi udara, radon, kerentanan genetik, serta paparan industri sebagai faktor risiko penting.
Dalam beberapa waktu terakhir, perhatian juga meningkat terhadap laporan kasus kanker paru pada perempuan non-perokok dan pasien yang berusia lebih muda. Namun, proporsi pasti kasus non-perokok secara nasional masih memerlukan data registri kanker yang lebih lengkap dan seragam.
Mengapa Kanker Paru pada Non-Perokok Sering Terlambat Ditemukan?
Salah satu tantangan terbesar adalah persepsi bahwa kanker paru hanya dialami perokok.
Akibatnya, gejala pada non-perokok sering tidak langsung dicurigai sebagai kanker. Padahal tanda-tandanya dapat berupa:
-
Batuk yang tidak kunjung sembuh.
-
Sesak napas.
-
Nyeri dada.
-
Batuk darah.
-
Penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
-
Mudah lelah.
-
Infeksi paru yang berulang.
Gejala tersebut kerap dianggap sebagai gangguan pernapasan biasa sehingga diagnosis sering terlambat dilakukan.
Selain itu, skrining kanker paru secara rutin umumnya tidak direkomendasikan untuk orang yang tidak pernah merokok. Karena itu, deteksi dini pada kelompok ini lebih banyak bergantung pada kewaspadaan terhadap gejala dan riwayat paparan risiko.
Tidak merokok memang menurunkan risiko kanker paru secara signifikan. Namun, fakta medis menunjukkan bahwa risiko tersebut tidak sepenuhnya hilang. Paparan asap rokok pasif, radon, polusi udara, asbes, silika, penyakit paru kronis, faktor genetik, hingga mutasi alami dalam tubuh dapat menjadi penyebab munculnya kanker paru pada orang yang tidak pernah merokok. ***
