JAKARTA, MAL – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino yang mulai aktif pada 2026 akan terus berlangsung hingga awal 2027.

Kondisi tersebut diprediksi menyebabkan musim kemarau lebih panjang, curah hujan menurun, serta meningkatkan risiko kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.

BMKG menyebut peluang El Nino mencapai kategori sangat kuat terus meningkat. Fenomena ini dipicu oleh kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang memengaruhi sirkulasi atmosfer sehingga pembentukan awan hujan di Indonesia berkurang. Akibatnya, sebagian besar wilayah akan mengalami cuaca lebih panas dan kondisi udara yang lebih kering.

Sekitar 70 persen wilayah Indonesia diperkirakan terdampak fenomena tersebut. Puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Juli hingga September 2026, dengan Agustus menjadi periode puncak di sebagian besar wilayah Indonesia. BMKG mencatat sebanyak 369 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

Wilayah yang diperkirakan mengalami puncak musim kemarau meliputi sejumlah daerah di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua.

Sementara itu, daerah yang diprediksi paling awal dan paling berat mengalami tekanan kekeringan meliputi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Dampak El Nino selanjutnya diperkirakan meluas ke Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, serta Sulawesi Selatan.

BMKG juga mengingatkan tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Enam provinsi yang masuk kategori berisiko tinggi yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah telah menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu menjaga ketersediaan air di sejumlah wilayah serta mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan.

BMKG bersama para peneliti juga mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan dengan menjaga ketersediaan air bersih, mencegah kebakaran hutan dan lahan, mengantisipasi dampak terhadap sektor pangan, air dan energi, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan cuaca ekstrem.

Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah rawan terdampak, diminta terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG agar dapat melakukan langkah antisipasi sejak dini.