SEBUAH video kembali viral. Seorang perempuan berjilbab tertangkap melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Kolom komentar pun segera dipenuhi kalimat yang hampir selalu sama: “Percuma berjilbab kalau begini.” Sebagian bahkan melangkah lebih jauh dengan menyimpulkan bahwa jilbab hanyalah kedok kesalehan.

Fenomena seperti ini selalu memunculkan dua kesalahan sekaligus. Kesalahan pertama adalah perbuatan maksiat itu sendiri. Kesalahan kedua adalah menjadikan jilbab sebagai sasaran cemoohan. Padahal, keduanya adalah persoalan yang berbeda.

Dalam Islam, jilbab adalah kewajiban bagi perempuan Muslim. Sementara meninggalkan maksiat juga merupakan kewajiban. Keduanya bukan pilihan yang saling menggantikan. Seseorang tidak boleh berkata, “Kalau masih bermaksiat, lebih baik lepas jilbab saja.” Sebab, itu sama saja mendorong seseorang meninggalkan satu kewajiban karena ia belum mampu meninggalkan dosa yang lain.

Realitas manusia memang tidak sesederhana hitam dan putih. Ada orang yang rajin salat, tetapi masih bergunjing. Ada yang gemar bersedekah, tetapi masih mudah marah. Ada yang menjaga lisannya, tetapi lalai menjaga pandangannya. Tidak ada manusia yang bebas dari dosa. Yang membedakan hanyalah jenis ujian yang dihadapinya.

Karena itu, ketika melihat perempuan berjilbab melakukan kesalahan, yang dikritik adalah perbuatannya, bukan jilbabnya. Sebab, jilbab tetap merupakan syariat yang harus dihormati. Menyalahkan jilbab karena perilaku pemakainya sama seperti menyalahkan masjid karena ada orang yang masih berbuat dosa setelah salat. Simbol agama tidak kehilangan kemuliaannya hanya karena manusia belum mampu menjalankannya secara sempurna.

Bukan berarti Islam mentoleransi kemaksiatan. Seorang Muslim tetap berkewajiban menjauhi segala bentuk dosa dan terus memperbaiki diri. Namun, proses hijrah tidak selalu berjalan lurus. Ada yang jatuh, lalu bangkit lagi. Ada yang berhasil meninggalkan satu dosa, tetapi masih berjuang melawan dosa yang lain. Hidayah sering datang secara bertahap.

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk membuka pintu taubat, bukan menutupnya dengan cemoohan. Jika setiap orang yang berusaha menjalankan satu syariat justru dicibir karena belum sempurna, maka kita sedang mempersulit jalan orang menuju kebaikan. Padahal, bisa jadi jilbab yang hari ini masih dipakai menjadi pengingat yang kelak membawanya meninggalkan maksiat.

Di sisi lain, perempuan yang mengenakan jilbab juga perlu menyadari bahwa jilbab bukan sekadar identitas, tetapi amanah. Masyarakat memang sering mengaitkan penampilan dengan perilaku. Meski penilaian itu tidak selalu adil, seorang Muslim tetap dituntut menjaga akhlaknya agar tidak menimbulkan fitnah atau memperburuk citra ajaran Islam. Karena itu, memakai jilbab semestinya menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri, bukan merasa telah cukup hanya dengan penampilan.

Sikap yang paling bijak adalah memisahkan antara pelaku dan perbuatannya. Perbuatannya boleh dikritik, dosanya boleh diingatkan, tetapi pintu taubatnya jangan ditutup. Jangan sampai semangat mengoreksi berubah menjadi budaya menghakimi. Sebab, tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang akan lebih dahulu memperoleh ampunan Allah.

Pada akhirnya, setiap Muslim sedang berjuang melawan kelemahannya masing-masing. Ada yang sedang belajar menutup aurat, ada yang sedang belajar meninggalkan riba, ada yang sedang berusaha menjaga salat, ada pula yang masih berperang melawan hawa nafsunya. Tugas kita bukan memilih dosa siapa yang paling besar, melainkan saling menolong dalam kebaikan dan saling mengingatkan dengan hikmah. Sebab, Islam mengajarkan kesempurnaan sebagai tujuan, tetapi juga mengajarkan kasih sayang sebagai jalan menuju ke sana.*